Saat anak perempuan beranjak remaja, Anda mungkin akan menemukan perubahan. Tak hanya dari segi fisik, namun juga cara ia berinteraksi dengan kedua orang tuanya, khususnya sang ayah. Dalam survei yang diadakan Skata pada remaja usia 12-18 tahun, diketahui bahwa salah satu hal yang membuat remaja putri tidak dekat dengan sosok ayah adalah karena perbedaan jenis kelamin. 

Anna contohnya, yang kini berusia 13 tahun. Dulu, Anna adalah ‘anak Ayah’. Segala urusan, pasti larinya ke Ayah. Anna tidak segan bercerita tentang apapun ke Ayah, termasuk menghujani ayahnya dengan peluk dan cium. Namun, perubahan fisik dan psikis saat pubertas mengubah hal tersebut. Anna yang mulai “naksir” lawan jenis mendadak malu bercerita pada Ayah, pun mulai canggung memberi pelukan. Untungnya, sejak awal Ayah selalu terlibat dalam urusan pengasuhan sehingga tak sulit mencari cara agar Anna tak lagi malu bercerita dan kembali menjadi ‘anak Ayah’ yang manja. Anna pun tumbuh menjadi anak yang percaya diri dan bertanggung jawab. Ini tentu menjadi idaman para orang tua. 

Pertanyaannya kemudian, bisakah semua ayah berlaku yang sama? Adakah pengaruh ayah terhadap pembentukan karakter anak? 

Dalam sebuah penelitian dari North American Journal of Psychology ditemukan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan sangat penting dalam tumbuh kembang anak, terutama anak perempuan. Bagaimana cara Ayah berinteraksi dan berkomunikasi memengaruhi pembentukan karakter anak dalam kepercayaan diri, kepuasan diri, dan tekanan psikologis mereka. Ini semua bisa terwujud, asalkan Ayah bisa.. 

Terlibat dalam kegiatan remaja 

Walau terkadang sulit untuk bisa berinteraksi dengan anak perempuan di kala remaja, namun keterlibatan ayah di masa ini justru sangat penting. Cari tahu apa kesukaan remaja putri Anda lalu berusaha ikut serta dalam kegiatan. Bermain game kesukaannya bersama-sama, menemaninya antre membeli tiket konser artis KPop favoritnya, atau mengantarnya setiap kali ada pertandingan dance menunjukkan padanya bahwa Anda peduli dan mendukung. Tak hanya untuk meningkatkan kuallitas hubungan,  keterlibatan ayah dalam aktivitas remaja terbukti juga bisa menurunkan risiko penyalahgunaan alkohol dan pelecehan seksual. Selain itu, remaja yang memiliki kedekatan dengan ayah mempunyai kontrol dan percaya diri, kemampuan hidup serta kompetensi sosial yang lebih baik dibandingkan mereka yang tidak dekat dengan ayahnya. 

Selalu hadir saat remaja butuhkan 

Masa remaja merupakan masa di mana anak kerap merasa labil dan tidak percaya diri. Meski terlihat cuek dan “kuat”, mereka sebenarnya sangat membutuhkan Anda. Saat ia sedih karena diejek temannya, cemas karena takut tak lulus ujian, atau mungkin ketika berhasil terpilih mewakili sekolah untuk kejuaraan olimpiade sains, Anda lah yang pertama kali terbersih di pikirannya. Maka, berusahalah untuk selalu hadir saat remaja butuhkan, baik secara fisik maupun psikis, secara tatap muka atau lewat teknologi. 

Bertanggung jawab akan semua kebutuhan remaja 

Ya, ayah bertanggung jawab atas kesejahteraan anak. Tak hanya sekedar memenuhi kebutuhan utama seperti sandang, pangan, dan papan secara finansial, Ayah juga diharapkan untuk terlibat dalam sejumlah pengambilan keputusan penting terkait anak seperti masalah pendidikan dan kesehatan. Jangan lupakan kebutuhan emosional remaja, dimana kehadiran, perhatian, dan kasih sayang Anda akan sangat berarti baginya.

Ketika Ayah bisa terlibat secara penuh pada pengasuhan anak, remaja akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, puas akan dirinya sehingga lebih mudah merasa bahagia dan tidak merasa kekurangan. Selain itu, pentingnya kedekatan ayah dan anak bisa secara signifikan mengurangi risiko stres dan masalah psikologis di kemudian hari terutama yang berhubungan dengan kecemasan dan depresi. 

Jika masih merasa bingung memahami anak perempuan yang beranjak remaja dan cara bicara yang sesuai dengan usia remaja, unduh versi digital Buku 1001 Cara Bicara Orangtua dengan Remaja di sini