Mudah lupa memang lazimnya terjadi pada lansia di atas 50 tahun karena adanya penurunan fungsi organ. Tapi, ternyata usia dewasa juga terkadang ‘pikun’ akan sesuatu. Walaupun pikun bukan menandakan Anda tua, namun jika otak tidak terlatih maksimal, mudah lupa  menjadi hal yang mungkin terjadi.

Sebenarnya, di usia berapa sih kita mengalami regresi memori dan bagaimana agar kita bisa menjaga kesehatan memori agar tidak mudah pikun baik di usia muda maupun usia lanjut?

Menurut dr. Irmia Kusumadewi, SpKJ(K) tak ada patokan usia kita mengalami regresi memori. Saat kita berusia lanjut (umumnya di atas 50 tahun) fungsi metabolik biasanya mulai terganggu jika ada salah kebiasaan makan, salah gerak fisik, sehingga membuatnya menjadi tidak bekerja secara maksimal. Saat fungsi metabolik terganggu, maka semua sistem berpotensi terganggu terutama fungsi kognitif yang berhubungan dengan otak dan memori.  

Lalu, mengapa kita jadi mudah lupa ya?

Regresi atau penurunan memori bisa terjadi jika ada perubahan neurotransmitter dan sel otak. Sehingga kemampuan mengingat menurun, membuat kita jadi mudah lupa. Ini bisa terjadi pada siapapun, baik lanjut usia maupun usia dewasa. Lazimnya terjadi karena kurangnya latihan pada otak. Bisa juga terjadi akibat penyakit Alzheimer atau (penyakit otak lain), diabetikus, atau penyakit yang menimbulkan gangguan pernafasan seperti kanker paru, TBC, asma, dan gangguan sirkulasi jantung. 

Tentunya, kita ingin memori dalam otak bisa tersimpan sempurna, dan digunakan maksimal bahkan di usia lanjut. Kita ingin tetap dapat mengingat masa-masa remaja untuk diceritakan pada anak cucu dan dapat terus bermain TTS tanpa harus mengecek kunci jawaban di masa tua. Jawabnya? Bisa. Dengan tetap mengasah kerja otak sejak dini. Ini caranya! 

Aktif secara fisik 

Dengan melakukan gerak aktif, selain baik untuk kinerja jantung, sirkulasi darah, mengontrol berat badan dan kesehatan mental, gerak aktif secara fisik juga bisa mengurangi risiko pikun di usia lanjut. Tak usah yang berat, namun lakukan secara konsisten dan meningkat perlahan. Mulai dari 10 menit per hari untuk melakukan peregangan tubuh, hingga melakukan gerakan aerobik seperti berjalan selama 150 menit, bersepeda atau jogging dan berenang. Saat pandemi, Anda tetap bisa melakukan aktivitas fisik secara konsisten lewat YouTube. Ganti suasana olahraga dengan eksplorasi ruangan di rumah Anda. 

Jaga asupan sehat

Ya, mulai tinggalkan kebiasaan buruk mengemil kentang goreng siap saji di antara jam makan. Apalagi, konsumsi makanan kemasan saat menonton serial TV favorit. Saatnya memperhatikan asupan makan Anda. Diet seimbang yang sehat bisa membantu menurunkan resiko pikun, kanker, diabetes, obesitas, stroke hingga penyakit jantung. Caranya: 

  • Makan setidaknya lima porsi buah dan sayur dalam sehari
  • Makan protein (seperti minyak ikan, kacang-kacangan, hati, telur atau daging) setidaknya dua kali dalam seminggu 
  • Batasi asupan gula, selalu cek kadar garam dalam makanan 
  • Kurangi makanan dengan lemak jenuh
  • Minum minimal 6-8 gelas (air putih, susu rendah lemak dan minuman bebas gula) dalam sehari

Latih kinerja otak 

Menjaga otak untuk aktif digunakan sangat penting untuk menjaga kesehatannya. Tantang diri melakukan olahraga otak secara regular untuk membentengi otak dari penyakit. Cari permainan atau sesuatu yang Anda suka, yang bisa menantang kinerja otak. Lakukan secara rutin. Studi yang dilakukan Alzheimer.org menemukan bahwa latihan kerja otak dengan mencoba (bukan mengulang) hal baru tiap harinya bisa meningkatkan kerja otak dan mengurangi resiko pikun. Misal:

  • Belajar untuk kualifikasi pendaftaraan siswa baru (seperti latihan tes potensi akademik, atau tes kualifikasi pegawai negeri). 
  • Belajar bahasa baru, saat kondisi normal tak ada salahnya untuk menambah kegiatan les bahasa. Namun, kala pandemi Anda juga bisa melakukannya via online lewat beragam aplikasi bahasa. Tetap seru! 
  • Bermain board games seperti puzzle, permainan kata (scrabble), teka teki silang, atau menjawab kuis via daring. Lakukan dengan tema berbeda tiap harinya. 
  • Membaca buku dan beri variasi tema. Misal, minggu ini tentang kisah romantis, minggu depan belajar sains fiksi, lalu lanjut dengan puisi. 

Terakhir yang terpenting, tetap jaga komunikasi dengan kerabat dan keluarga. Karena kesehatan mental, sanggup membuat diri terjaga dari stress sehingga sirkulasi darah ke otak berjalan dengan lancar. Selamat tinggal, pikun!  

 



Tanya Skata