Siapa yang ingin anak yang dibesarkannya dengan sepenuh hati disakiti oleh orang lain? Apalagi, yang menyakitinya adalah orang yang dicintainya dan (katanya) mencintainya. Tapi , inilah fakta yang terjadi. Catatan Tahunan Komnas Perempuan tahun 2019  menunjukkan bahwa terdapat 2.073 kasus kekerasan dalam pacaran. Pacar pun menempati peringkat pertama pelaku kekerasan seksual di ranah privat/personal yaitu sebanyak 1.670 orang. 

Ini artinya, siapapun orang tua yang memiliki anak usia remaja dan sudah menjalin hubungan asmara patut berhati-hati. Caranya tentu bukan dengan menginterogasi dan melarang ini itu. Mendiskusikan rambu-rambu saat berpacaran sebaiknya dilakukan sejak anak sudah mulai menunjukkan ketertarikan dengan lawan jenis atau saat Anda memberinya lampu hijau untuk berpacaran. Diskusikan pula sikap seperti apa yang tergolong abusive (kasar/ mengandung kekerasan) sehingga remaja bisa segera mengambil sikap jika pacarnya mulai bersikap demikian.

Baca: Remaja Anda Mulai Pacaran? Ini yang Harus Anda Lakukan 

Sayangnya, banyak kasus dimana remaja tidak sadar bahwa yang dilakukan oleh pacarnya adalah kekerasan. Apalagi, jika kekerasan terjadi secara online. Orang tua biasanya memiliki intuisi yang kuat tentang anaknya, namun tidak semua anak berusia remaja mau terbuka dengan orang tuanya. Dalam banyak kasus, hubungan seperti ini sulit diakhiri karena adanya remaja “masih sayang” dengan sang pacar, merasa kekerasan tersebut terjadi karena salahnya, maupun karena ancaman. 

Baca: Kekerasan Online dalam Pacaran Ini 7 Bentuknya

Namun, jika pada akhirnya remaja sudah tidak kuat lagi dan meminta pertolongan atau perlindungan dari Anda saat memutuskan untuk putus, sarankan ia untuk melakukan sejumlah langkah berikut:

1. Simpan bukti terjadinya kekerasan, misal email, tangkapan layar pesan, foto, unggahan di media sosial, atau video. Pembicaraan dan video call pun dapat direkam tanpa sepengetahuan lawan bicara.

2. Tulis dalam buku harian atau jurnal harian tentang kekerasan yang terjadi, baik tanggal, dalam situasi apa, dan bentuknya seperti apa. Pastikan pacar tidak mengetahui adanya buku harian ini. Sembunyikan di tempat yang aman.

3. Ubah setelan privasi (privacy setting) akun media sosial. Batasi siapa saja yang bisa melihat unggahan, data pribadi, memberi komentar. Minimalisir data pribadi yang tercantum di media sosial meskipun itu hanya dapat dilihat oleh teman. 

4. Hindari mengunggah post di media sosial yang mencantumkan lokasi. Ubah setelan geotagging atau penanda lokasi pada media sosial. Sejumlah media sosial memudahkan pengguna mencantumkan lokasi foto secara otomatis.

5.  Ubah setelan lokasi dan sinkronisasi pada Google. Terkadang, seseorang tidak sengaja berbagi lokasi (bahkan foto!) hanya karena salah mengatur setelan privasi. Nonaktifkan pula sinkronisasi ponsel dengan media sosial dan Google, khususnya jika pacar mengetahui password akun Google.

6. Ubah password media sosial. Remaja bisa saja memiliki satu password yang sama untuk semua akun media sosial sehingga mudah diretas.

7. Block akun sosial media pacar (misal Instagram, LINE, Twitter, TikTok, atau Facebook).

8. Jika ingin lebih mudah, deaktivasi maupun hapus akun media sosial. Deaktivasi artinya akun akan nonaktif sementara waktu dan dapat diaktifkan kembali tanpa ada data yang hilang. Menghapus akun juga bisa menjadi pilihan apabila hal tersebut dirasa menjadi langkah yang paling aman.

Apabila Anda tinggal serumah dengan Ananda, tentu lebih mudah menyampaikannya secara langsung. Lebih mudah pula melindunginya ketika pacarnya memaksa untuk bertemu. Namun, jika tidak (misal Ananda kos di luar kota), hindari menyampaikannya secara tertulis lewat WhatsApp atau email mengingat hal tersebut bisa diketahui oleh pacar. Menelepon saat ia sendiri, menengoknya secara langsung, atau menyelipkan surat dalam kiriman paket barang/makanan bisa menjadi solusi. 

Mengingat pelaku kekerasan dalam pacaran akan sangat marah dan berpotensi melakukan hal yang lebih membahayakan atau lebih mengintimidasi jika diputuskan, Anda bisa menyarankan maupun mendampingi remaja untuk bertemu dengan profesional. Beberapa lembaga yang menangani kasus kekerasan dalam pacaran adalah Rifka Annisa Women’s Crisis Center atau via hotline 0857 9905 7765 dan Yayasan Pulih di 021-78842580 atau via Whatsapp 08118436633 (pada jam kerja dan hari kerja).