Memiliki orang tua yang masih bisa bekerja di masa mereka sudah memiliki cucu tentu rasanya menyenangkan. Di hari biasa, mereka bisa beraktivitas di tempat kerja, sementara di akhir pekan bisa bermain bersama anak cucu. Namun, ketika masa pensiun tiba, Anda mungkin akan menghadapi perubahan sikap dari orang tua. Rutinitas dan lingkungan sosial yang selama ini turut memberi identitas mendadak hilang. Apalagi, jika orang tua Anda sebelumnya memiliki jabatan. Belum lagi masalah keuangan. Post-power syndrome pun bisa menyerang.

Dalam Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental Universitas Airlangga Tahun 2019 disebutkan bahwa post-power syndrome adalah kondisi dimana seseorang tak lagi memegang kekuasaan yang sebelumnya disandang oleh seorang pejabat atau pimpinan. Mereka yang mengalami post-power syndrome biasanya sulit menerima kenyataan bahwa mereka tidak lagi berkuasa dan kehilangan pengaruh. 

Sayangnya, perasaan ini terkadang tidak langsung disadari oleh orang tua yang mulai memasuki masa pensiun. Alih-alih, mereka mulai menunjukkan perubahan sikap seperti menjadi mudah uring-uringan, sedih, takut, cemas, dan bingung. Jika orang tua Anda berusia 60 tahun ke atas, post-power syndrome bisa diperburuk oleh proses penuaan pada lansia, seperti penurunan ketahanan tubuh. Fungsi motorik seperti fleksibilitas, kekuatan, kecepatan, sensitivitas indera, juga keseimbangan tubuh pun akan jauh berkurang. 

Bisakah post-power syndrome dicegah?

Penuaan dan masa pensiun memang tidak dapat dicegah, namun menyiapkan mental sedini mungkin untuk orang tua agar mampu beradaptasi lebih baik dengan kondisi pasca pensiun bisa dilakukan untuk menghindari terjadinya post-power syndrome. Menurut Djamaludin Ancok, Ph.D, profesor ilmu psikologi di UGM, post-power syndrome bisa dicegah dengan cara:

  1. Memunculkan optimisme bahwa dirinya berguna bagi keluarga dan masyarakat
  2. Menyiapkan sejumlah aktivitas yang berguna maupun hobi yang menghasilkan
  3. Menerima kenyataan bahwa menjadi tua tidak dapat dihindari sehingga tidak perlu bersedih dan menyesal
  4. Mendekatkan diri pada Tuhan agar jiwa tenang dan damai
  5. Tetap mawas diri terhadap berbagai masalah psikologis yang dihadapinya

Inilah mengapa banyak institusi dan perusahaan membekali karyawan mereka dengan pelatihan pra pensiun. Anda dan anggota keluarga lain pun bisa turut berkontribusi mencegah munculnya post-power syndrome pada orang tua baik menjelang lansia maupun pada lansia dengan cara: 

  1. Tetap menjaga sopan santun dan menghargai orang tua. Nampak sepele memang, namun hal tersebut dapat menimbulkan persepsi diri yang positif dan rasa percaya diri yang tinggi bagi lansia.
  2. Menjaga keharmonisan keluarga. Berapa banyak orang tua yang menjadi sakit-sakitan memikirkan anak-anaknya yang tidak akur, bahkan memiliki hubungan tak harmonis dengan dirinya sendiri.
  3. Memberi perhatian, pelayanan, dan perawatan fisik pada lansia. Tidak semua lansia butuh bantuan, namun memastikan mereka menjalani gaya hidup yang sehat bisa berkontribusi besar bagi kesehatan fisik dan mental mereka.

Meskipun demikian, tidak semua lansia mengalami post-power syndrome setelah memasuki masa pensiun. Bagi lansia yang memang sudah memiliki “bibit” masalah kekuasaan, post-power syndrome lebih rentan terjadi. Namun, ada juga yang menunggu-nunggu masa pensiun karena pada akhirnya mereka bisa menikmati hasil jerih payah puluhan tahun bekerja dan bisa memiliki waktu lebih banyak untuk hobi dan keluarga.

Kini, peran Anda sebagai anak untuk membantu orang tua mempersiapkan masa pensiun dengan baik dan memberikan mereka dukungan untuk melalui babak baru dalam kehidupan mereka.

 

 

 

 

 

 



Tanya Skata