Kehidupan sosial di dunia maya kini menjadi hal penting bagi remaja. Tak heran, banyak remaja (dan mungkin orang dewasa) yang bangga ketika memiliki banyak followers di Instagram maupun akun media sosial lainnya. Konten pun menjadi hal yang perlu dipikirkan untuk mendulang likes meskipun dengan cara berbagi aktivitas pribadi, yang memungkinkan khalayak luas tahu informasi pribadinya bahkan isi kamarnya.

Mengingat perkembangan otak remaja masih belum memungkinkannya untuk berpikir konsekuensi tindakannya di masa depan, diskusikan tentang pentingnya menjaga informasi pribadi di media sosial. Cukup banyak contoh kasus kekerasan pada anak dan remaja yang diawali dari media sosial yang bisa menjadi pembuka diskusi. Alih-alih menyuruhnya untuk mengunci akun media sosialnya secara langsung, tak ada salahnya menanyakan terlebih dahulu tentang apa yang disukainya dari media sosial dan tujuan bermedia sosial. 

Baca: 6 Fakta tentang Media Sosial yang Remaja Harus Tahu

Kemudian, Anda bisa jelaskan tentang seluk beluk media sosial, baik manfaat dan bahayanya. Jika remaja sudah paham bahayanya, barulah sarankan ia untuk melindungi diri dari hal-hal yang tak diinginkan dengan cara:

1. Hanya mengunggah foto, video, dan informasi yang menurutnya tidak masalah diketahui orang banyak. Alasannya, sekali saja data tersebut diunggah di media sosial, pada saat itu juga ia sudah kehilangan kendali atas tersebarnya data tersebut.

2. Lindungi data pribadi. Sejumlah data pribadi yang berbahaya jika diketahui publik adalah nomor telepon, alamat,  tanggal lahir, sekolah, foto yang menunjukkan tempat tinggal, serta tempat yang biasa dikunjungi. 

3. Tentukan batasan. Terkadang, bukan remaja Anda yang membagi informasi pribadinya di media sosial, melainkan temannya. Memintanya untuk tegas memberitahu teman atau pacar yang memuat foto, video, maupun data pribadi lainnya bisa menghindarkannya dari bahaya di kemudian hari. Hal yang sama juga berlaku untuk tagging (menandai) dan pencantuman lokasi dalam foto. 

4. Rahasiakan password akun media sosial, termasuk pada pacar atau teman dekatnya. Pacar yang meminta password merupakan tanda tidak adanya rasa percaya terhadap pasangan maupun merupakan upaya mengekang pasangan. 

5. Jangan berkomentar negatif tentang/terhadap orang lain, apalagi kata-kata tersebut tidak berani diucapkannya secara langsung. Menuruti emosi sesaat akan menimbulkan penyesalan. Bukan tak mungkin hal tersebut akan menimbulkan masalah besar. 

Jika anak terlanjur menerima pelecehan maupun kekerasan secara online, langkah dari loveisrespect.org berikut bisa dilakukan:

1. Abaikan komentar negatif, baik yang berupa hinaan, cacian, atau pelecehan. Membalas komentar negatif tidak akan membuat pelakunya berhenti dan jera. Bahkan, pelaku bisa semakin intens mengganggu.

2. Remaja bisa melaporkan akun yang memberikan komentar tak pantas, melakukan pelecehan, atau kekerasan pada admin media sosial.

3. Simpan bukti kekerasan atau pelecehan, baik berupa tangkapan layar, foto, atau video. Hal ini penting jika di kemudian hari gangguan tersebut menjadi serius dan perlu campur tangan pihak berwajib.

Dengan mengatur privasi di media sosial, remaja telah mengambil langkah penting yang tidak hanya akan memengaruhinya di dunia maya namun juga di kehidupan yang sebenarnya. Semakin muda usia remaja, semakin besar peran Anda sebagai orang tua untuk mengenalkannya pada cara aman menggunakan internet, termasuk media sosial. 

 



Tanya Skata