Kabar duka seolah menjadi bagian baru dalam kehidupan di masa pandemi Covid-19. Awalanya hanya berupa angka, lama kelamaan menjadi nyata. Kerabat jauh, kenalan, hingga mungkin salah satu anggota keluarga Anda sendiri berpulang. Berbicara tentang kehilangan tak akan pernah mudah,  apalagi menjalankannya. Kehilangan orang yang terkasih, akibat putusnya hubungan atau kematian memberikan efek emosi yang berbeda di tiap individu. Proses melewatinya pun tidak sama. Ada yang memakan waktu singkat untuk kembali ke kehidupan normal, ada yang butuh tahunan untuk bisa menapaki hidup kembali. Pada intinya, semua melalui tahapan untuk bisa memaknai rasa kehilangan dan berjalan maju menghadapi hidup yang berlanjut. 

Menurut dr. Irmia Kusumadewi, SPKJ(K), tiap orang pasti akan melewati tahapan berduka. “Tahapan berduka dilalui dengan penyadaran secara perlahan dengan bantuan waktu,”. Ada lima tahapan berduka yang lazim dialami seseorang ketika ditinggalkan hingga mencapai titik penerimaan. Perlu diketahui, tak semua mengalaminya secara berurutan, atau bahkan ada yang tidak melalui fase tertentu. 

1. Menyangkal kenyataan

Reaksi pertama saat berduka, adalah penyangkalan. “Ini tidak terjadi, ini hanya mimpi, aku akan bangun dan semua akan kembali normal,” ini yang biasa terjadi. Seolah normal adanya untuk merasionalisasikan pikiran terhadap emosi yang tak terbendung. Anda berada di fase syok sehingga tak bisa berpikir jernih. Menjadi cenderung lari dari kenyataan dan menganggap kehilangan itu tak pernah terjadi. Anda berusaha mencari cara untuk melewati pedih tiap harinya dan ini bagian dari proses. Ketika Anda mulai punya pertanyaan pada diri dan menerima kehilangan, proses penyembuhan pun dimulai.  Anda akan belajar menjadi kuat dan secara perlahan penyangkalan pun memudar.

2. Marah pada keadaan

Ketika Anda sudah berdamai dengan kenyataan, mengurangi penyangkalan, Anda berhadapan dengan fakta padahal (mungkin) belum sepenuhnya siap. Ada emosi terpendam yang belum tersalurkan, sehingga marah menjadi jawaban. Sulitnya mengekspresikan kesedihan dan emosi yang mendalam, terkadang membuat Anda menjadi impulsif dan meluapkan kemarahan pada orang terdekat, sebagian orang melampiaskan pada benda. Anda paham bahwa dunia ini hanya sementara dan pasti akan menghadapi kematian. Anda mengerti, tapi kehilangan membuat Anda ingin mengubah situasi yang tidak mungkin. Terkadang marah menimbulkan rasa bersalah (karena kehilangan kontrol) tapi justru membuat semakin kesal pada diri sendiri. Lagi-lagi ini tahapan normal, selama kemarahan masih bisa tersalurkan. Anda (masih) butuh waktu untuk sembuh.

3. Mulai berpikir “seandainya”

Kematian adalah hal di luar kuasa. Kadang, hati yang hancur membuat Anda jadi bertanya-tanya dan membayangkan “seandainya”. Ya, “seandainya kita membawa ke rumah sakit lebih cepat,” “seandainya kita tahu kalau selama ini ia menahan sakit,“ “seandainya saya berada saat ia membutuhkan sehingga bisa berada di sisinya ketika ia pergi” dan jutaan kata seandainya yang ada di benak seolah jika “seandainya” dilakukan, ia tak akan pergi. Padahal, apapun yang Anda lakukan, jika sudah waktunya siapapun akan pergi (termasuk Anda sendiri), Ini adalah bagian dari fase dimana Anda seolah menawar pada Yang Maha untuk memanjangkan waktu dengan sang terkasih sebagai pelarian dari kenyataan yang pahit. 

4. Muncul depresi 

Depresi yang berhubungan dengan duka adalah kondisi dimana Anda sangat terpuruk menghadapi kehilangan. Penyesalan, merasa tak cukup waktu di dunia dengan yang terkasih, hingga merasa hidup tak berarti lagi. Anda membutuhkan seseorang untuk ada di samping dan menemani. Membantu memahami bahwa hidup tetap berjalan dan Anda harus terus maju. Butuh waktu untuk bisa menerima dan mengucap selamat tinggal pada orang yang telah meninggalkan Anda. Pelukan dan kalimat penyemangat bisa membantu di kala ini. Namun jika depresi sudah menjadi berat hingga berakibat pada menurunnya kondisi fisik, jangan ragu untuk menghubungi tenaga ahli.  

5. Akhirnya menerima 

Ini adalah tahapan akhir dimana Anda akhirnya memahami dan menerima kehilangan. Untuk mencapai fase ini, tak semua mudah. Anda sudah melalui berbagai fase sulit yang membuka pikiran bahwa waktu Anda dengannya memang hanya sampai di sini. Namun, perjuangan belum berakhir karena Anda masih diberi kesempatan hidup. Anda pun mulai menata hidup dan membawa memori dengan sang terkasih. Dan ini, tak mungkin terjadi jika Anda tak belajar dari masa sulit yang telah dilewati. Saatnya bersyukur, dan kembali menikmati hidup. 

Pada akhirnya, peristiwa kematian orang terdekat yang Anda alami akan membuktikan bahwa Anda tangguh dan semua ujian diberikan Yang Kuasa sesuai dengan kemampuan hambaNya. Dan, kesempatan hidup ini harus dianggap sebagai suatu anugerah yang tidak boleh disia-siakan.



Tanya Skata