Rasanya, baru kemarin kakak yang masih balita mencium adik yang masih bayi dengan penuh kasih sayang. Kini, hari-hari Anda dipenuhi oleh pertengkaran kakak adik yang bagi orang dewasa penyebabnya sepele seperti siapa yang harus mandi pertama, kue adik lebih besar, atau berebut sebuah mainan di antara puluhan mainan yang ada.

Pertengkaran kakak adik memang selalu ada, di generasi apapun orang tua lahir. Namun, kemajuan ilmu pengasuhan yang tersebar melalui teknologi bisa membantu Anda untuk mengatasi pertengkaran kakak adik dengan cara yang lebih efektif. Husna Ika Putri Sari, M.Psi, psikolog yang sering berbagi kisah pengasuhan anak melalui akun Instagram @iburakarayi, memberikan rumus “empat-si” (identifikasi, mediasi, konsistensi, fasilitasi) untuk mengatasi konflik antar kakak adik sebagai berikut:

1. Identifikasi 

Identifikasi adalah tahap untuk mengetahui seberapa parah pertengkaran kakak adik yang terjadi. Apakah hanya sedikit cekcok, mulai ada kontak fisik, teriakan, atau sudah melibatkan kekerasan. Jika adu fisik yang membahayakan sudah terjadi, Anda harus turun tangan. Namun, jika tidak, Anda bisa memberi kakak dan adik waktu untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kecuali, pertengkaran terjadi di tempat umum yang mana kakak adik terpaksa diajak “menepi” sebentar untuk menyelesaikan masalah.

Melalui tahap identifikasi, Anda kelak akan mengetahui pertengkaran seperti apa saja yang biasanya bisa selesai dengan sendirinya, hal apa saja yang bisa menjadi pemicu konflik. Anda pun bisa  mengevaluasi apakah selama ini terlalu cepat intervensi atau tidak.

2. Mediasi

Ketika pertengkaran kakak adik memburuk, orang tua dapat hadir sebagai orang ketiga yang sifatnya netral. Jika selama ini saat Anda melerai cenderung menyalahkan salah satu pihak, kini saatnya evaluasi diri. Agar mediasi berjalan efektif, ada beberapa langkah yang harus Anda lakukan. Pertama, mendengarkan. Beri kesempatan masing-masing untuk menceritakan apa yang terjadi. Tujuannya agar kakak dan adik merasa setara, tidak ada yang merasa lebih disayang sehingga tidak menimbulkan kecemburuan saat dewasa nanti. 

Selain itu, menceritakan kejadian mengasah kemampuan anak untuk merunut peristiwa yang terjadi sehingga bisa menemukan penyebab konflik. Ia pun bisa belajar mengenali emosi seperti, “Ooh, ternyata aku tadi marah karena adik mencoret gambarku.” Dengan mengenali emosi, maka anak bisa dilatih untuk mulai mengantisipasi konflik saat pemicunya muncul.  

Nah, setelah penyebabnya diketahui, dampingi anak mencari solusi. Ini bisa dilakukan saat itu juga atau menunggu hingga emosi masing-masing mereda.  

3. Konsistensi

Apapun teori parentingnya, konsistensi menjadi kuncinya. Bagi orang tua, konsistensi saat mengatasi pertengkaran kakak adik dapat membantu melihat pola berhasil tidaknya solusi yang dipilih. Misal, apakah memeluk kakak dan memvalidasi perasaannya lebih efektif dilakukan saat awal konflik atau ketika tangis sudah pecah. Ataukah, mengajak salah satu ke ruang lain bisa menyelesaikan bibit konflik. Bagi anak, konsistensi langkah penyelesaian konflik dapat membuatnya tidak berdiam saja kala bertengkar, namun segera mencari penyebab dan solusi. Kemampuan mengatasi konflik ini akan bermanfaat hingga anak dewasa. 

4. Fasilitasi

Fasilitasi di sini adalah upaya orang tua untuk membantu membangun ikatan dan empati. Ikatan yang kuat antarsaudara mampu meminimalisir terjadinya pertengkaran kakak adik, sementara empati mampu meminimalisir agresi. Cara yang biasa dilakukan Husna untuk mempererat bonding antara kakak dan adik adalah dengan menempatkan mereka sebagai satu tim. Misal, saat memasak, kakak memotong wortel dan adik mencuci sayur lain. Sementara itu, untuk mengasah kemampuan menempatkan diri di posisi orang lain atau empati, Husna kerap mengajak bicara masing-masing anak, menceritakan kejadian lalu yang menunjukkan betapa kakak sangat menyayangi adik (dan sebaliknya). Sehingga, kakak tahu bahwa adik adalah fans terbesarnya, adik tahu bahwa kakak tak sabar menunggunya lahir saat ia masih dalam kandungan.

Bagaimana jika adik belum mampu berkomunikasi? 

Ajak kakak untuk berdialog. Beri pemahaman bahwa adiknya belum mampu berkomunikasi. Jika perlu, Anda bisa coba berbicara pada adik di depan kakak, kemudian membuat mimik bingung yang lucu ketika adik tidak bisa merespon agar kakak tidak seperti merasa dimarahi.

Yang perlu diingat, “empat-si” di atas butuh dibiasakan dan dilatih. Sama seperti Anda yang hingga kini pun masih berlatih sabar saat menghadapi pertengkaran kakak adik, mereka pun demikian. Dengan kontrol diri yang baik saat melakukan “empat-si” tadi, secara tidak langsung Anda telah berinvestasi untuk kemampuan resolusi konflik anak di masa depan.

 



Tanya Skata