Ada satu hal yang mungkin mengganggu benak sebagian besar orang tua saat kegiatan sekolah terpaksa berpindah ke rumah karena pandemi virus corona: makin sedikitnya waktu olahraga untuk remaja. Dengan meningkatnya penggunaan gadget untuk keperluan online learning, remaja menjadi “kaum rebahan”. Bukan sekadar lelucon, istilah “kaum rebahan” muncul karena generasi muda saat ini daya juangnya terlihat lebih rendah, karena keadaan serba mudah dengan adanya teknologi. Istilah mager (malas gerak) juga sering jadi alasan remaja untuk tidak melakukan sesuatu. Tidak ingin kan, remaja benar-benar menjadi “kaum rebahan” hingga dewasa?

Karena itu, sesempit apapun rumah Anda, sebanyak apapun tugas sekolah Ananda, sesibuk apapun Anda dengan pekerjaan dan segala macamnya, motivasi remaja Anda rutin berolahraga. Olahraga untuk remaja memiliki banyak manfaat, mulai dari mencegah obesitas (yang juga mencegah timbulnya penyakit degeneratif seperti diabetes dan jantung), memperbaiki mood, juga melatih kerjasama dan sportivitas pada olahraga kelompok. Bagi remaja putri, olahraga mampu mencegah kelainan pola makan seperti bulimia dan dapat membentuk konsep diri positif. Olahraga untuk remaja laki-laki di sisi lain memegang peranan penting dalam menyalurkan dorongan seksual yang sedang tinggi-tingginya.

Lalu, apa saja olahraga untuk remaja yang minim risiko di masa pandemi ini?

Olahraga berkelompok yang dilakukan dengan teman seperti basket dan sepakbola sebaiknya dihindari. Selain sulit menjaga jarak aman dengan teman saat berolahraga, alat yang digunakan pun disentuh oleh banyak orang. Namun, jika remaja melakukannya dengan orang tua dan anggota keluarga lain yang masih tinggal satu rumah dan terbukti sehat, olahraga kelompok masih aman dilakukan. 

Artinya, cara paling aman adalah melakukan olahraga sendiri. Inilah beberapa pilihan yang bisa remaja lakukan sendiri:

1. Skipping (lompat tali)

Semasa Anda kecil, skipping mungkin cukup populer, apalagi olahraga lompat ini juga bisa dilakukan dengan tali karet yang saat itu menjadi mainan wajib anak perempuan. Kini, Anda bisa mengenalkan skipping sebagai olahraga untuk remaja. Jika belum terbiasa, lakukan dengan durasi pendek kemudian tingkatkan durasinya di hari-hari berikutnya. Jangan lupa, pilih lokasi yang cukup besar untuk putaran tali.

2. Jalan pagi, jogging, berlari

Setelah berbulan-bulan mengurung diri #dirumahaja, olahraga di luar rumah tentu membuat remaja bersemangat. Baik sendiri atau bersama keluarga, remaja bisa melakukan jogging berkeliling lingkungan tempat tinggal. Jika kuat, remaja bisa meningkatkannya menjadi berlari. Mengingat remaja suka dengan tantangan, ajak ia untuk menghitung berapa langkah dalam sehari ia bisa berjalan atau berapa kilometer ia bisa jogging dan berlari. Gunakan aplikasi di ponsel untuk menghitung. Jangan lupa untuk melakukan pemanasan ya!

3. Bersepeda 

Ini dia olahraga yang sedang populer: bersepeda. Bersepeda selama satu jam bisa membakar 1000 kalori lho! Agar olahraga ini tidak terasa berat untuk remaja, pilih medan yang bebas tanjakan. Meskipun adaptasi kebiasaan baru (AKB) sudah diberlakukan, sebisa mungkin bujuk remaja untuk tidak melakukannya beramai-ramai dengan teman, apalagi jika setelahnya mereka berkumpul untuk mengobrol atau makan.

4. Dance

Remaja perempuan bisa melirik dance sebagai olahraga yang menyenangkan. Alih-alih bergoyang bebas mengikuti musik, mengapa tidak mencoba mengikuti dance tutorial yang banyak tersedia di YouTube? Tutorial semacam ini biasanya dilakukan per gerakan dan bisa diulang-ulang hingga remaja menguasai gerakan tersebut. Dance pun bisa menjadi pilihan olahraga untuk remaja laki-laki lho! 

5. Olahraga tim yang dilakukan sendiri

Ya, bermain bola sendiri atau bermain basket sendiri bisa menjadi pilihan olahraga untuk remaja. Jika halaman rumah cukup luas untuk sebuah ring basket atau gawang, remaja bisa melakukan olahraga ini sendiri atau bersama keluarga. Lapangan komplek perumahan juga bisa menjadi tempat berolahraga, namun pastikan kondisinya sedang sepi.

Dalam memotivasi remaja untuk berolahraga, pastikan Anda pun turut aktif melakukan olahraga. Orang tua adalah contoh terbaik bagi anaknya, apalagi remaja sudah bisa berpikir kritis ketika melihat orang tuanya hanya menyuruh tanpa ikut melakukan. Dari 24 jam dalam sehari, 15-30 menit saja tentu tidak akan menyita waktu. Jika terasa berat, ingatkan remaja (dan diri Anda sendiri) bahwa kesehatan adalah hal yang paling berharga saat ini, mengingat pandemi virus corona masih belum berakhir.

 

 



Tanya Skata