“Usia saya sudah tidak muda ketika melahirkan Sabrina (16 tahun). Saya pikir, usia hanya berpengaruh pada fisik alias akan lebih lelah mengurus bayi saat itu ketimbang di usia lebih muda. Ternyata saya salah, banyak hal antara saya dan anak semata wayang yang sulit sejalan. Entah karena perbedaan usia anak dan orang tua yang cukup siginifkan, atau hal lain,”  -Risya 56 tahun. 

Banyak yang bilang, menjadi orang tua di usia dewasa muda adalah ideal. Kondisi fisik pada usia ini masih terbilang prima sehingga tubuh lebih berenergi untuk merawat dan memperhatikan tiap detil perkembangan anak. Sementara itu, orang tua yang tak lagi muda ketika memiliki anak pertama memiliki kelebihan pengalaman hidup yang lebih banyak untuk berbagi pelajaran pada anak, namun kondisi fisik tak lagi maksimal. Lalu sebenarnya adakah pengaruh perbedaan usia anak dan orang tua terhadap perkembangan anak? Apakah orang tua dengan jarak usia yang cukup jauh dengan anak mempengaruhi perkembangan mereka? Berikut hasil wawancara dengan dr. Irmia Kusumadewi, SpKJ(K).

Sebenarnya, berapa sih usia ideal menjadi orang tua? 

Saat seseorang sudah memiliki kematangan kepribadian atau personality (mengerti perkembangan anak, menyadari kemampuan dirinya untuk mendidik, termasuk mengenal keterbatasan dirinya) maka dia sudah dikatakan sanggup bertanggung jawab untuk menjadi orang tua. Biasanya ini terjadi di usia dewasa awal antara usia 26 -35 tahun. 

Adakah pengaruh usia orang tua dalam perkembangan anak? 

Peran orang tua tidak selalu terkait dengan usia. Pola asah, asih, asuhnya sama saja. Semua ingin anaknya tumbuh baik dan berkembang optimal, namun cara mereka mengasuh itu tergantung pada kepribadian. Nah, kematangan kepribadian ini yang ada pengaruhnya dengan usia. 

Ada teori parenting mengatakan, orang tua muda memiliki energi prima untuk mengurus anak namun memiliki kecenderungan depresi. Sementara itu, orang tua berusia matang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih banyak, namun keturunan mereka berisiko mengalami keterlambatan tumbuh kembang. Benarkah demikian? 

Bisa jadi. Orang tua dengan usia muda memang lebih energik namun memiliki ketahanan mental yang lebih rendah dikarenakan emosi yang terkadang belum stabil. Mereka yang memiliki anak di usia dewasa tua atau lanjut, memiliki banyak pengalaman. Namun, secara fisik bibit mereka kemungkinan sudah “layu” sehingga anak yang lahir rentan mengalami keterlambatan perkembangan kemampuan otak. 

Baca: Seberapa Besar Gen Ayah Berpengaruh Pada Anak?

Jadi, apa saja pengaruh perbedaan usia anak dan orang tua yang cukup jauh?

Dilihat dari faktor neurokognitif (cara berpikir, cara mengambil keputusan, inisiatif), anak yang lahir dari orang tua yang usianya terpaut jauh memiliki risiko perkembangan yang tak semaksimal anak dari orang tua yang masih muda. Hal ini bisa disebabkan oleh kualitas sel telur dan sperma yang sudah menurun, tenaga orang tua yang sudah tidak maksimal, maupun pola pengasuhan yang lebih kaku sehingga kurang toleran terhadap perkembangan anak yang bervariasi. 

Lalu bagaimana cara berkomunikasi yang baik antar orang tua dengan anak dengan perbedaan usia yang cukup jauh? 

● Orang tua wajib menempatkan diri dalam pikiran remaja secara empatik dan fleksibel

● Perlu memahami dan mengerti gejolak hormonal dan keterbatasan daya pikir remaja

● Orang tua perlu belajar tahapan perkembangan remaja sehingga mampu berkomunikasi sesuai tingkat pemahaman remaja 

● Yang paling penting, lakukan komunikasi dua arah tanpa memaksa

Perbedaan usia anak dan orang tua yang cukup jauh sebenarnya bukanlah halangan terwujudnya komunikasi efektif antara keduanya. Saling memahami dan mengerti, tanpa memaksakan kehendak bisa menjembatani kekurangan yang mungkin ada terkait dengan perbedaan usia tadi. Jadi, tak perlu khawatir jika Anda salah satu orang tua yang tidak memiliki anak di usia dini. Pahami perkembangan remaja, pahami juga kebutuhannya dan selalu jaga komunikasi dua arah adalah kunci. 

 

 

 

 

 

 

 



Tanya Skata