Seiring dengan diberlakukannya adaptasi kebiasaan baru (AKB), tempat-tempat wisata di sejumlah kota mulai dibuka. Di Jabodetabek sendiri, sejumlah museum, unit rekreasi di Ancol, Taman Safari mulai kembali beroperasi di bulan Juni 2020. Sayangnya, banyak didapati orang tua yang mengajak anaknya ke tempat wisata. Meskipun sebagian besar pengunjung memakai masker, namun jika Anda berkunjung ke tempat wisata saat sedang ramai-ramainya, menjaga jarak merupakan hal yang mustahil. Apalagi, anak berusia di bawah dua tahun belum diperbolehkan menggunakan masker. Anak usia sekolah pun belum tentu bisa mematuhi protokol kesehatan tanpa arahan terus menerus dari orang tua. 

Di sisi lain, mengunjungi tempat wisata maupun melakukan kegiatan rekreatif lainnya mampu menghilangkan stres dan tekanan mental yang mungkin terjadi pada anak selama pembatasan sosial. Jadi, apakah mengajak anak ke tempat wisata saat AKB adalah keputusan yang bijak? 

Beberapa tips dari National Geographic berikut bisa Anda ikuti.

1. Cari tahu kebijakan dan fasilitas tempat wisata tujuan selama AKB

Menurut Joshua Sarfstein, wakil dekan di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, cek terlebih dahulu kebijakan yang diterapkan oleh tempat wisata sebelum berangkat. Biasanya, hal ini terkait pemberlakukan protokol kesehatan seperti pembatasan jumlah pengunjung. Pastikan pula ada tidaknya fasilitas seperti toilet, musholla, nursing room (ruang menyusui), dan apakah fasilitas tersebut dibersihkan lebih rutin dengan disinfektan. Cari tahu pula apakah tempat tersebut menyediakan tempat cuci tangan dengan sabun serta hand sanitizer di sejumlah titik. Jika tidak ada informasi yang memadai, pilih tempat wisata lain.

2. Kunjungi tempat wisata di jam sepi

Menghindari akhir pekan bisa menjadi pilihan, berikut jam kunjung pada awal waktu buka tempat wisata. Semakin sepi tempat wisata, semakin tenang Anda karena tidak perlu membatasi ruang gerak anak seperti ketika berada di kerumunan. Jangan ragu untuk memilih lokasi lain ketika Anda mendapati tempat wisata sudah penuh oleh deretan kendaraan atau pengunjung yang berjubel. Berikan pemahaman pada anak mengenai rencana cadangan ini agar tidak terjadi tantrum ketika tempat wisata idamannya tidak kondusif.

3. Utamakan lokasi luar ruang

Mungkin keluarga Anda lebih menyukai “rekreasi” di ruang ber-AC seperti playland, mall, atau staycation di hotel. Untuk saat ini, sebaiknya utamakan lokasi luar ruang karena memiliki sirkulasi udara yang lebih bagus. Di beberapa tempat wisata mungkin terasa panas, namun pilihan untuk mengunjungi tempat bersuhu dingin maupun datang lebih awal bisa jadi solusi. Ini bisa jadi kesempatan baik bagi Anda untuk mengenalkan anak pada alam.

4. Bawa alat kebersihan pribadi

Ya, tidak semua tempat wisata memang memberikan pelayanan sanitasi dan kebersihan sesuai standar keluarga Anda. Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, bawa sendiri perlengkapan kebersihan pribadi seperti hand sanitizer, sabun cair, tisu kering, tisu basah, maupun pakaian ganti.

5. Pakai masker

Di tempat wisata yang tertutup seperti museum, penggunaan masker akan sangat efektif mencegah penyebaran virus SARS-CoV2. Meskipun di pintu masuk setiap orang sudah diwajibkan mencuci tangan dan dipindai suhu tubuhnya, penggunaan masker tidak boleh dikesampingkan, apalagi sekadar menggantinya dengan face shield. Memang lebih tidak gerah, namun face shield masih belum efektif mencegah droplet yang jatuh ke bagian bawah mulut.

Sebagai kesimpulan, Marissa Levine, pakar kesehatan masyarakat di University of South Florida, AS, mengingatkan bahwa virus SARS-CoV2 akan membersamai kita semua dalam waktu yang lama. Karena itu, merawat kondisi mental anak dan orang tua tidak kalah penting dengan memaksimalkan perlindungan fisik. Kreatif mencari cara dan tempat bersenang-senang yang aman untuk anak.   

 



Tanya Skata