Tak banyak keluarga yang menyisihkan anggaran untuk dana darurat. Kebanyakan, penghasilan dialokasikan hanya untuk konsumsi, cicilan, dan tabungan. Padahal, situasi seperti pandemi Covid-19 saat ini membutuhkan digunakannya dana darurat apalagi jika bisnis mendadak lesu, tempat kerja memberlakukan pemotongan gaji, atau bahkan terkena PHK. Jika kondisi darurat membuat kebutuhan sehari-hari tak terpenuhi, jual aset hingga pinjam uang pun terpaksa dilakukan. Yang lebih berbahaya, apabila Anda terdesak untuk mencoba pinjaman online dan gagal bayar. Seram kan? Kalau begitu, yuk mulai persiapkan dana darurat sebelum terlambat.

Apa dan untuk apa sih dana darurat?

Dana darurat adalah sejumlah dana yang dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan mendadak yang tidak dapat ditutup oleh pemasukan. Tujuannya tentu saja agar kondisi keuangan tetap stabil untuk sementara meskipun pemasukan berkurang atau hilang.

Berapa banyak dana darurat yang harus dimiliki?

Kebanyakan perencana keuangan menyarankan untuk menyiapkan dana darurat sebesar 3-6 kali pengeluaran bulanan. Asumsinya, jika pemasukan mendadak hilang, maka Anda masih dapat bertahan hidup selama 3-6 bulan sambil mencari pekerjaan baru atau membuka usaha. 

Ingat, bukan 3-6 kali gaji ya, mengingat tidak semua orang menghabiskan gajinya untuk pengeluaran. Yang termasuk ke dalam pengeluaran bulanan antara lain konsumsi harian, tagihan, cicilan, maupun asuransi. Untuk dana darurat minimal, kalikan total pengeluaran bulanan dengan angka 3. 

Namun, bisa saja sebuah keluarga membutuhkan dana darurat yang lebih besar, seperti 8-12 kali pengeluaran bulanan. Hal ini tergantung dari jumlah pencari nafkah dalam keluarga, jumlah anggota keluarga, gaya hidup, serta kondisi kesehatan anggota keluarga. Adanya lansia yang tak memiliki asuransi ataupun single mom bisa membuat jumlah dana darurat lebih besar dari kondisi pada umumnya. Begitu juga dengan para freelancer maupun wirausahawan.

Saya selalu menyisihkan uang per bulan untuk ditabung. Apakah ini bisa dinggap dana darurat?

Meskipun sama-sama disisihkan per bulan dan tidak diotak-atik, ada perbedaan antara tabungan dan dana darurat. Prita Hapsari Ghozie, perencana keuangan dari ZAP Finance, mengungkapkan bahwa orang biasanya sudah tahu tabungan nantinya akan digunakan untuk apa. Bisa untuk mengganti gadget, liburan, atau renovasi rumah. Namun, dana darurat penggunaannya masih misteri. Satu lagi, saat Anda menggunakan dana darurat bisa dipastikan Anda merasa tidak bahagia karena dana tersebut terpaksa digunakan karena terkena musibah. Sebaliknya, Anda merasa senang bila akhirnya berhasill mengganti gadget setelah menabung sekian lama.

Bagaimana cara paling aman menyimpan dana darurat?

Yang jelas, dana darurat jangan sampai diotak-atik kecuali dengan alasan darurat. Menyimpannya dalam rekening terpisah bisa menjadi solusi. Pastikan pula dana darurat mudah dicairkan kapan saja Anda membutuhkannya. Jika ingin menginvestasikan dana darurat, pilih yang aman dan risikonya rendah seperti rekening, deposito, emas, dan reksadana pasar uang. Sementara itu, menyimpannya dalam bentuk saham dan obligasi akan menyulitkan pencairan dana dengan segera. Risikonya pun tinggi karena harga saham fluktuatif.

Bagaimana jika pemasukan “habis” membayar utang dan uang sekolah anak?

Melunasi utang seperti cicilan memang harus menjadi prioritas utama, pun biaya sekolah anak yang tak bisa ditunda. Namun, dana darurat tetap bisa disisihkan meskipun itu hanya 50 ribu rupiah per bulan atau lewat tabungan emas yang kini bisa dimulai hanya dengan 5 ribu rupiah per bulan, seperti layanan dari Pegadaian Digital.

Jadi, harus mulai dari mana untuk memiliki dana darurat?

Pertama, periksa kondisi keuangan Anda. Berapa besar penghasilan, pengeluaran, apa saja pos yang masih bisa dihemat sehingga bisa dialihkan untuk mengumpulkan dana darurat.

Kedua, melihat apakah ada pemasukan tahunan yang bisa digunakan untuk mempercepat terkumpulnya dana darurat. Misal, hasil mengontrakkan rumah, THR, atau bonus tahunan. Menjual aset seperti perhiasan maupun properti juga bisa menjadi solusi.

Ketiga, jangan tunda. Teori pengaturan keuangan menyebutkan bahwa 10% gaji harus disisihkan untuk dana cadangan atau darurat. Kalau bagi Anda terlalu banyak, sisihkan semampu Anda meskipun sedikit, kemudian jaga konsistensinya.

 

 

Foto diambil dari sini.



Tanya Skata