Siapa yang tak mendamba memiliki momongan segera setelah menikah? Sayangnya, banyak pasangan merasa khawatir saat usia pernikahan mereka memasuki satu tahun namun buah hati tak kunjung datang. Padahal, kedua pasangan dinyatakan sehat dan tak ada masalah. Biasanya, dokter kandungan menyarankan untuk melakukan metode senggama terjadwal jika pasangan masih berada di fase awal pernikahan (1 hingga 2 tahun menikah). Namun, jika usia pernikahan sudah lebih dari itu dan metode senggama terjadwal tidak membuahkan hasil, ada pilihan program hamil yang lain, yaitu inseminasi buatan dan program bayi tabung. Apa bedanya? 

Inseminasi buatan (Intra Uterine Insemination/IUI) 

Perbedaan utama inseminasi dan bayi tabung adalah tempat dilakukan pembuahan. Pada inseminasi buatan, sperma dialirkan langsung dalam rahim pada saat ovulasi. Tujuannya, untuk memperkecil kemungkinan gagalnya sperma mencapai indung telur dengan cara memperpendek jalan sperma menuju indung telur, sehingga bisa terjadi pembuahan dan kehamilan. 

Ada dua tipe inseminasi buatan, yaitu IVI/ICI (Intra Vaginal/Cervical Insemination) dimana sperma disuntikan tepat di atas vagina (tempat yang paling mendekati serviks) dan IUI (Intra Uterine Insemination) dimana sperma akan dicuci menggunakan medium khusus sehingga didapatkan kualitas sperma terbaik, dimana pergerakan sperma progresif diharapkan mencapai >95%, baru kemudian dimasukkan ke dalam kateter yang sudah terhubung dengan serviks. IUI harus dilakukan dengan bantuan dokter sementara IVI bisa dilakukan sendiri di rumah. Keberhasilan pembuahan dapat diketahui melalui ovulation predictor kit, tes darah, maupun ultrasound.

Bayi tabung (in vitro fertilization/IVF)

Berbeda cara dengan inseminasi buatan, metode bayi tabung dilakukan dengan cara menggabungkan sel telur dan sperma di luar tubuh. Setelah siap, sel telur yang sudah dibuahi akan dipindahkan ke dalam rahim wanita. Pada bayi tabung, wanita diberi obat yang lebih banyak untuk memproduksi banyak sel telur. Idealnya, dibutuhkan sekitar 15 telur yang siap dibuahi. Sel telur kemudian dipindahkan dari ovarium untuk dikembangkan di laboratorium selama beberapa hari, dibuahi, dan dikembalikan ke dalam rahim sebagai perkembangan awal embrio. 

Baca: Mengenal Tahapan Bayi Tabung

Tipe yang dimiliki oleh IVF juga lebih beragam daripada inseminasi buatan, yaitu:  

  • ICSI IVF - sperma dimasukkan ke dalam jarum mikro dan disuntikkan langsung ke dalam sel telur
  • Natural IVF - tanpa menggunakan obat untuk menghasilkan telur, namun cara ini hanya bisa menghasilkan satu telur (paling banyak dua telur) yang berkualitas
  • INVOcell - sperma dan sel telur ditempatkan di wadah sebesar ibu jari lalu dimasukkan ke dalam vagina untuk pembuahan
  • Reciprocal IVF - untuk pasangan wanita sesama jenis, dengan menggunakan salah satu sel telur pasangan sebagai tempat pembuahan, lalu rahim pasangan lain sebagai tempat sel telur dan sperma (dari donor) yang sudah siap berkembang

Perbedaannya semuanya terletak pada teknik memasukkan sperma dan sel telur yang sudah dibuahi kembali ke dalam rahim. Keseluruhannya tergantung pada kondisi medis, pembuahan, dan proses embrio.

Inseminasi buatan vs bayi tabung, mana yang paling menguntungkan? 

Wanita yang beralih dari inseminasi buatan ke bayi tabung ternyata lebih cepat hamil dari mereka yang melakukan inseminasi buatan. Secara garis besar, angka keberhasilan inseminasi buatan pertama sekitar 12%. Namun, tingkat keberhasilannya akan meningkat bila percobaan pertama yang belum berhasil tersebut langsung dilanjutkan dengan setidaknya 3 percobaan lain secara berturut-turut. 

Dari segi biaya, sekali inseminasi buatan memang lebih murah dibandingkan bayi tabung. Namun, dengan tingkat keberhasilan inseminasi buatan yang lazimnya dilakukan berulang, biaya bayi tabung menjadi lebih bersaing. Apalagi, jika satu kali percobaan bayi tabung langsung membuahkan hasil. 

Adakah risikonya?

Prosedur kesehatan apapun, pasti memiliki risiko dan konsekuensi. Tak terkecuali inseminasi buatan dan bayi tabung. Pada inseminasi buatan, ada risiko komplikasi dari penggunaan jarum suntik meskipun diminimalisir dengan pengawasan dokter. Sementara itu, pada bayi tabung, semakin sedikit embrio yang dimasukkan maka risiko komplikasi pun semakin minim. Untuk risiko keguguran, baik bayi tabung dan inseminasi buatan adalah 15-20%, sama dengan pada kehamilan normal. Hanya saja, semakin tua usia ibu, semakin besar kemungkinan terjadi keguguran. 

Bayi tabung mungkin lebih besar tingkat keberhasilannya. Namun, pilihan bayi tabung maupun inseminasi buatan tetap harus berdasarkan hasil konsultasi dokter spesialis sekaligus hasil serangkaian tes untuk memastikan kondisi kesehatan karena tiap pasangan berbeda. Hal ini diperlukan untuk mengetahui metode yang mana yang tepat untuk dijalani. Pastikan juga Anda dan pasangan siap dengan segala risiko dan konsekuensi, masalah kesehatan juga biaya jika percobaan pertama belum membuahkan hasil. 

 



Tanya Skata