“Bu, nanggung nih mainnya belum selesai. Bentar lagi diajak mabar (main bareng) sama temen-temen pake zoom. Boleh ya, bu?”  -Ali, 9 tahun.

Kelar main game, ia mulai kehabisan ide dan akhirnya duduk di sofa lalu lanjut menonton TV. Kejadian ini, berulang hampir tiap hari selama #dirumahaja. Sang Ibu yang mulai kehabisan akal untuk menyibukkan Ali pun berpikir, “ya sudahlah”. Rasanya semua aktivitas sudah dilakukan untuk membuat Ali aktif. Menggambar? Hampir setiap saat. Belajar? Kan masih ‘libur’. Olahraga luar ruang? Tiap sore dilakukan. Tapi, Ali yang sedang aktif rasanya tak pernah puas dengan aktivitas tersebut hingga ibu membiarkannya bermain game, dan nonton TV. Yang tadinya hanya boleh pada saat akhir pekan, kini sudah dilakukan tiap hari bahkan banyak waktu terbuang untuk screen time. Bagaimana ini, ya? 

Dengan adanya pandemi Covid-19, sebenarnya Anda memiliki kesempatan untuk bonding dengan anak. Jadi, manfaatkan kesempatan ini dengan banyak melakukan aktivitas bersama agar anak tidak kecanduan gadget. Berikut cara yang bisa dicoba: 

1. Memahami bahwa anak tidak apa merasa bosan

Banyak orang tua yang terpentok ide menyibukkan anak hanya karena takut mereka merasa bosan. Padahal, bosan itu wajar. Mereka perlu mengerti emosi dan cara mengatasinya walau hanya dengan sekedar diam dan menunggu. Menurut dr. Irmia Kusumadewi, SpKJ(K), anak perlu merasa bosan untuk belajar menghadapi rasa tak nyaman, sekaligus berpikir kreatif menyelesaikan masalah. Jadi, saat mereka mengeluh bosan jangan langsung alihkan pada TV atau game, ajak duduk sejenak dan biarkan mereka melewatinya tanpa harus melakukan apa-apa. 

2. Hadir disaat mereka bermain 

Anak, terutama usia yang lebih kecil masih membutuhkan perhatian, dan bonding bisa meningkatkan kemampuan kognitif, bahasa, dan kemampuan sosial. Bisa dipahami, kita mungkin sibuk dengan urusan lain tapi coba siapkan waktu per hari untuk fokus hanya pada mereka. Termasuk pada saat mereka bermain. “Saat mereka bermain (termasuk game online), hadirlah di sampingnya tanpa gangguan. Biarkan mereka mengajarkan pada Anda apa yang sedang dilakukan, dan beri komentar bila perlu,” ujar Alice Ann Holland, Ph.D., ABPP Research Director of Neuropsychology Service di UT Southwestern, AS.  Akhiri dengan kalimat lembut dan positif seperti, “seru ya! Nanti kita main lagi tapi coba permainan lain selain online. Mau nggak?” 

3. Jadikan rumah sebagai area playground

Lupakan sejenak rumah rapi, tertata. Buat area ruangan menjadi tempat eksplorasi. Lakukan permainan seperti adegan acara Floor is Lava dimana lantai adalah lautan api. Sehingga, mereka hanya boleh bergerak di atas lantai. Singkirkan barang pecah belah, biarkan anak eksplorasi di atas tumpukan bantal atau dari satu sofa ke kursi lain. Anda bisa mengawasi sambil tetap mengerjakan pekerjaan rumah yang lain. Dijamin, anak akan lupa dengan gadgetnya!

Bila semua cara tak lagi ampuh... 

Jadikan screen time sebagai reward atau penghargaan. Misalnya, boleh bermain gadget selama satu jam apabila ia sudah membereskan kamarnya. Tambahan ekstra 15 menit jika mereka membantu Anda mencuci piring. Berikan banyak kegiatan yang memakan waktu, sehingga dalam sehari ia akan lebih banyak melakukan tugas rumah atau kegiatan lain dibandingkan bermain game atau menonton telvisi, Tetap ingat untuk batasi penggunaan screen time dalam sehari, ya. Karena anak perlu rehat dari paparan sinar yang buruk untuk penglihatannya. 

 

 



Tanya Skata