Tak ada yang mengatakan bahwa menjadi orang tua itu akan mudah. Pun ketika anak beranjak remaja, yang sebetulnya sudah tidak merepotkan orang tua lagi dibanding balita. Anda mungkin akan kaget ketika menyadari bahwa Anda tak lagi jadi sosok yang paling mereka inginkan. Ibu mungkin masih tetap dekat dengan anak (karena banyak kebutuhan remaja yang masih dibantu ibu), namun hubungan dengan ayah bisa merenggang karena kurangnya waktu bersama. Hal ini rentan menimbulkan gesekan, apalagi jika ayah dan remaja tidak sepaham tentang sejumlah hal.

Dari survei yang dilakukan Skata bulan Oktober 2020 lalu terhadap remaja usia 12-18 tahun, diketahui bahwa selain sibuk bekerja, penyebab tidak dekatnya ayah dan anak adalah adanya sifat dari ayah yang membuat mereka tidak nyaman bercerita. Mungkin Anda para ayah bisa menebak, apa saja kira-kira sifat yang tidak disukai remaja dari sosok ayah dengan cara mengingat kembali masa remaja Anda. Berikut adalah hal yang tidak disukai remaja dari ayah, beserta penjelasan mengapa ayah cenderung bersikap demikian dan cara mengantisipasi kejadian serupa.

"Terkadang, apa yang kita lakukan dengan semaksimal mungkin bagi Ayah masih kurang" 

(Alia*, 17 tahun)

Bayangkan saja, anak mana yang tidak sedih ketika kerja kerasnya tidak diapresiasi? Dalam kasus di atas, sang ayah mungkin perfeksionis. Meski tujuannya baik (misal agar anak selalu berusaha maksimal), perfeksionis ternyata lebih banyak sisi negatif daripada positifnya. Menurut Paul Hewitt, Ph.D., pakar perfeksionisme dari University of British Columbia, meminta remaja untuk selalu sempurna dapat mengikis konsep diri mereka, membuat mereka takut gagal, dan memiliki amarah yang terpendam. 

Mengapa bisa seorang ayah begitu perfeksionis pada anaknya? Ternyata, orang tua perfeksionis merasa bahwa identitas anak mereka adalah identitas mereka. Sehingga, jika anak gagal, mereka pun merasa gagal, pun sebaliknya. 

Jadi, yuk sadari bahwa remaja memiliki prosesnya sendiri. Jangan lupa, berikan apresiasi atas usahanya. Beri kritik membangun dengan cara yang tanpa harus menghilangkan kepercayaan dirinya.

"Karena jika ayah memutuskan suatu hal, Ayah akan memutuskannya sendiri tanpa berpikir panjang"

(Zahra*, 15 tahun)

Remaja adalah fase saat seorang anak mulai belajar mandiri, termasuk dalam mengambil keputusan. Memang benar, otak remaja belum sempurna berkembang sehingga pengambilan keputusan terkadang tidak melihat efek jangka panjang. Ini yang membuat ayah kerap “turun tangan” dengan maksud melindungi remaja dari hal yang tak diinginkan atau sebaliknya, menunjukkan remaja “keputusan terbaik”. Apalagi, jika remaja beberapa kali terbukti melakukan hal berisiko. Namun, tanpa adanya komunikasi, keputusan terbaik itu bisa memicu terjadinya hal yang lebih buruk. 

Jadi bagaimana cara yang tepat dalam mengambil keputusan? Baca di sini

“Karena Ayah sering bentak-bentak aku”

(Dilan*, 15 tahun)

Amarah tidak harus disalurkan lewat bentakan. Anda yakin remaja menangkap pesan Anda, bukan fokus pada amarah Anda? Ia mungkin kapok mengulang kesalahan yang sama, namun “kapok” juga dekat-dekat dengan ayahnya. Di samping itu, sebuah penelitian dari University of Michigan menunjukkan bahwa penggunaan bentakan atau kata-kata kasar untuk mendisiplinkan remaja malah bisa memperburuk situasi. Efeknya pada remaja beragam, mulai dari gejala depresi hingga munculnya perilaku agresif seperti vandalisme. Yang mengejutkan, efek ini ternyata sama negatifnya dengan “mendisiplinkan” secara fisik.

Tak ada salahnya belajar cara bicara yang baik untuk menyatakan ketidaksetujuan Anda. Fokus pada kesalahan yang ingin dikoreksi, gunakan i-message, jangan lupa cari solusi bersama.   

"Karena Ayah kadang tidak mengerti perasaan anak"

(Keyza*, 13 tahun)

Berbeda dengan wanita yang bisa lega ketika menceritakan masalahnya, pria fokus pada solusi. Seorang ayah bisa jadi menggunakan kacamata ini saat menghadapi curhatan anaknya. Misal, seorang teman baik sang remaja putri menyebarkan rahasianya ke teman-teman lain. Ayah mungkin langsung memberi solusi, “Ya nggak usah temenan sama dia. Cari teman lain, masih banyak kan.”

Kalimat ini tidak membuat ia merasa dimengerti. Baginya, sang ayah terkesan meremehkan situasi “genting” yang ia hadapi. 

Jadi, harus bagaimana? Tahan dulu untuk beri solusi ataupun nasehat hikmah. Pertama, validasi emosinya alias mengakui bahwa kesedihan yang ia rasakan itu wajar. Kalimat seperti, ”Nyebelin memang ya, punya teman yang nggak bisa dipercaya. Kamu pasti kecewa banget,” akan membuat remaja merasa dimengerti. Mereka pun akan bercerita lebih banyak. Saatnya Anda mendengarkan dengan perhatian. Tawarkan mencari solusi bersama sebagai penutup sesi curhat.  

Masih banyak lagi sifat ayah yang tidak disukai remaja yang muncul dalam hasil survei, seperti ayah pendiam, terlalu tegas, komunikasinya terlalu formal, atau kurang pintar menanggapi hal tertentu. Jika dapat dirangkum, kurang tepatnya cara berkomunikasi adalah penyebab umumnya.

Agar bisa berkomunikasi dengan lebih baik dengan remaja (dan membuatnya lebih dekat dengan Anda para ayah), unduh versi digital Buku 1001 Cara Bicara Orangtua dengan Remaja di sini.

 

  

(*) bukan nama sebenarnya

 

 

 

 



Tanya Skata