Dibandingkan beberapa puluh tahun lalu, jumlah anak berkebutuhan khusus kini mengalami peningkatan. Pusat Statisik Pendidikan di Inggris mencatat peningkatan dari 11% siswa berkebutuhan khusus (usia 3-21 tahun) di tahun 1990-2005, menjadi 13% pada tahun 2015 dengan jumlah mencapai 6,6 juta siswa. Di Indonesia sendiri, data BPS tahun 2017 mencatat jumlah anak berkebutuhan khusus mencapai 1,6 juta anak. Meskipun pendidikan inklusi semakin banyak tersedia, tantangan terberat tetap ada di tangan orang tua. 

Joanna Alexandra (33), ibu dari Ziona (3) yang menderita Campomelic Dysplasia, menyebut bahwa tantangan pertama yang muncul saat mengetahui Ziona berbeda adalah ketakutannya menghadapi stigma masyarakat tentang anak berkebutuhan khusus. Ia juga khawatir akan kemampuannya membesarkan Ziona dengan baik, setidaknya membuat Ziona bisa hidup mandiri. 

“Tapi akhirnya aku menenangkan diri dan tidak berpikir terlalu panjang. Aku fokus aja dulu dengan apa yang bisa dijalani saat ini,” ungkapnya dalam event Mommies Daily “Special Love for Special Needed Kids”. 

Pandangan orang lain dan perkembangan anak hanyalah sedikit tantangan dari yang biasa dialami oleh orang tua dengan anak berkebutuhan khusus. Psikolog Anggiastri H Utami dari LPDK Kemuning Kembar menambahkan sejumlah tantangan lain yang dihadapi oleh kliennya yang memiliki anak berkebutuhan khusus, yaitu:

1. Gejolak batin 

Berbagai macam emosi negatif kerap muncul pada orang tua dengan anak berkebutuhan khusus, seperti sedih, malu, khawatir, hingga marah. Untuk mengatasinya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengakui atau menerima dulu perasaan tersebut.

“Kalau sudah terbiasa mengakui apa yang kita rasakan, lama-lama kita lebih mudah mengetahui kalau kita sedang marah, misalnya. Ketika kita menyadari itu, kita jadi tahu bagaimana harus bersikap. Emosi negatif pun bisa dialihkan ke hal positif. Yang sering terjadi adalah kita tidak menyadari apa yang dirasakan, lalu muncullah respon spontan yang pada akhirnya mendorong pada perilaku emosional,” jelas Anggiastri. 

2. Rendahnya dukungan dari pasangan, keluarga, maupun lingkungan sekitar

Joanna termasuk beruntung memiliki support system untuk merawat Ziona. Sayangnya, tidak semua orang bernasib sama. Ada kalanya keluarga sendiri lah yang tidak mau ikut memberi bantuan sehingga hal ini tidak hanya memperburuk kondisi sang ibu, namun juga anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan lebih banyak pendampingan. 

3. Perawatan anak yang membutuhkan waktu, tenaga, pikiran yang tidak sedikit

Joanna mengakui kalau sering pikirannya tersita untuk menu makan Ziona, aktivitas hariannya, jadwal dokter, dan segala macam kebutuhan Ziona. Jika orang tua tidak mampu mencurahkan waktu untuk merawat diri sendiri, hal ini bisa membuat orang tua kehilangan jati diri. Hal ini berbahaya bagi kesehatan mental orang tua dan akan berdampak pada pengasuhan anak berkebutuhan khusus.

4. Masalah keuangan 

Biaya kontrol dokter, terapi, obat-obatan, alat penunjang, sekolah dengan guru pendamping, makanan khusus, tentu tidak murah. Dengan segala pos keuangan dicurahkan untuk membuat kondisi anak lebih baik, orang tua kerap mengalami stress apabila perkembangan anak tidak sesuai harapan. Masalah keuangan juga rentan menjadi penyebab terhambatnya pengobatan dan tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus.

5. Perhatian yang berkurang pada pasangan atau anak lainnya

Berbagai tantangan di atas bisa membuat hubungan dengan pasangan merenggang karena istri sibuk merawat anak dan suami bekerja, misalnya. Untuk menyiasatinya, Anggiastri menyarankan untuk membuat kesepakatan mengenai jadwal berkomunikasi secara intens seperti setelah anak tidur atau sebelum anak bangun. Mungkin melelahkan, tapi ada saatnya mengobrol waktu memang perlu diciptakan agar obrolannya juga berkualitas. Saat tercipta waktu berkualitas dengan pasangan, energi positifnya bisa menular ke anak-anak. Rasa lelah pun bisa berkurang jika sudah mengobrol dengan pasangan. 

Tantangan akan selalu ada ketika memiliki anak berkebutuhan khusus. Kunci untuk tetap memiliki kekuatan dan semangat untuk tetap memberikan kasih sayang pada ananda adalah memberi pertolongan pada diri sendiri terlebih dahulu. Beri ruang untuk emosi negatif, lalu salurkan dengan cara positif. Cari teman yang bersedia mendengarkan keluh kesah bisa membuka keran emosi dan support system untuk menguatkan mental. Jika tidak ada, kunjungi ahli.

Saran dari Joanna untuk orang tua dengan anak berkebutuhan khusus lainya, jangan lupa banyak bersyukur. Adanya Ziona mengajarkan Joanna untuk lebih mensyukuri hal yang selama ini dianggapnya biasa, seperti tahap demi tahap tumbuh kembang anak.

 



Tanya Skata