Di masa pandemi yang kian sulit ternyata berdampak juga pada hubungan suami istri. Menurunnya kondisi ekonomi, frekuensi pertemuan yang terus menerus menjadi salah satu dari sekian pemicu timbul konflik dan perselisihan yang tak jarang berujung perpisahan. Di Indonesia sendiri, khususnya pulau Jawa, angka perceraian kian meningkat terutama di masa pandemi. Menurut Direktorat Jenderal Badan Pengadilan Mahkamah Agung Republik Indonesia (Dirjen Badilag MARI), saat awal penerapan PSBB pada bulan April dan Mei 2020, perceraian di Indonesia masih di bawah 20ribu kasus, namun meningkat menjadi 57ribu kasus di bulan Juni dan Juli 2020. Sangat disayangkan, karena disaat keluarga memiliki kualitas waktu lebih banyak bersama saat harus #dirumahaja, malah harus berujung perceraian. Apa ya sebabnya? 

Faktor ekonomi diduga menjadi salah satu penyebab tingginya kasus perceraian ketika pandemi. Di saat kepala keluarga tak lagi bisa memenuhi kebutuhan sandang pangan papan keluarga, konflik pun kerap terjadi. Ya, ini mungkin bisa menjadi alasan. Tapi, tahukah Anda ternyata ini hanya masalah permukaan yang menutupi permasalahan sebenarnya?

Psikolog Nadya Pramesrani dalam webinar Couple Therapy yang diadakan oleh Mommies Daily memaparkan, saat konflik terjadi ketika berada #dirumahaja bukan karena kondisi saat itu, tapi sebenarnya sudah ada bibit masalah yang ada sebelumnya namun belum sempat teratasi karena masing-masing terdistraksi masalah pekerjaan atau aktivitas lain. Alhasil, masalah tidak selesai karena semua ‘berlari dari kenyataan’. Begitu dihadapkan dengan situasi bersama terus menerus, pasangan dipaksa menyelesaikan masalahnya. Jika tidak tercipta komunikasi yang baik, maka keduanya akan mudah emosi sehingga berpisah pun menjadi solusi. 

Sebenarnya, apa saja sih masalah yang biasa dihadapi pasangan suami istri?

Selebgram Citra Ayu Mustika menceritakan pengalamannya bahwa ada tiga hal yang bisa memicu konflik antar pasangan. Seks, keuangan, dan kebutuhan masing-masing pasangan. Ketika pasangan sudah memiliki anak, terkadang sibuk dengan urusan anak atau domestik sehingga lupa untuk berkomunikasi dengan pasangan apa yang mereka ingin dan butuhkan. 

“Saat berkeluarga (apalagi sudah ada anak) semua menjadi seolah autopilot dan terjebak dengan rutinitas. Pasangan lupa untuk membina hubungan antar keduanya, sehingga percakapan menjadi komunikasi operasional. Sebatas ‘sudah makan belum?’, ‘jangan lupa bayaran anak-anak,ya’, ‘nanti kalau sudah gajian, jangan lupa bayar ini itu dan lainnya.' Ini yang harus dihindari," ujar psikolog Nadya Pramesrani. 

Sebagai suami atau istri, kita juga perlu mengetahui apa yang kita butuhkan dan sampaikan pada pasangan (karena pasangan bukan cenayang yang bisa membaca pikiran kita). Perlu latihan untuk bisa menyampaikannya dengan ekspresi dan intonasi yang baik. Caranya? Coba buat tulisan apa yang ingin disampaikan, lalu peragakan di depan cermin. Jika sudah mendapatkan ekspresi wajah dan intonasi yang sesuai, baru sampaikan pada pasangan. Ingat, apapun respon pasangan jangan reaktif. Biarkan ia menyampaikan juga apa yang ingin diucapkan tanpa terganggu.

Kita juga perlu berempati ketika berada dalam sebuah hubungan. Jangan selalu melihat dari sudut pandang sendiri, tapi rasakan berada di ‘sepatu’nya. Pria perlu dimengerti, begitupun sebaliknya. Sesekali butuh juga lho, waktu berkualitas berdua saja dengan pasangan tanpa terganggu dengan anak. Jika tak bisa keluar rumah, beri waktu satu hingga dua jam ketika anak tidur di malam hari untuk berbicara hati ke hati dengan pasangan. Dengan kepala dingin tanpa emosi, tentunya. 

Untuk membina binar cinta antar pasangan, apa yang harus dilakukan? 

Anda bisa gunakan lima bahasa cinta dari dr. Gary Chapman, untuk memahami kebutuhan pasangan. 

1. Kata-kata penguatan (words of affirmation

2. Tindakan melayani (acts of service

3. Pemberian hadiah (receiving gifts

4. Waktu yang berkualitas (quality time

5. Sentuhan fisik (physical touch

Cari tahu di antara kelimanya, yang bisa menggambarkan kebutuhan pasangan dan fokus di situ. Dengan begitu, pasangan akan merasa dicintai tanpa perlu usaha yang lebih. Selain itu, paksa diri agar tidak terjebak dalam rutinitas. Lakukan aktivitas yang memicu adrenalin untuk keduanya. Sesekali, perlu juga melakukan evaluasi hubungan untuk melihat apakah hubungan Anda dan pasangan masih dalam koridor yang sehat. Seperti apa hubungan yang sehat? Adalah hubungan yang bisa memfasilitasi masing-masing pasangan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan belajar dari tiap pengalaman yang terjadi. 

Nah jika cara ini sudah Anda lakukan dengan pasangan, sejatinya perpisahan tidak akan menjadi pilihan. Apabila Anda dan pasangan tidak bisa menyelesaikan konflik sendiri, jangan ragu untuk meminta bantuan profesional karena di kondisi tertentu, sudut pandang objektif dari luar kedua pihak dibutuhkan. 

 

 

 

 

 

 



Tanya Skata