Dibandingkan dengan penyakit degeneratif semacam diabetes dan penyakit jantung, osteoporosis terlihat “tidak berbahaya”. Padahal, data dari WHO menunjukkan bahwa 50% kejadian patah tulang panggul yang berujung pada kecacatan disebabkan oleh osteoporosis. Osteoporosis adalah pengeroposan tulang, yaitu kondisi ketika kepadatan tulang berkurang sehingga terdapat banyak rongga di dalamnya. 

Apa penyebabnya?

Tulang memiliki kemampuan untuk senantiasa memperbarui diri. Ketika sel-sel tulang yang lama telah rusak, namun kemampuan tulang untuk menggantinya dengan sel-sel baru telah berkurang, terjadilah osteoporosis. Kemampuan regenerasi tulang ini biasanya mulai menurun setelah usia 30 tahun.

Selain disebabkan oleh menurunnya kemampuan regenerasi tulang, osteoporosis juga dapat disebabkan oleh:

1. Menopause

Saat menopause, hormon estrogen yang selama ini mengatur siklus reproduksi wanita berhenti diproduksi oleh tubuh. Hormon ini ternyata juga berperan dalam proses pembentukan tulang bersama dengan kalsium dan vitamin D3 sehingga hilangnya estrogen mampu menyebabkan osteoporosis. Inilah mengapa wanita 4 kali lebih berisiko terkena osteoporosis daripada pria.

2. Merokok

Asap rokok menghasilkan banyak radikal bebas yang menyerang sistem pertahanan tubuh. Hal ini memengaruhi kinerja sel, organ, dan hormon yang membantu menjaga kesehatan tulang. Merokok dapat meningkatkan kadar hormon kortisol yang memicu pengeroposan tulang, sekaligus menghambat kinerja hormon kalsitonin yang membantu membangun tulang. Pembuluh darah pun lebih rapuh, yang membuat patah tulang tidak dapat sembuh sempurna.

3. Alkohol

Alkohol mengganggu kinerja pankreas sehingga penyerapan kalsium dan vitamin D tidak maksimal. Hati pun tak dapat mengaktifkan vitamin D yang dibutuhkan untuk menyerap kalsium.

4. Kurang berat badan

Jika berat badan berlebih membahayakan sendi lutut, kurang berat badan memperbesar risiko kurangnya kepadatan tulang. Sebuah penelitian yang dimuat dalam pubmed.gov menunjukkan bahwa 24% wanita yang memiliki indeks massa tubuh di bawah 18,5 memiliki kepadatan tulang yang rendah. Hal ini mampu menyebabkan osteoporosis.

5. Malabsorpsi

Malabsorpsi adalah ketidakmampuan usus menyerap nutrisi di dalam makanan. Biasanya, malabsorpsi terjadi pada mereka yang menderita penyakit tertentu seperti Chron’s disease (peradangan sistem pencernaan yang berlangsung dalam jangka panjang) dan Celiac disease (sistem imun menyerang usus kecil karena konsumsi makanan bergluten).

Selain kelima faktor di atas, osteoporosis juga bisa terjadi pada mereka yang mengonsumsi obat yang mempengaruhi kerja hormon, menjalani operasi saluran cerna, tidak bergerak dalam jangka waktu lama seperti bed-rest, serta memiliki riwayat osteoporosis dalam keluarga.

Adakah gejalanya?

“Awalnya tidak ada gejala, karena itu disebut silent disease. Kalau osteoporosisnya sudah cukup berat, terjadi perubahan postur. Tambah kecil, pendek, bungkuk karena struktur tulang punggung menjadi seperti spons (berongga),” jelas dr. Paulus Ronald Hibono, SpOT dari Brawijaya Health Care. Osteoporosis juga bisa baru diketahui setelah orang tersebut mengalami patah tulang.

Dapatkah osteoporosis diobati?

Osteoporosis dapat diobati dengan pemberian obat untuk mengembalikan massa tulang. Pengobatan ini berlangsung dalam jangka panjang, bahkan bertahun-tahun. Itupun peningkatan massa tulang rata-rata hanya 2% per tahun, maksimal 5 % per tahun. Jadi, sebaiknya cegah selagi mampu.

Adakah cara untuk mengetahui tingkat kepadatan tulang?

Kepadatan tulang dapat diukur melalui DEXA scan dengan cara mengarahkan sinar X ke tulang panggul dan tulang belakang. Gelombang ultrasound juga dapat digunakan untuk mengetahui kepadatan massa tulang di pergelangan kaki, meskipun pengukuran paling akurat tetap pada bagian pinggul, punggung, atau pergelangan tangan. DEXA scan perlu dilakukan pada wanita usia 65 tahun ke atas atau usia 60 tahun yang rentan mengalami patah tulang. 

Bisakah osteoporosis dicegah?

Meskipun faktor genetis menentukan karakter tulang seseorang, risiko osteoporosis dapat dikurangi dengan rutin berolahraga 150 menit/minggu (tidak termasuk jalan kaki dan pekerjaan domestik), memastikan tubuh cukup kalsium untuk menjaga kesehatan tulang dan vitamin D untuk membantu penyerapan kalsium, serta menghindari rokok dan alkohol.

Berapa banyak konsumsi kalsium untuk mencegah osteoporosis?

Wanita pada umumnya membutuhkan 1200-1300 mg kalsium per hari sementara ibu hamil membutuhkan 2000 mg kalsium per hari. Makanan sehari-hari dengan gizi seimbang seharusnya bisa memenuhi kebutuhan kalsium harian pada usia produktif. Konsumsi makanan kaya kalsium seperti brokoli, ikan teri, maupun susu untuk mengurangi risiko osteoporosis. Pada ibu hamil, tambahan suplemen kalsium mungkin dibutuhkan.

Jika Anda masih memiliki pertanyaan seputar osteoporosis atau kesehatan tulang, konsultasi dengan dr. Paulus Ronald Hibono, SpOT dapat dilakukan setiap Selasa Rabu Sabtu 17.00-19.00 dan Kamis Jumat 10.00-12.00 di Brawijaya Hospital Antasari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Tanya Skata