Pembatasan sosial yang berlangsung beberapa bulan membuat banyak orang tidak dapat bertemu keluarga dan orang terkasih. Mungkin anak remaja Anda salah satunya. Remaja yang sudah memiliki pacar dan rutin bertemu terpaksa harus mengandalkan teknologi untuk tetap mempertahankan komunikasi. Video call dan media sosial mungkin menjadi satu-satunya “penolong” di kala rasa rindu muncul. Sayangnya, penggunaan teknologi ini berpotensi menjadi sarana terjadinya kekerasan online dalam pacaran.

Baca: Remaja Terlibat Sexting, Harus Bagaimana?

Anda mungkin langsung terpikir tentang sexting, yaitu mengirimkan pesan bermuatan seksual. Tapi ternyata, kekerasan online dalam pacaran ternyata tidak melulu berbentuk kekerasan seksual. Tanpa adanya pandemi Covid-19 pun, dimana remaja biasa bertemu langsung dengan pacarnya, kekerasan online dalam pacaran pun bisa terjadi. Berikut ini adalah bentuk-bentuknya:

1. Selalu bertanya sedang di mana, baik dengan cara menelepon, mengirim pesan, atau melacak lokasi

Memiliki pacar yang perhatian memang menyenangkan. Apalagi, pada masa awal hubungan. Namun, ketika perhatian tersebut mulai kelewat batas dan menimbulkan rasa tidak nyaman, hubungan bisa menjadi tidak sehat. Apalagi, jika tindakan tersebut disertai dengan rasa tidak percaya (sampai harus dibuktikan dengan video call atau melacak lokasi). 

2. Meminta password media sosial

Password merupakan privasi sehingga tidak seharusnya dibagi dengan orang lain, pacar sekalipun. Kekerasan dalam pacaran terjadi jika pacar mulai meminta diberi tahu password media sosial, bahkan mencoba meretas jika ditolak. Penolakan ini juga bisa membuatnya menuduh ada sesuatu yang disembunyikan untuk membuat pasangannya akhirnya memberikan password.

3. Memeriksa ponsel tanpa izin, baik melihat chat, histori telepon, foto, dan video

Ponsel juga merupakan privasi, sehingga memeriksa ponsel pasangan tanpa izin juga merupakan bentuk kekerasan dalam pacaran. Apalagi, jika hal tersebut menimbulkan rasa tak nyaman hingga sering menjadi sumber konflik. 

4. Mengakses media sosial tanpa izin, hingga mengambil alih

Berbagi password media sosial atas permintaan pacar biasanya berujung dengan terbukanya akses media sosial (termasuk email) yang bisa digunakan pacar untuk memantau aktivitas online pasangannya. Situasi bisa menjadi lebih buruk jika pacar menggunakan media sosial pasangannya seolah-olah dirinya adalah sang pemilik. Ikut posting, ikut membalas komentar, hingga mengambil alih akun media sosial pasangannya.

5. Berusaha mengatur siapa saja yang boleh menjadi teman di media sosial

Kekerasan dalam pacaran juga bisa terjadi saat pacar mulai ikut menentukan siapa saja yang boleh menjadi teman di media sosial, termasuk memaksa untuk unfollow, remove friends, maupun mem-block orang-orang yang tidak ia sukai.

6. Menyebarkan kejelekan pacar secara online, termasuk memberi ancaman

Saat terjadi pertengkaran atau konflik, kekerasan dalam pacaran bisa terwujud dalam bentuk menyebarkan kejelekan pasangan secara online. Media sosial bisa menjadi sasaran empuk untuk mengancam pasangan melalui komentar dan postingan yang diketahui orang banyak agar permintaan sang pacar dipenuhi, atau semata ingin memberi “hukuman”.

7. Meminta sexting, foto bagian tubuh pribadi/telanjang, dan mengancam menyebarluaskannya di kemudian hari

Sekali berbagi foto atau video yang menunjukkan bagian pribadi tubuh atau konten seksual, maka siapapun harus siap file tersebut tersebar luas. Hubungan dengan pacar tidak selalu mulus, apalagi dalam hubungan yang tidak sehat. Paksaan atas sexting dan foto yang tidak pantas sudah mengindikasikan terjadinya kekerasan dalam pacaran. Apabila hal tersebut dilakukan atas persetujuan pasangan, kekerasan dalam pacaran dapat terjadi jika pacar mengancam akan menyebarluaskan konten pribadi tersebut jika keinginannya tidak dipenuhi.

Mengetahui apa yang bisa saja dialami anak remaja Anda saat berpacaran di atas bisa menimbulkan rasa cemas berlebih. Tidak mungkin kan, mendadak meminta izin memeriksa gadget anak untuk memastikan pacarnya tidak melakukan kekerasan? 

Baca: Agar Anak Tidak Malu Curhat Masalah Cinta

Yang bisa Anda lakukan adalah mengajaknya berdiskusi tentang pacaran sehat, sehingga Anda bisa memberinya informasi tentang tanda-tanda kekerasan dalam pacaran. Penting bagi remaja untuk mengetahui batasan aman dalam pacaran, tidak hanya soal kontak fisik dan seks, namun juga masalah kemerdekaan berekspresi dan privasi. 

Jangan lupa, prioritaskan menjalin komunikasi yang hangat dan kedekatan dengan remaja agar kelak mereka menjadikan orang tuanya sebagai tempat mengadu dan berkeluh kesah jika mereka menghadapi masalah.

 



Tanya Skata