Di Indonesia, orang tua yang tinggal serumah dengan anak dan menantu adalah hal yang biasa. Alasannya bisa karena faktor ekonomi, misal anak belum punya rumah, bisa juga karena orang tua terlalu tua untuk bisa hidup sendiri dengan aman. Apapun itu, menyatukan dua keluarga dalam satu atap tidak hanya membutuhkan adaptasi secara mental, namun juga secara finansial. Bagaimana membagi pengeluaran dengan adil? Bagaimana jika orang tua lebih mapan dan sebaliknya? Kurang peka, bisa-bisa masalah siapa-bayar-apa ini menjadi sumber konflik. Agar hidup seatap bisa dijalani dengan damai, begini cara atur keuangan untuk Anda yang tinggal dengan orang tua.

Pertama, rencanakan keuangan keluarga dengan pasangan.

Tinggal serumah maupun terpisah dengan orang tua, Anda dan pasangan harus membicarakan secara terbuka mengenai kondisi keuangan masing-masing. Kemudian, rencanakan keuangan keluarga dengan menentukan tujuan finansial dan alokasi pendapatan. Tujuan finansial antara lain: membeli rumah, membeli kendaraan, dana pendidikan anak, liburan, perjalanan ibadah, dana pensiun. Dengan memiliki tujuan finansial, Anda akan lebih mudah mengalokasikan pendapatan tiap bulannya.

Kedua, tentukan berapa besar kontribusi bulanan.

Dari alokasi di atas, Anda bisa mendiskusikan dengan pasangan berapa besar kontribusi yang bisa diberikan pada mertua setiap bulannya, termasuk dalam bentuk apa. Bisa uang tunai untuk belanja bahan makanan, membayar tagihan bulanan seperti listrik dan internet, atau kebutuhan rumah tangga rutin lain seperti gas dan air minum. Jika Anda dan pasangan sama-sama berkerja, diskusikan pula dari penghasilan siapakah kontribusi tersebut akan diberikan. Bisa juga, masaing-masing memberi kontribusi sesuai kemampuan.

Ketiga, sampaikan keputusan tersebut pada orang tua.

Beberapa budaya dalam keluarga di Indonesia menganggap tabu perbincangan masalah keuangan dengan orang tua, khususnya ketika seseorang telah berkeluarga. Uang bulanan yang diberikan pada orang tua bisa dianggap tak cukup, namun tidak diutarakan secara langsung. Karena itu, sampaikan dengan terbuka apa saja yang Anda dan pasangan sanggup berikan untuk membantu menutup pengeluaran saat tinggal dengan orang tua, serta alasan yang menyertainya. Orang tua mungkin tahu nominal gaji Anda, namun tidak tahu bahwa Anda memiliki cicilan mobil, premi asuransi, tabungan pendidikan anak yang harus dipenuhi sehingga kontribusi Anda dianggap terlalu kecil. Terbuka tentang alokasi pendapatan Anda bisa membuat orang tua paham. 

Keempat, jangan “pelit” berbagi kebahagiaan

Membiayai sebagian kebutuhan orang tua (atau malah sepenuhnya) bukan berarti tuntas kewajiban. Jangan lupa, menjaga kesehatan mental orang tua sama dengan menjaga kesehatan mereka. Jika Anda berakhir pekan atau berlibur, tawarkan untuk ikut serta. Jika kegiatan rekreatif Anda berbeda selera dengan orang tua, buat sesi khusus untuk mereka, atau beri mereka hadiah di luar uang bulanan. Hal-hal sederhana dan perhatian di atas bisa membuat suasana hati orang tua lebih baik, Anda pun bahagia karena bisa berbagi dan berbakti. 

Mengingat setiap keluarga memiliki pola komunikasi yang berbeda-beda, Anda bisa lebih jeli melihat kepribadian orang tua dan bagaimana cara yang nyaman untuk berbicara masalah keuangan dengan mereka. Yang penting, segera bicarakan jika ada hal terkait keuangan yang berpotensi menjadi masalah agar tidak berkembang menjadi konflik.

 



Tanya Skata