Tidak biasanya, Anda menemukan darah pada vagina setelah berhubungan seks. Padahal, jadwal menstruasi Anda masih lama. Apa penyebabnya?

Vagina berdarah setelah berhubungan seks sebenarnya merupakan hal yang normal. Umumnya, hal ini disebabkan oleh kondisi vagina yang kering. Faktor-faktor yang menyebabkan vagina kering antara lain:

Kurang foreplay

Pemanasan (foreplay) merupakan bagian yang tidak terlepas dari rangkaian hubungan seksual, tapi sering terlupakan. Saat foreplay, vagina akan memproduksi cairan lubrikasi yang agar penis lebih mudah penetrasi. Jika foreplay tidak maksimal (atau bahkan tidak dilakukan), hubungan seks saat vagina masih kering dapat menyebabkan lecet hingga berdarah. Selain membantu melumasi vagina, foreplay juga dapat meningkatkan keintiman. 

Kelelahan pada fase menyusui

Faktor kelelahan mengurus anak, apalagi tidur yang kurang saat bayi masih menyusu, juga semakin mempengaruhi produksi lendir vagina. Hubungan seksual yang dilakukan saat wanita sudah merasa lelah, sementara pasangan masih “terlalu semangat” akan menimbulkan perdarahan vagina. Oleh karena itu, hubungan seksual tetap harus berdasarkan persetujuan kedua belah pihak.

Efek samping obat

Obat asma atau obat flu dapat membuat efek samping vagina menjadi kering. Nantinya, kondisi vagina akan kembali setelah obat dihentikan. Akan tetapi, jika penghentian obat tidak memungkinkan, konsultasikan ke dokter agar diberi lubrikan untuk membantu melumasi vagina.

Baca: Mengenal Seluk Beluk Pelumas

Kebiasaan menggunakan pembersih kewanitaan

Cairan pembersih kewanitaan dapat menyebabkan vagina kering pada sebagian wanita. Hentikan kebiasaan ini, bila memang memberikan efek samping yang membuat Anda tidak nyaman.

Perimenopause atau menopause

Berkurangnya estrogen pada saat perimenopause (masa transisi menjelang menopause) atau menopause akan menyebabkan vagina lebih kering. Lakukan foreplay lebih lama untuk mencegah vagina berdarah setelah saat berhubungan seks.

Kapan vagina berdarah setelah berhubungan dikatakan berbahaya?

Keluarnya darah perlu dicurigai sebagai tanda bahaya jika:

1. Terjadi perdarahan masif 

Perdarahan masif yaitu perdarahan aktif yang bentuknya menggumpal atau sulit berhenti. Perdarahan masif bisa disebabkan oleh:

- Cedera/trauma

Idealnya, hubungan seksual harus mendapat persetujuan bersama, walaupun sudah dalam ikatan pernikahan. Hubungan seksual yang dilakukan dengan terpaksa apalagi disertai kekerasan dapat menyebabkan pendarahan masif karena mencederai vagina atau saluran reproduksi yang lebih dalam. Kunci keharmonisan terletak pada komunikasi. Sampaikan pada pasangan jika anda belum siap dan berhenti sejenak jika terasa nyeri. Laporkan diri ke pihak berwenang jika sudah sampai terjadi tindakan kekerasan.

Baca: Alami KDRT, Ini Cara Meminta Pertolongan

- Polip 

Walaupun tergolong jinak, adanya polip pada serviks atau endometrium dapat menyebabkan vagina berdarah setelah hubungan seksual.

- Kanker

Kanker vagina dan endometrium dapat menyebabkan vagina berdarah setelah berhubungan seksual. Anda perlu berhati-hati jika ini terjadi setelah masa menopause karena risiko kanker meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Lakukan deteksi dini dengan melakukan Pap smear atau IVA (Inspeksi Visual Asetat) minimal 3 tahun sekali sejak aktif secara seksual. 

2. Setelah pemasangan IUD

Bila setiap melakukan hubungan seksual vagina selalu keluar darah (walau hanya bercak) apalagi disertai nyeri saat penetrasi, segera periksakan segera ke dokter atau bidan untuk memastikan posisi IUD tidak bergeser. 

3. Saat hamil

Sebenarnya, hubungan seksual tidak dilarang selama kehamilan. Namun, bila setelah hubungan seksual terjadi pendarahan, ibu hamil perlu waspada terutama jika merasa nyeri atau kram di perut bawah. Segera lakukan kontrol kehamilan untuk mengetahui kondisi janin.

4. Infeksi dan atau peradangan

Vagina yang berdarah setelah hubungan seksual perlu diwaspadai bila ada gejala penyerta, antara lain:

  • rasa nyeri di sekitar kelamin, selangkangan, atau perut bawah saat hubungan seksual
  • panas atau seperti terbakar
  • adanya rasa gatal
  • disertai meriang atau demam
  • riwayat nyeri saat berkemih
  • riwayat keputihan abnormal

Berbagai gejala di atas merupakan tanda infeksi atau peradangan. Sebaiknya tunda hubungan seksual apabila Anda dicurigai atau sudah terdiagnosa mengalami infeksi pada vagina atau serviks karena dapat menyebabkan vagina berdarah setelah berhubungan seks. Begitu pula jika Anda mengalami peradangan panggul. Jika diabaikan, infeksi vagina atau serviks juga dapat menyebabkan komplikasi peradangan panggul, lho. 

Nah, kini Anda bisa menilai apakah darah yang keluar setelah hubungan seks masih wajar atau perlu diperiksakan. Jangan lupa komunikasikan pada pasangan jika penyebabnya adalah kurang pemanasan, agar hubungan seks berikutnya lebih nyaman dan sama-sama bisa dinikmati.

 

 

 

 

 

 



Tanya Skata