“Suatu hari, Nenek saya datang ke rumah. Ibu bilang, Nenek akan tinggal sementara dengan kami. Saya heran, beliau biasa tinggal sendiri di rumahnya, bahkan masih aktif sebagai seorang profesor dan guru besar ilmu THT, juga sehari-hari praktik di rumah sakit. Ibu hanya menambahkan, nenek perlu ‘pengawasan’. Seiring berjalannya waktu, saya mulai menyadari perubahan yang terjadi Nenek. Beliau kerap bertanya pukul berapa, sudah waktunya shalat apa, dan bisa shalat wajib 2-3 kali dalam satu waktu. Hobinya mengisi TTS sudah tak semulus biasanya karena beliau kerap mencuri lihat kunci jawaban. Walaupun tidak pernah absen membaca Quran, bacaannya kini tak selancar biasanya. Beberapa kali nenek sering marah tanpa alasan dan penyebabnya tak masuk akal. Wajahnya seperti geram, tak murah senyum seperti dulu. Kami mulai berusaha memahami apa yang terjadi hingga satu waktu beliau berhenti dari tugas praktik yang sudah ia lakukan puluhan tahun lamanya sehingga penuh waktu ia berada di rumah. Ia mulai sering diam, tidak bergairah, sesekali marah, dan kerap mengulangi pertanyaan. Di situlah Ibu mulai menjelaskan bahwa nenek terkena Alzheimer, salah satu penyakit yang menyebabkan demensia.”  -Dian, 34 tahun

Apa itu demensia?

Demensia adalah sebuah kondisi mental yang menyebabkan penurunan kemampuan sehari-hari yang meliputi beberapa gejala, seperti:

  • Penurunan daya ingat 
  • Perubahan kemampuan berpikir 
  • Berkurangnya kemampuan menimbang dan memutuskan 
  • Menurunnya tingkat perhatian dan fokus 

“Demensia bukan penyakit spesifik, tapi merupakan kumpulan gejala yang diakibatkan oleh gangguan otak,” jelas dr. Irmia Kusumadewi, SpKJ(K). Mereka dengan demensia memiliki gangguan signifikan terkait aktivitas normal dan hubungan sosialnya. Demensia juga membuat mereka kehilangan kemampuan menyelesaikan masalah dan mengontrol emosi. Jadi, tak heran jika terjadi perubahan sikap dan perilaku sehari-hari serta munculnya pergolakan, khayalan, dan halusinasi. 

Walaupun hilang ingatan adalah salah satu gejala lazim dari demensia, namun jika seseorang kehilangan ingatan bukan berarti ia otomatis terkena penyakit tersebut. Dokter akan mendiagnosa demensia, apabila ada satu atau dua gangguan pada otak yang menyebabkan hilang ingatan atau kesulitan berbahasa tanpa adanya hilang kesadaran. 

Apa penyebabnya? 

Demensia bisa disebakan oleh reaksi obat, masalah metabolisme dan endokrin, defisiensi nutrisi, infeksi, keracunan, tumor otak, anoxia atau hypoxia (kondisi kekurangan atau terputusnya aliran oksigen ke otak) dan masalah hati dan paru-paru. Walau demensia biasa terjadi pada lansia, namun demensia bukan bagian dari proses penuaan.    

Bagaimana dengan Alzheimer, apa bedanya dengan demensia? 

Banyak yang mengira Alzheimer dan demensia adalah sama. Padahal, keduanya berbeda. Demensia adalah kumpulan gejala, sementara Alzheimer adalah penyakit degenerasi yang ditandai dengan penurunan daya ingat dan akan menyebabkan demensia jika tidak ditangani secara serius. Gejala awal yang paling lazim dari Alzheimer adalah sulitnya mengingat informasi baru karena tipikal penyakit ini menyerang bagian otak yang berhubungan dengan penyerapan hal baru. Gejala yang lebih berat akan muncul jika Alzheimer sudah menyebar ke area otak yang lebih luas. Diantaranya disorientasi, perubahan mood (suasana hati) dan perilaku, serta penurunan daya ingat baik kejadian baru maupun persepsi waktu dan tempat. Kesemuanya akan bertambah parah pada stadium lanjut, hingga penderita bisa kehilangan memori yang serius dan gejala ekstrim lain seperti insomnia, halusinasi, gangguan persepsi, apati, depresi hingga cemas berlebih. Berbicara, menelan makanan hingga berjalan pun akan menjadi sulit. 

Tak ada cara spesifik untuk bisa mencegah dan mengobati Alzheimer dan demensia. Namun, pola hidup sehat bisa mengurangi kemungkinan terkena keduanya, diantaranya: 

  • Konsumsi makanan dengan gizi yang seimbang, rendah lemak dan kolesterol, serta perbanyak buah dan sayuran
  • Jangan merokok dan batasi minuman beralkohol 
  • Apabila Anda menderita stroke, diabetes, hipertensi atau kolesterol tinggi, jalani anjuran dokter dan konsumsi obat sesuai aturan
  • Periksa tekanan darah dan kolesterol serta gula darah secara rutin 
  • Berolahraga setidaknya 2,5 jam dalam seminggu 
  • Hidup bahagia dan hindari stres

 

 

 

 

 

 



Tanya Skata