Banyak orang tua –khususnya para ibu- yang mengeluh betapa kesabaran mereka sudah tipis selama pandemi Covid-19 ini. Anak-anak yang bosan karena  terbatas ruang geraknya kerap mencari cara menghibur diri yang terkadang tidak sesuai dengan keinginan orang tua. Saat orang tua melarang,  anak pun menjadi emosi. Berteriak, menangis, menyakiti, atau merusak barang adalah beberapa cara yang kerap ditunjukkan anak saat kecewa dan marah. Adakah cara efektif meredakannya selain menuruti keinginan anak atau memberinya gadget?

Grace Melia, praktisi bermain anak (certified play therapist), menyarankan orang tua untuk melakukan sejumlah langkah yang bisa meredakan emosi anak:

1. Tarik dan buang napas 20 kali

Mengapa tarik buang napas sering disarankan untuk meredakan rasa marah? Ternyata, ritme napas seseorang berhubungan dengan kondisi emosi. Ketika Anda menarik napas panjang dan membuangnya perlahan, otak akan menerima pesan bahwa kondisi Anda sudah kembali normal (meskipun Anda memanipulasinya). Nah, hal yang sama juga terjadi pada anak yang sedang emosi. Tambah dengan gerakan tangan, ekspresi kocak, atau jadikan lomba tarik napas agar Ananda lebih tertarik untuk mengikuiti. Lakukan 20 kali hingga amarahnya benar-benar reda.

2. Menggambar

Hasil penelitian yang dimuat dalam Journal of The American Art Therapy Association tahun 2016, melakukan aktivitas kreatif selama 45 menit mampu meredakan stres, meskipun Anda tidak memiliki bakat seni. Menggambar merupakan salah satu bentuk seni yang bisa dilakukan anak untuk meredakan emosi karena Anda tidak sulit menyiapkan alatnya. Bahkan, ada anak yang menggambar di tembok saat ia marah, lho! Apapun medianya, menggambar menjadi cara yang relatif aman untuk melampiaskan amarah anak.

3. Lompat-lompat 20 kali

Emosi negatif pada dasarnya adalah energi yang “terperangkap” dalam tubuh. Karena itu, melompat, berlari, menari, atau sekadar menggerakkan tubuh merupakan cara melepaskan energi ini dari tubuh anak. Melompat sebanyak 20 kali tidak hanya mampu meredakan emosi anak, namun juga menghasilkan hormon endorfin yang menimbulkan rasa senang karena melompat dapat dikategorikan sebagai bentuk olahraga. Atau, ajak anak melakukan permainan fisik yang disukainya.

4. Minum air

Ternyata, kekurangan air setengah liter saja mampu membuat hormon stres (kortisol) seseorang meningkat. Dehidrasi mampu mengganggu fungsi tubuh, yang kemudian bisa memicu stress. Jadi, saat anak marah, tawarkan segelas air minum untuk meredakan emosinya. Jika perlu, Anda pun ikut minum bersamanya dan ajak dengan cara yang menyenangkan, ya!

Baca: Pahami 3 Fase Unik Perkembangan Anak Agar Tidak Lekas Emosi

5. Bermain mainan kesukaan 

Anda tahu, messy play adalah hal yang amat disukainya. Namun, kotor dan berantakan setelah bermain membuat Anda sering melarang anak melakukannya. Saat anak mulai menunjukkan pertanda amarah, ajak ia bermain hal yang ia sukai (meski Anda harus bebersih setelahnya). Bermain gelembung sabun, pasir kinetis, membuat playdough dari tepung, bahkan sesederhana menyiram tanaman di halaman dapat meredakan emosinya.

6. Menyobek kertas 

Ada kalanya Anda terlambat menyadari bahwa anak sudah tenggelam dalam amarah. Segelas air, pensil warna, atau seplastik tepung bisa saja dibantingnya. Jika ini yang terjadi, ajak ia memproses emosinya dengan cara menyobek kertas yang sudah tidak terpakai. Minta anak untuk menyobek kertas hingga menjadi serpihan. Selain menyobek kertas, memproses emosi juga bisa dilakukan dengan berteriak dengan wajah ditutup bantal.

7. Berhitung

Saat marah, lobus frontal atau bagian otak tempat mengambil keputusan rasional dibanjiri oleh darah sehingga tidak mampu berpikir logis. Berhitung merupakan kegiatan yang menggunakan logika, sehingga bisa “memaksa” otak untuk kembali logis dan meredakan emosi.

Cara-cara di atas sebetulnya adalah pembelajaran penting bagi anak untuk bisa mengelola kemarahan, frustrasi, dan kekecewaan dengan cara yang aman. Namun, Grace mengingatkan bahwa saat orang tua mengajak anak melakukan langkah di atas, maka orang tua juga harus siap memberikan contoh sehari-hari. Karena itu, cari cara meredakan emosi yang paling manjur untuk Anda ya, agar tidak mudah “terbajak” oleh amarah anak. 

 



Tanya Skata