Tak dapat dipungkiri, bisnis yang berkaitan dengan transportasi menjadi salah satu yang paling besar menderita kerugian selama pandemi Covid-19. Ojek online mengalami penurunan jumlah penumpang 60%- 70% di awal pandemi, sementara kereta api 74,86% hingga April 2020. Namun kini, AKB (Adaptasi Kebiasaan Baru) memperbolehkan moda transportasi untuk kembali beroperasi asalkan memperhatikan faktor keamanan seperti membatasi jumlah penumpang dan  disinfeksi sejumlah bagian kendaraan secara rutin. Penumpang pun diiimbau untuk melakukan langkah pencegahan seperti :

  1. Mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah bepergian
  2. Menjaga jarak minimal 1 meter dengan penumpang lain atau petugas
  3. Mengenakan masker
  4. Menggunakan metode pembayaran nontunai
  5. Menghindari menyentuh bagian yang sering disentuh banyak orang
  6. Membawa hand sanitizer 

Dengan menjalankan protokol kesehatan di atas, penumpang diharapkan bisa terlindungi dari penularan Covid-19. Meskipun demikian, ada faktor lain yang memengaruhi besar kecilnya risiko penularan yaitu jenis transportasi yang digunakan. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah moda transportasi mana yang paling aman atau lebih minim risikonya untuk menjadi sarana penularan Covid-19? Berikut perbandingannya.

Pesawat terbang

Meskipun peraturan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 sejak Juni 2020 mengharuskan maskapai membatasi jumlah penumpang maksimal 70% dari kapasitas normal selama masa AKB (Adaptasi Kebiasaan Baru), bepergian dengan pesawat tetap meningkatkan risiko penularan Covid-19. Dengan jarak antarkursi yang rapat, menjaga jarak 1 meter bisa menjadi sulit apabila pesawat terisi penuh. Selain itu, pemeriksaan di bandara yang berlapis dengan durasi tunggu pesawat yang lama membuat moda transportasi ini cukup berisiko. Toilet, musholla, dan kursi tunggu tentu menjadi hal yang tak bisa dihindari. Ini belum termasuk durasi penerbangan yang lamanya tergantung jarak maupun transit.

Meskipun demikian, sistem sirkulasi dan filtrasi udara di dalam pesawat telah diatur sedemikian rupa hingga bakteri dan virus tidak mudah menyebar. Penumpang pun diwajibkan menyertakan surat keterangan negatif Covid-19 baik melalui rapid test maupun PCR. Meskipun negatif, tentu saja penumpang tetap diharuskan mengikuti protokol kesehatan yang berlaku. 

Baca: Menginap di Hotel Saat Pandemi? Boleh Saja, Asal..

Kereta api 

Dibandingkan pesawat, kereta api lebih aman karena jarak antarkursi yang lebih lega dengan pembatasan maksimal 70% terisi. Namun, untuk perjalanan luar kota, durasi perjalanan yang lebih panjang dari pesawat membuat risiko penularan Covid-19 menjadi tinggi. Untuk disinfeksi dan protokol kesehatan, PT KAI telah melakukan sesuai standar yang berlaku, baik di dalam kereta maupun di stasiun. 

KRL Commuterline

Bagi pengguna KRL, masa AKB belum sepenuhnya menjamin transportasi yang umum digunakan para pekerja ini aman. Pembatasan kapasitas penumpang maksimal 35% kerap terkendala karena jumlah penumpang yang belum terangkut memadati stasiun di jam sibuk. Sebagai solusi, pengaturan jarak aman dengan marka batas antre telah diterapkan, begitu juga dengan disinfeksi rutin area stasiun, penyediaan wastafel tambahan, dan pengecekan suhu tubuh penumpang. Penumpang pun diimbau untuk merencanakan jam perjalanan dengan menghindari jam sibuk.

Bis dan Transjakarta

Bis merupakan salah satu transportasi umum yang jangkauannya paling luas. Meskipun kapasitas penumpang maksimal 70%, namun penumpang harus selektif memilih perusahaan angkutan bis yang disiplin menerapkan aturan ini. Untuk Transjakarta, terdapat pembatasan penumpang 60 orang untuk bis besar dan 30 orang untuk bis kecil dengan jarak antarpenumpang satu rentang lengan. Terdapat tanda untuk kursi yang tidak boleh diduduki dan tanda untuk berdiri dalam antrean.

Ojek 

Jarak aman 1 meter memang tidak mungkin diterapkan pada moda transportasi ini. Karena itu, mencuci tangan sesudah dan setelah berkendara, memakai helm pribadi, serta memastikan pengemudi mengenakan masker adalah langkah pencegahan terbaik. Jika ojek pilihan Anda bukan online, siapkan uang pas untuk meminimalisir kontak lewat uang kembalian.

Taksi online

Menggunakan layanan taksi online termasuk minim risiko dibandingkan bis dan kereta. Orang asing yang ada di dalam kendaraan hanyalah sang pengemudi dengan kapasitas maksimal 50%. Posisi duduk pengemudi yang tidak menghadap penumpang pun dapat menghindari transmisi virus melalui droplets. Perusahaan taksi online juga telah menjalankan protokol kesehatan yaitu rutin mengecek suhu tubuh pengemudi, melakukan disinfeksi kendaraan, melengkapi pengemudi dengan masker dan sanitizer. 

Sepeda

Sepeda merupakan salah satu moda transportasi teraman selama pandemi karena hanya dapat dinaiki oleh satu orang pengendara, sirkulasi udara yang baik, dan kemudahan untuk menjaga jarak aman dengan orang lain. Yang perlu diperhatikan adalah disiplin disinfeksi stang sepeda, khususnya setelah menyentuh objek lain di tempat umum.

Baca: 6 Cara Aman Memakai Masker saat Berolahraga

Mobil pribadi

Mobil pribadi juga termasuk jenis transportasi paling aman karena tidak terjadi kontak dengan orang lain. Yang perlu diperhatikan adalah disinfeksi rutin interior mobil jika Anda menggunakan mobil untuk bekerja atau ke lokasi lain dimana Anda beraktivitas di dalamnya. Jok mobil, setir, dan handle pintu adalah bagian-bagian yang tidak boleh terlewat saat disinfeksi. Hindari membawa penumpang lain yang tidak tinggal serumah dengan Anda untuk mencegah transmisi Covid-19. Hal yang sama juga berlaku untuk motor pribadi.

Kini Anda bisa menimbang moda transportasi teraman bagi aktivitas Anda. Gunakan kendaraan pribadi jika memungkinkan atau disiplin laksanakan protokol kesehatan di kendaraan pilihan.



Tanya Skata