Hingga saat ini, ratusan ribu kasus sudah terjadi di Indonesia akibat virus SARS-CoV-2, dengan kematian lebih dari tujuh ribu jiwa. Jumlahnya terus meningkat, sehingga mengubah keseluruhan tatanan kehidupan normal kita dari segala aspek. Sekolah, pekerjaan, hingga masalah ibadah. Ketika pemerintah menetapkan untuk melonggarkan pembatasan sosial, daerah yang ditetapkan sebagai zona hijau mulai diizinkan untuk beraktivitas di rumah ibadah walau dalam protokol kesehatan Covid19. Walau dirasa terburu-buru ditambah tak ada jaminan penularan, sebagian rumah ibadah tetap membuka pintunya. Padahal, rumah ibadah bisa menjadi sarana penularan karena sulitnya menjaga jarak dengan jumlah jemaat yang datang. 

Menurut salah satu aturan dalam surat edaran yang dikeluarkan Menteri Agama Nomor 15 tahun 2020 tentang Panduan Penyelenggaraan Kegiatan Keagamaan di Rumah Ibadah, disebutkan rumah ibadah yang dibenarkan untuk menyelenggarkan kegiataan berjamaan atau kolektif adalah yang berdasarkan fakta lapangan serta angka r-naught (RO) dan angka Effective Reproduction Number (RT) berada di kawasan atau lingkungan yang aman dari Covid-19. 

RO merupakan jumlah kasus baru yang tertular dari satu kasus infektif pada populasi sepenuhnya rentan. Biasa digunakan di awal adanya kasus untuk menunjukkan potensi besarnya pandemi. RT adalah jumlah kasus baru yang tertular dari satu kasus terinfeksi pada populasi yang memiliki kekebalan sebagian atau setelah adanya intervensi, digunakan untuk evaluasi penyebaran penyakit hingga saat ini. 

Beberapa rumah ibadah, di ibukota khususnya, kini kembali memberlakukan ibadah daring dikarenakan situasi penularan yang kian memburuk. Gereja contohnya, sempat dibuka bulan lalu saat pemerintah melonggarkan pembatasan sosial. Namun, jamaah dibatasi sebanyak 50 orang dengan pendaftaran di awal. Selang 3 minggu dengan jumlah penularan yang masih meningkat, rumah ibadah kembali ditutup dan aktivitas ibadah hanya secara daring. Berbeda dengan sejumlah masjid, para jamaah sudah diperbolehkan untuk melakukan ibadah shalat didalamnya dengan beberapa protokol seperti membawa sajadah sendiri, menjaga jarak minimal 1 m, menggunakan hand sanitizer setelah berwudhu, dan tidak berlama-lama di dalam lingkungan masjid. 

Jika Anda rindu beribadah di rumah ibadah, diperbolehkan asal mengikuti aturan yang terangkum dalam surat edaran, seperti:

1. Jemaah dalam kondisi sehat

2. Yakin bahwa rumah ibadah tujuan memiliki surat keterangan aman Covid-19 dari pihak berwenang

3. Menggunakan masker sejak keluar rumah dan selama berada di area rumah ibadah 

4. Menjaga kebersihan dengan sering mencuci tangan menggunakan sabun atau dengan hand sanitizer

5. Menghindari kontak fisik, seperti bersalaman atau berpelukan

6. Menjaga jarak minimal satu meter

7. Tidak berdiam lama di rumah ibadah atau berkumpul di area sekitar selain untuk kepentingan ibadah wajib 

8. Melarang anak-anak dan warga lanjut usia, serta orang dengan sakit bawaan yang berisiko tinggi terhadap Covid-19

9. Ikut peduli terhadap penerapan pelaksanaan protokol kesehatan di rumah ibadah sesuai dengan ketentuan. 

Namun, sebagai antisipasi penularan akan lebih baik untuk tetap beribadah dari rumah. Anda bisa melakukan streaming kajian atau kebaktian secara langsung via daring. Ibadah #dirumahaja tidak mengurangi pahala dan tentunya mencegah penularan akan jauh lebih baik. Demi Anda, demi keluarga, demi semua.  

 

 

 



Tanya Skata