Bagi banyak orang, menjadi orang tua merupakan sebuah momen pembelajaran luar biasa. Bukan semata masalah finansial, namun lebih kepada tuntutan untuk bisa menjadi contoh bagi anak-anaknya. Tentu hal ini tidak mudah, mengingat setiap orang merupakan produk dari pengasuhan di masa lalu, baik oleh orang tua, kakek nenek, ataupun pengasuh, dimana tidak semua pengalaman masa kecil tersebut indah. Saat luka pengasuhan tersebut masuk ke alam bawah sadar dan menjadi sisi kepribadian seseorang di saat dewasa, inilah yang disebut inner child.

Inner child kerap muncul kembali saat orang tersebut akhirnya menjalani peran sebagai orang tua. Situasi sulit, penuh tekanan, dan perasaan tak berdaya dalam menghadapi perilaku “hanya” seorang anak kecil mampu membuat alam bawah sadar orang tua mengambil alih situasi dan memunculkan reaksi negatif yang pernah dialami atau dilihatnya saat masih kecil. Bisa juga, emosi orang tua menjadi lepas kendali ketika anak melakukan hal yang mengingatkan pada luka pengasuhan masa lalu.

Inner child itu bagian dari pengalaman masa lalu yang belum mendapat penyelesaian dengan baik dan akhirnya berdampak pada orang-orang di sekitar kita. Kita pun jadi mudah marah, sarkas, pasif-agresif, “ jelas Irma Gustiana, M.Psi, Psikolog dalam event Mommies Daily bertema “Deep Secrets dan Inner Child Healing”. Penyebab luka pada inner child atau “anak batin” ini bermacam-macam, seperti:

  • Kehilangan orang tua atau wali
  • Pengabaian fisik dan atau emosional
  • Perpisahan keluarga 
  • KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) 
  • Penggunaan narkoba dalam rumah tangga

Baca: Alami KDRT, Ini Cara Meminta Pertolongan

Tidak hanya karena faktor pengasuhan, luka pada inner child juga bisa disebabkan oleh pelecehan seksual, intimidasi yang parah, bencana alam, hingga menjadi pengungsi. Jika hal-hal di atas terjadi saat seseorang berusia remaja, maka hal tersebut tetap dapat menimbulkan jejak pada inner child.

Bisakah luka pengasuhan disembuhkan?

Tentu saja setiap orang tua tidak ingin mengulang kesalahan orang tuanya di masa lalu. Sayangnya, sering muncul situasi yang membuat seseorang tersadar bahwa yang baru saja dilakukannya sama persis dengan perilaku orang tuanya dahulu. Jika tidak ada kesadaran untuk memperbaiki situasi, bukan tidak mungkin akan terjadi sebuah “rantai” pola pengasuhan yang selalu berulang. 

Jadi, untuk menyembuhkan luka pengasuhan atau berdamai dengan inner child, langkah penting pertama adalah dengan menyadarinya.

“Kalau kita sadar, kita bisa melepaskan emosi masa lalu yang menekan, yang membuat kita enggak berkembang karena hal tersebut belum selesai. Kita juga bisa kenal kebutuhan apa yang belum terpenuhi saat itu. Misal, kasih sayang. Jadi kita tahu cara memenuhinya sekarang,” jelas Irma.

Beberapa tahap yang bisa dicoba untuk mulai merangkul inner child dalam cinta adalah:

1. Menerima keberadaan inner child. Akui bahwa ada bagian diri yang terluka di masa kecil.

2. Sayangi inner child yang ketakutan. Bayangkan situasi menyakitkan yang dialami inner child. Jika sulit membayangkan, lihat foto saat masih anak-anak. Perhatikan baik-baik dan sadari apa yang terlintas ketika melihat foto tersebut. Kemudian, beri dukungan yang dibutuhkannya di masa lalu. Komunikasikan secara lisan ataupun tertulis (misal menulis surat untuk diri sendiri di masa lalu). Hal ini juga berlaku jika hal menyakitkan tersebut terjadi saat remaja yang akhirnya menimbulkan inner teenager.

3. Reparenting inner child. Reparenting adalah memberikan inner child hal yang tidak diterimanya di masa lalu.

4. Jadi orang tua/orang dewasa yang playful. Bermain menimbulkan rasa senang pada anak, orang tua, sekaligus inner child.

Saat perilaku anak memantik amarah, apa yang harus dilakukan agar inner child tidak muncul?

Grace Melia, seorang play therapist, memiliki beberapa tips agar kesadaran tidak “terbajak” oleh inner child, yaitu:

  • Sering berlatih pernapasan dengan mindful (sadar). Ketika mulai naik darah, menarik napas bisa membantu mengatur apa yang akan dikatakan.
  • Jika terlanjur marah, evaluasi amarah yang barusan terjadi. Cari penyebabnya, apakah murni karena anak atau karena di masa lalu pernah mengalami hal demikian.
  • Pastikan ada waktu untuk self-care. Simak caranya di sini.

Saat sudah dapat berdamai dengan inner child, orang tua bisa memutus rantai pola pengasuhan yang negatif sehingga proses pengasuhan menjadi lebih berkualitas. Anak-anak pun tumbuh sehat dan berdaya, dapat memberikan dampak baik pada lingkungannya. Orang tua bisa lebih mindful, playful, self-esteem pun lebih baik. Hubungan dengan suami pun lebih harmonis.

 



Tanya Skata