Selamat datang di fase adaptasi kebiasaan baru (new normal), saat aktivitas sehari-hari harus dilaksanakan dengan mengikuti protokol kesehatan, termasuk saat berolahraga. Bukan pemandangan yang aneh lagi saat ini ketika Anda melihat orang memakai masker saat berolahraga, baik bersepeda maupun hanya jogging di sekitar lingkungan tempat tinggal. Alasannya tentu saja untuk mencegah orang lain tertular virus corona jika orang tersebut ternyata OTG (Orang Tanpa Gejala). Risiko penularan ketika berolahraga semakin tinggi mengingat detak jantung bisa meningkat 2-4 kali lipat, yang artinya terjadi peningkatan droplets (percikan air liur).

Namun ternyata, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa memakai masker saat berolahraga memiliki sejumlah risiko. Eksperimen yang dilakukan oleh Len Kravitz, profesor ilmu keolahragaan University of New Mexico, dalam nytimes.com menunjukkan bahwa rasa pusing bisa muncul pada atlet tertentu ketika berlari dengan memakai masker. Percobaan lain dilakukan oleh dr. Bryant dari American Council on Exercise untuk melihat efek masker saat berolahraga. Hasilnya, peningkatan detak jantung menjadi lebih tinggi dibanding saat tidak memakai masker dengan intensitas olahraga yang sama.

Jadi, apakah sebaiknya tidak memakai masker saat berolahraga?

CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di AS) memang menjadikan aktivitas intensitas tinggi seperti berlari sebagai pengecualian dalam anjuran memakai masker. Alasannya, memakai masker saat berolahraga sejenis bisa menyebabkan kesulitan bernafas. Solusi yang ditawarkan adalah melakukan olahraga tanpa masker di area yang memiliki sirkulasi udara baik (misal di luar ruangan) atau lokasi yang memungkinkan untuk menjaga jarak aman dengan orang lain.

Baca: 5 Syarat Masker Kain yang Bisa Cegah Tularkan Virus

Sayangnya, tidak semua orang dapat memenuhi kondisi di atas saat berolahraga. Terkait hal ini, Christa Janse van Rensburg, profesor ilmu keolahragaan di University of Pretoria Afrika Selatan memiliki sejumlah tips agar nyaman memakai masker saat berolahraga, seperti :

1. Hindari masker medis atau masker yang berbahan dasar kertas karena pori-porinya rapat sehingga cepat basah saat nafas penggunanya bertambah cepat. Masker yang basah dapat mengurangi efektivitas menahan droplets.

2. Ganti dengan masker kain bahan sintetis yang biasanya memiliki sirkulasi udara yang lebih baik (meski efektivitas menahan virusnya lebih rendah) sehingga tidak cepat basah seperti masker kain berbahan katun. 

3. Pilih masker kain yang maksimal terdiri dari dua lapis karena semakin tebal semakin rentan membuat wajah kepanasan.

4. Bawa masker cadangan. Masker bersirkulasi baik pun pada satu titik akan menjadi lembab, apalagi jika digunakan lebih dari 30 menit. Karena itu, bawa masker cadangan untuk efektivitas maksimal menahan droplets.

5. Pakai masker khusus olahraga. Masker khusus untuk berolahraga ini mulai banyak dijumpai dalam berbagai model, salah satunya memiliki katup ventilasi di bagian pipi.

Satu hal yang perlu diingat, semakin baik sirkulasi masker untuk olahraga, semakin rendah efektivitasnya dalam menahan virus. Karena itu, tetap jaga jarak dengan orang lain meskipun sudah memakai masker saat berolahraga. Selain disiplin physical distancing, “ujian” lain kala memakai masker saat berolahraga adalah rasa tidak nyaman di wajah. Jika Anda berolahraga di gym atau tempat jarak antarorang relatif dekat di dalam ruang tertutup, tetap gunakan masker, ya! Jangan lupa, pakai dan lepas masker dengan cara yang benar.

 

 



Tanya Skata