Ketika bayi lahir ke dunia dan belajar menyusui dari sang ibu, tak semua berjalan dengan mulus. Walau mereka memiliki insting dan fitrah untuk menghisap puting untuk mendapat ASI dari ibu, tak semua bayi berhasil melakukannya di awal-awal pelekatan. Terkadang bayi sudah terasa seperti menghisap namun masih rewel seperti menahan haus. Payudara ibu pun tak kosong setelah menyusui sehingga kerap mengalami penyumbatan. Berat badan bayi juga tidak naik secara signifikan sesuai dengan kurva pertumbuhannya. Mungkin tongue tie menjadi penyebabnya. 

Lidah terikat atau biasa disebut tongue tie adalah kondisi umum pada bayi yang menyebabkan rentang gerak lidah menjadi terbatas. Tongue tie disebabkan oleh frenulum lidah (jaringan tipis di bawah lidah bagian tengah yang terhubung pada dasar mulut) yang terlalu pendek, kencang, dan kaku. Kondisi ini membuat lidah bayi jadi tidak leluasa bergerak sehingga tidak bisa menghisap puting dengan sempurna. Bayi yang kerap haus karena hisapan ASI yang tidak maksimal, puting lecet dan luka menjadi akibatnya.

Sekretaris Bidang Hubungan Masyarakat, Pengurus Pusat IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), dr. Catharine M. Sambo, Sp.A(K) mengimbau agar orang tua segera berkonsultasi pada dokter mengenai kondisi bayi jika terjadi masalah pelekatan payudara, puting Ibu nyeri dan lecet, hingga proses menyusui yang lama namun tidak membuahkan hasil signifikan (tidak sesuai kurva pertumbuhan). Ada kemungkinan bayi mengalami tongue tie.

Lalu, apakah tongue tie berbahaya dan perlu dilakukan tindakan bedah? 

Biasanya, bayi dengan kondisi tongue tie disarankan untuk dilakukan insisi (pembedahan minor dengan melakukan sayatan kecil). Namun, belakangan ini insisi tak selalu menjadi opsi walau bayi memiliki tongue tie. Karena itu, penting untuk segera melakukan konsultasi ke dokter untuk melihat langkah medis yang diperlukan, mengingat ada empat tipe tongue tie dan tidak semua kondisi memerlukan insisi. 

Keempat tipe tongue tie terbagi menjadi anterior dan posterior. Tipe anterior disebut sebagai tip I dan II sementara posterior masuk dalam tipe III dan IV. Masing-masing memiliki kondisi dan resiko tersendiri dan tidak bisa semata-mata diselesaikan melalui proses bedah. Dokter yang paham akan kondisi masing-masing bayi hingga bisa memutuskan apakah insisi adalah pilihan yang terbaik. Karena, sebanyak 50-70 persen bayi dengan kondisi tongue tie tetap dapat menyusui dengan baik dengan bantuan konseling dan pendampingan menyusui yang memadai.

Berbahaya atau tidak kembali lagi pada kondisi masing-masing bayi. Jika sudah melakukan treatment diluar pembedahan namun bayi tak kunjung membaik (berat badan masih kurang, kerap rewel, dan ibu masih mengalami luka) maka bukan tak mungkin insisi menjadi jawaban terbaik. Karena akan jadi berbahaya bila efek samping tongue tie berpengaruh signifikan pada pertumbuhan bayi dan kesehatan ibu. 

Jika bayi Anda dan Anda mengalami kesulitan dalam proses menyusui sehingga menyebabkan tidak nyaman kedua belah pihak, maka ada baiknya untuk segera berkonsultasi pada dokter atau ahli laktasi untuk mencari tahu apakah bayi mengalami kondisi tongue tie dan perlu dilakukan tindakan selanjutnya. 

 

 

 

 

 

 

 

 



Tanya Skata