Ingatkah Anda, pada usia berapa pertama kali berencana untuk menikah? Sebagian mulai terpikir untuk menikah saat mulai menjalin hubungan serius, sebagian lagi mungkin baru sadar saat keluarga besar sudah bertanya “mana calonnya”. 

Pada zaman di mana pendidikan dan karier menjadi salah satu tahapan penting dalam hidup, menikah mungkin menjadi fase yang terakhir direncanakan. Bisa jadi karena alasan “jodoh urusan Tuhan”, bisa juga karena menikah dianggap suatu fase yang suatu saat pasti akan terjadi. Apalagi, saat masih SMA atau kuliah, remaja masih fokus dengan studi dan rencana berkarier. Ketika sudah berkarier dan siap menikah, perencanaan pernikahan pun sebatas urusan resepsi. Saat sudah berumah tangga, barulah sadar beratnya tanggung jawab memiliki anak, bimbang harus berkarir atau di rumah, dan sebagainya. Tak jarang, baby blues menghampiri karena istri ternyata belum siap secara mental mendahulukan anak.

Dengan posisi sudah menyelesaikan studi seperti di atas pun, masih ada celah terjadi masalah. Apalagi, jika pernikahan terjadi saat usia remaja. Karena itu, BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) mengampanyekan 2125 Keren, yaitu anjuran usia menikah untuk perempuan minimal 21 tahun dan laki-laki 25 tahun. Mengapa harus usia 21 dan 25?

Mengutip bkkbn.go.id, usia ideal menikah dilihat dari aspek biologis dan psikologis adalah 20-25 tahun pada wanita dan 25-30 tahun bagi pria. Usia tersebut dianggap sudah bisa berumah tangga karena sudah bisa berpikir dewasa, mengingat menjaga keharmonisan rumah tangga membutuhkan kematangan berpikir dan bertindak. Tidak sekadar cinta, menikah juga masalah kemampuan memenuhi tanggung jawab, baik sebagai istri, suami, orang tua, maupun anak. Rentang usia yang sudah matang akan memperkecil risiko timbulnya masalah dalam pernikahan.

Mengingat rencana harus dilakukan jauh-jauh hari, tidak ada salahnya merencanakan kapan menikah sejak masih kuliah. Membuat rencana hidup jangka panjang juga bisa dilakukan, misal untuk remaja putri, kuliah usia 18-21 tahun, bekerja 21-24 tahun, menikah usia 24 tahun, memiliki anak usia 25 tahun. Ilustrasi ini bisa disesuaikan dengan bidang pekerjaan dan masa studi, mengingat ada studi yang hanya membutuhkan 3 tahun ada juga yang lebih lama seperti kuliah kedokteran. Jika perencanaan ini dilakukan saat sudah mulai berkarir, poin-poin yang menjadi target bisa lebih rinci. Misalnya, setelah melahirkan akan tetap berkarir atau tidak, jika berkarir anak akan dirawat oleh siapa, apakah ingin melajutkan S2, kapan memiliki anak kedua, ketiga, dan seterusnya.

Menurut Kepala BKKBN Hasto Wardoyo, perencanaan hidup sangat penting bagi remaja agar mampu melewati lima transisi hidup, yaitu melanjutkan sekolah, mencari pekerjaan, memulai kehidupan berkeluarga, menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat, dan mempraktikkan hidup sehat. Dengan perencanaan yang matang, remaja juga diharapkan bisa terhindar dari seks pranikah, pernikahan dini, dan narkoba. Ketiga hal tersebut mampu “mengacaukan” rencana masa depan remaja, sehingga remaja yang sudah paham apa yang ingin ia capai dapat berpikir dua kali sebelum melakukan tindakan berisiko.

Karena itu, orang tua yang memiliki anak usia remaja akhir diharapkan bisa membuka ruang diskusi mengenai rencana hidup, termasuk rencana tentang pernikahan. Orang tua pula yang harus ambil bagian memberi gambaran tentang bagaimana kehidupan rumah tangga yang kelak akan ia hadapi dan mengapa menikah di usia matang adalah pilihan terbaik. 

 

 



Tanya Skata