Bersyukurlah jika Anda masih bisa makan sehat, membayar biaya sekolah anak, dan memiliki waktu untuk self-care di tengah repotnya WFH (work from home) sambil mendampingi anak sekolah dari rumah. Hingga saat ini, masih banyak orang yang merasakan beratnya hidup dalam pusaran pandemi Covid-19. 

Salah satu partisipan studi kualitatif yang diadakan oleh USAID dan Breakthrough Action pada Juli 2020 menceritakan bahwa dirinya harus bangun jam 2 pagi untuk membuat kue tradisional. Di pagi hingga sore hari, ia harus berkeliling menjajakan kue karena pasar tempatnya berjualan menerapkan sistem bergiliran untuk menghindari kerumunan. Hal ini terpaksa dilakukannya karena suaminya berjualan masker di pinggir jalan, dimana rata-rata hanya tiga buah masker yang bisa dijualnya per hari.

Partisipan lain, seorang pria lajang yang selama pandemi mengalami dua kali di-PHK, bekerja sebagai kurir dengan 150-200 paket yang harus diantarnya per hari. Upah yang diterimanya hanya Rp 54.000 dari pagi hingga malam bekerja.

Dua kisah di atas (juga kisah 28 partisipan penelitian lainnya) mungkin bisa menjadi gambaran betapa dampak dari pandemi Covid-19 pada masyarakat menengah ke bawah tidak main-main. Studi kualitatif tersebut dilakukan untuk mengetahui perasaan, keyakinan, harapan partisipan tentang masa depan mereka setelah Covid-19. Hasilnya, terdapat sejumlah kekecewaan yang muncul meskipun cukup banyak sisi positif yang mereka rasakan dengan adanya pandemi Covid-19. Secara garis besar, berikut adalah perasaan dan harapan mereka.

1. Adanya ketidakadilan dan diskriminasi

Partisipan yang diwawancarai kebanyakan adalah pedagang kecil dan mereka yang berpenghasilan rendah. Apa yang mereka alami saat pandemi menunjukkan bahwa ada ketidakadilan dan diskriminasi yang mereka alami, seperti  perbedaan jatah bantuan yang didapatkan oleh warga asli dan pendatang. Mereka juga merasa bahwa perbedaan kelompok masyarakat berpengaruh pada risiko dan manfaat yang berbeda saat pandemi, seperti mereka yang kaya vs miskin, pintar vs bodoh, pendatang vs warga asli. Ini membuat mereka merasa diabaikan dan dirugikan.

2. Kesenjangan sosial yang makin terasa

Mereka juga merasa bahwa kalangan berada masih bisa bertahan menghadapi pandemi karena memiliki tabungan. Masa depan yang penuh kemajuan teknologi pun akan lebih cerah bagi kalangan atas dan pahit bagi kalangan bawah, menguntungkan bagi asing dan merugikan pribumi.

Baca: Siasat Keuangan untuk Keluarga dengan Banyak Anak

3. Keraguan tentang masa depan

Meskipun memiliki harapan bahwa pandemi ini suatu saat akan berakhir dan kehidupan akan membaik, namun keyakinan mereka akan masa depan diwarnai keraguan. Mereka ragu dengan prediksi berakhirnya pandemi, penanganan kesehatan selama pandemi, pelaksanaan kebijakan pemerintah dalam menangani pandemi, dan kepatuhan masyarakat dalam mengikuti arahan pemerintah.

4. Tingginya solidaritas

Terlepas dari pengalaman tak menyenangkan dan pesimisme tersebut, mereka merasa bahwa pandemi ini memunculkan sisi baik masyarakat Indonesia: solidaritas tinggi untuk membantu dan berbagi. Beberapa partisipan menyatakan bahwa mereka aktif menggalang donasi dan berdonasi. Solidaritas juga dapat berbentuk kepedulian terhadap keselamatan sesama dengan cara mengingatkan orang lain untuk disiplin mematuhi protokol kesehatan, serta impian untuk kelak memberi lapangan pekerjaan bagi orang berpendidikan rendah.  

5. Kesadaran akan makna anak dan keluarga

Salah satu temuan yang paling menarik dalam studi ini adalah hampir semua partisipan kurang mengkhawatirkan kesehatan  dirinya, melainkan lebih khawatir dampak pandemi terhadap kesehatan anaknya yang masih kecil maupun orang tuanya yang sudah lansia. Mereka juga khawatir pandemi akan menghambat pendidikan dan masa depan anak mereka. Bagi mereka, anak adalah masa depan mereka yang bisa membantu memperbaiki taraf hidup mereka. 

Baca: Anak Alami Gejala Covid-19, Kapan Harus ke RS?

6. Kegigihan dan kesabaran

Ujian ini ternyata mampu mendorong partisipan ke tingkat kegigihan dan kesabaran luar biasa. Situasi memang tidak berpihak pada mereka, namun mereka tetap gigih mencari nafkah dengan segala upaya. Di sela kerja keras memenuhi kebutuhan, mereka juga berusaha menyediakan makanan sehat untuk keluarga, mengembangkan pengetahuan dan keterampilan, menjaga kebersihan diri dan keluarga, dan tak lupa berdoa untuk mencapai cita-cita.

Sama seperti mereka, pandemi pasti membawa cerita, duka, dan pelajaran berharga bagi hidup Anda. Semoga pengalaman mereka yang gigih berjuang di atas dapat memercikkan semangat untuk menghadapi pandemi sebaik  mungkin, juga solidaritas untuk menolong dan berbagi dengan mereka yang membutuhkan. 

 



Tanya Skata