Sejak sekolah memberlakukan kegiatan belajar mengajar dari rumah (school from home) selama pandemi Covid-19 berlangsung, banyak orang tua berpikir bahwa mereka tidak ubahnya melakukan homeschooling. Padahal, homeschooling dan school from home adalah dua hal yang berbeda meskipun sama-sama dilakukan di rumah. Perbedaannya meliputi beberapa aspek, yaitu:

1. Kurikulum

Meskipun orang tua terlihat lebih banyak mendampingi anak saat belajar di rumah (khususnya pada jenjang TK dan SD), kegiatan pembelajaran saat school from home tetap dirancang oleh guru. Materi apa yang diajarkan, tugas apa yang harus dikerjakan, capaian kemampuan apa yang diharapkan diraih dari pembelajaran tersebut ditentukan oleh guru sesuai kurikulum yang berlaku di sekolah anak maupun kurikulum yang berlaku nasional.

Hal ini berbeda dengan homeschooling dimana kurikulum dibuat oleh orang tua berdasar kemampuan dan minat anak. Meskipun ada orang tua yang menggunakan atau memiliki acuan kurikulum tertentu untuk anak mereka (misal Cambridge IGCSE), namun ciri utama homeschooling adalah customized education atau pendidikan yang disesuaikan untuk anak, bukan anak yang menyesuaikan dengan pendidikan seperti di sekolah formal. Karenanya, bentuk aktivitas, tugas, ataupun project tetap ditentukan orang tua, dengan atau tanpa diskusi dengan anak. 

2. Fleksibilitas jadwal belajar

School from home membuat sekolah bisa dilakukan dari rumah, namun tetap dengan jadwal yang sudah ditentukan oleh guru. Ini yang terkadang membuat orang tua bekerja menjadi bingung apabila jadwal tatap muka online sekolah anak bersamaan waktunya dengan jam kerja. Sebagai solusi, sekolah tertentu memberikan materi pelajaran dalam bentuk video agar orang tua bekerja tetap dapat memfasilitasi proses belajar anak di rumah.  

Sementara itu, homeschooling memiliki jadwal belajar yang telah disesuaikan dengan ketersediaan waktu orang tua dan anak. Karena orang tua adalah “kepala sekolah” sekaligus fasilitator, maka kehadiran orang tua untuk memfasilitasi proses belajar anak adalah suatu keharusan. Anak tetap bisa diberi tugas atau membaca atau menonton materi belajar secara mandiri, namun kehadiran orang tua di saat tertentu adalah mutlak. Jadwal belajar tentu tetap ada, namun fleksibilitasnya lebih besar apabila mendadak ada suatu kegiatan yang membuat sesi belajar terpaksa harus ditunda.

3. Komitmen orang tua dan anak

Dalam kondisi pandemi Covid-19, school from home bukan lagi pilihan. Suka tidak suka, mau tidak mau, orang tua harus bisa menjadi guru sekaligus fasilitator belajar anak. Jam sekolah anak yang selama ini bisa digunakan orang tua untuk mengerjakan urusan lain menjadi berkurang atau malah hilang. Ini yang menyebabkan banyak keluhan muncul seperti tugas sekolah yang terlalu banyak, keharusan orang tua menguasai materi dan membuat anak paham, atau malah sebaliknya, sekolah dipandang kurang komprehensif dalam menjalankan school from home. Rasa terpaksa yang dirasakan sebagian orang tua memang tidak dapat dihindari karena pada kenyataannya ada kepentingan lain yang harus diselesaikan.

Tentunya, “drama” semacam ini tidak akan terjadi pada keluarga yang menjalankan homeschooling karena orang tua sudah memikirkan konsekuensi menjadi guru bagi anak, baik dari segi energi maupun waktu. Sehingga, urusan pekerjaan dan rumah tangga bisa diatur sedemikian rupa hingga tidak mengurangi komitmen orang tua saat mendampingi anak belajar. Anak pun tidak banyak mengeluhkan tugas yang banyak, penjelasan yang belum ia pahami, mengingat materi dan tugas homeschooling disesuaikan dengan minat dan kecepatan belajarnya.

4. Penggunaan teknologi

School from home identik dengan teknologi seperti WhatsApp, Zoom, maupun Google Classroom. Materi yang aslinya disampaikan secara tatap muka langsung terpaksa harus dijelaskan dengan perantaraan teknologi. 

Sementara itu, homeschooling tidak harus dilakukan menggunakan teknologi. Bahkan, banyak materi belajar homeschooling yang dipelajari melalui pengalaman dimana anak mencoba secara langsung atau mencari objek yang sedang dipelajari. Kurikulum dan inspirasi penyampaian materi lah yang banyak diakses secara online oleh orang tua.

Nah, semoga Anda tidak lagi salah mengartikan bahwa homeschooling sama dengan school from home ya! Apapun jenis pembelajarannya, Anda sebagai orang tua harus memastikan bahwa anak mampu mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan baik. Jika ada hambatan saat school from home berlangsung, jangan ragu untuk mengomunikasikannya dengan guru. Bagaimanapun juga, guru adalah partner Anda dalam pendidikan anak. 

 



Tanya Skata