Tak berlebihan kiranya jika seorang Maudy Ayunda bisa diterima di dua universitas bergengsi di dunia, Harvard dan Stanford. Pasalnya, Maudy sudah berangan-angan untuk kuliah di Harvard sejak masih SD! Anda mungkin berpikir, apa yang dilakukan orang tua Maudy hingga anak mereka bisa berpikir jauh ke depan dan konsisten mewujudkan cita-citanya? Dan, pada usia berapa sebaiknya anak maupun remaja bisa diajak untuk membuat daftar keinginan dan rencana masa depan?

Menurut Alzena Masykouri, M.Psi, Psikolog, anak usia 4-5 tahun sudah bisa belajar membuat rencana kegiatan. Misalnya, setelah mandi apa yang ingin anak lakukan. Namun, untuk membuat rencana masa depan yang berkaitan dengan ingin menjadi apa, bagaimana cara meraihnya, rentang usia yang tepat adalah sekitar 16 tahun. Meskipun, ada juga remaja yang berusia lebih muda namun mampu membuat rencana karena perkembangan pola pikirnya.

Baca: Pahami Remaja, Ketahui Perkembangan Otaknya

Seberapa penting rencana masa depan bagi remaja?

Anda mungkin merasa hidup mengalir begitu saja, sekolah, kuliah, bekerja, menikah. Namun, dimana remaja kelak bekerja akan ditentukan oleh apa jurusan kuliahnya. Dimana ia kuliah akan ditentukan oleh minatnya dan kemampuan yang dimilikinya, yang tentu dibangun selama proses pendidikan di sekolah dan rumah. Tanpa rencana masa depan, saat dewasa nanti remaja bisa mengalami krisis tentang apa tujuan hidupnya atau benarkah yang ia jalani merupakan hal yang diinginkannya.

Untuk saat ini, rencana masa depan setidaknya akan membantu remaja untuk:

1. Bertanggung jawab atas apa yang dipilihnya dan dipelajarinya

2. Menumbuhkan sikap optimis

3. Membentuk kebiasaan yang bertahan hingga dewasa nanti

Bagaimana langkah memandu remaja untuk membuat rencana masa depan?

Dalam buku Big Life Journal –sebuah jurnal perencanaan untuk anak dan remaja berdasarkan riset Dr. Carol Dweck- ada empat langkah yang bisa dilakukan untuk merencanakan masa depan dengan lebih mudah. 

Pertama, pilih satu impian terbesar. Agar mudah menjawabnya, Anda bisa membantu dengan mengajukan pertanyaan “apa hal yang ingin sekali kamu capai di masa depan?” Jika ia masih bingung, minta ia menyebut hal-hal yang disukainya dan bantu mengaitkan hal tersebut dengan profesi yang ada.

Kedua, diskusikan tujuan mimpi tersebut. Misal, pada pertanyaan pertama remaja menjawab ingin menjadi seorang sineas atau pembuat film, maka diskusikan apa tujuan yang ingin ia capai dari menjalani profesi tersebut. Apakah karena ia ingin meraih Piala Oscar seperti sutradara favoritnya? Apakah ia ingin bisa menyampaikan pemikirannya lewat film? Jika remaja sudah bisa menyebut tujuan dari rencana masa depannya, tanyakan pula bagaimana tujuan tersebut bisa bermanfaat bagi orang lain.

Ketiga, buat tahapan untuk mencapai mimpi. Tahap ini sangat penting, mengingat banyak remaja “sekadar ingin” namun tidak memiliki rencana terukur untuk mencapainya. Agar lebih mudah, ibaratkan mimpi tersebut ada di tangga teratas, lalu anak tangga di bawahnya sebagai langkah untuk mencapainya. Misal, masuk kuliah perfilman adalah yang terpikir di benak remaja, buat lebih rinci lagi hal-hal yang mampu membantu mewujudkan rencana masa depannya itu sejak sekarang. Hal tersebut bisa mengikuti ekskul sinematografi, membuat satu film pendek atau konten YouTube per bulan, atau mengikuti video competition.

Baca: Panduan Kategori Film untuk Remaja

Keempat, pertimbangkan hal yang bisa menghambat mimpi tersebut. Optimisme memang penting, namun mengetahui apa yang berpotensi membuat mimpi tidak tercapai atau sulit tercapai juga tidak kalah penting. Tanyakan pada remaja, apa kebiasaan buruknya atau hal yang ia lakukan ketika menghadapi kegagalan. Dengan mengetahuinya, remaja bisa menyiapkan respon terbaik untuk menghadapi hal tersebut maupun berusaha menghilangkan kebiasaan buruknya.

Jangan lupa, tulis!

Ya, riset dr. Gail Matthews dari Dominican University California menunjukkan bahwa orang yang menuliskan rencana masa depannya dengan detil memiliki kemungkinan 42% lebih besar untuk mewujudkan mimpinya. Menuangkan mimpi dalam tulisan membuat otak remaja “dipaksa” menjabarkan strategi, membulatkan tekadnya, dan termotivasi untuk lebih giat berusaha saat berulang kali melihat tulisan tersebut. Anda sebagai orang tua pun lebih mudah membantunya mewujudkan rencana masa depan Ananda.

 



Tanya Skata