Walaupun tidak termasuk penyakit menular, asma merupakan penyakit kronis yang tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tapi juga pada anak-anak. Data Riset Kesehatan Dasar di Indonesia pada tahun 2013 mencatat sekitar 9,2% anak berusia 0-14 tahun terkena asma. Sementara, data WHO mencatat bahwa di tahun 2015 terjadi sekitar 383.000 kematian akibat asma.

Asma merupakan penyakit yang terjadi akibat peradangan kronis yang dapat membuat bentuk saluran nafas berubah menjadi lebih menyempit. Proses ini bahkan dapat terjadi jauh sebelum gejala asma muncul. Gejala asma bisa sangat ringan tapi juga bisa berat, bahkan sampai mengalami gagal napas.

Bagaimana cara mengenali asma pada anak?

Selama ini, napas berbunyi (mengi) seringkali dianggap sebagai gejala tunggal penyakit asma. Padahal pada anak, gejala mengi tidak hanya terjadi pada asma namun juga dapat disebabkan oleh penyakit lain, misalnya infeksi/peradangan pada bronkiolus. Selain mengi, beberapa gejala asma pada anak antara lain:

  • Sering batuk atau batuk tanpa henti. Umumnya, batuk yang terjadi tidak disertai dahak (batuk kering) dan memberat pada malam hari. 
  • Sulit bernapas atau sesak napas.
  • Nyeri dada seperti tertekan.
  • Anak mudah lelah bila beraktivitas. Pada anak yang lebih kecil, hal ini menyebabkan akan lebih sering minta digendong. 

Umumnya, gejala ini akan muncul bila ada pencetus yang mendahului. Jadi, apabila anak mengalami gejala tersebut, memiliki riwayat alergi, dan terdapat riwayat asma pada orang tua atau saudara kandung, Anda perlu curiga anak mengalami asma.

Pengobatan asma pada anak

Sayangnya, hingga saat ini asma belum dapat disembuhkan. Pengobatan pada asma bertujuan agar penyakit terkendali (terkontrol) dan jarang kambuh. Golongan obat pada asma terdiri atas obat pengendali untuk mencegah terjadinya serangan atau kekambuhan, serta obat pereda yang digunakan saat terjadi serangan asma. Akan lebih baik jika obat asma dapat dihirup (obat inhalasi) karena efek sampingnya lebih minimal dibanding jika obat ditelan. Di sinilah pentingnya kerja sama dokter dan orang tua untuk berlatih menggunakan alat/obat agar tidak canggung melakukannya saat di rumah. Penggunaan alat/obat yang tidak benar akan mempengaruhi penyerapan obat dan tujuan terapi tidak akan tercapai.

Dilema kerap menghampiri orang tua jika anak ternyata perlu mengonsumsi obat asma dalam jangka panjang. Pengobatan jangka panjang bukan untuk membuat anak menjadi tergantung dengan obat, melainkan agar anak dapat hidup “normal”. Bila anak sudah dapat diajak komunikasi aktif, orang tua perlu menginformasikan bahwa jika obat tidak digunakan secara teratur, asma anak akan sering kambuh sehingga tidak bisa bermain dengan teman dan akan jarang masuk sekolah. Kemudian, pada anak yang lebih besar, penting juga untuk mengajarkan anak mengenali gejala yang muncul dan menghindari pemicu kekambuhan. 

Pemantauan respon pengobatan terus dilakukan tiap 6-8 minggu. Jika dalam pemantauan kondisi anak terkontrol (tanpa kekambuhan) selama 8-12 minggu, anak cukup diberi obat pereda asma. Obat ini wajib tersedia di rumah sebagai antisipasi saat anak mengalami serangan asma.

Mencegah asma kambuh

Selain menerapkan pola hidup sehat dengan makan maknanan bergizi, orang tua perlu melakukan beberapa hal di bawah ini agar asma anak tidak kambuh.

  • Hindarkan anak dari paparan asap rokok 
  • Hindarkan anak dari makanan atau minuman yang mencetuskan alergi anak
  • Hindari penggunaan karpet berbulu
  • Hindari ruangan atau tempat dengan perubahan suhu mendadak
  • Jaga kebersihan lingkungan dan tempat tinggal dengan ventilasi dan pencahayaan sinar matahari yang cukup serta bebas dari debu dan tungau
  • Jauhkan anak dari orang atau anggota keluarga yang sakit karena penularan infeksi dapat mencetuskan serangan asma
  • Ingatkan agar anak berolahraga dengan durasi dan intensitas sesuai kemampuan dirinya.

 

 



Tanya Skata