Video investigasi yang dilakukan sebuah perusahaan IT di AS menunjukkan betapa anak dan remaja putri rentan mengalami kekerasan seksual online. Tim tersebut menciptakan sosok fiktif bernama Libby, remaja 15 tahun di Instagram, untuk melihat berapa banyak predator seks yang mendekatinya. Hanya dalam waktu 1 jam setelah akun Instagram Libby diaktifkan, 7 pria dewasa mengiriminya chat. Dalam 9 hari, jumlahnya meningkat menjadi 92 pria. Pesan yang dikirim para predator seks ini beragam, mulai dari menggoda, mengutarakan fantasi seks, hingga permintaan foto bagian pribadi.

Anda yang memiliki remaja putri mungkin merasa aman karena sudah membekali mereka dengan pendidikan seks dan rambu-rambu dalam bermedia sosial. Sayangnya, kekerasan seksual online juga dapat tejadi pada usia pra pubertas. Ketika tim tersebut menciptakan tokoh baru bernama Bailey yang baru berusia 11 tahun, hanya dalam waktu satu menit permintaan pertemanan, chat, bahkan video call masuk tanpa henti. Yang lebih mengerikan, para predator seks ini “memberitahu” cara melakukan sejumlah aktivitas seksual, tentunya dengan bahasa dan bujukan yang disesuaikan untuk anak.

Dengan meningkatnya aktivitas online sebagai dampak dari anjuran #dirumahaja dan belajar di rumah, kemungkinan remaja mengalami kekerasan seksual online pun semakin besar. Data Komnas Perempuan sepanjang Maret 2020, KBGO (Kekerasan Berbasis Gender Online) mendominasi aduan di awal masa isolasi. Tidak jauh berbeda, sepertiga dari aduan yang diterima LBH APIK (Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan) dalam kurun waktu sebulan setelah anjuran physical distancing adalah KBGO. Ini hanya kasus terlapor. Jika remaja yang mengalami (apalagi remaja awal), kemungkinan besar mereka akan menyimpannya sendiri, bercerita pada teman, atau pada orang tua jika mereka tidak malu.

Sebagai orang tua, Anda harus memahami bahwa kekerasan seksual online hanyalah salah satu bagian dari KGBO. Ada banyak kekerasan online lain yang terjadi karena korbannya berjenis kelamin atau gender tertentu, yang umumnya adalah perempuan. Panduan dari SAFEnet, sebuah jaringan yang peduli pada isu kebebasan berekspresi online, menunjukkan bahwa cyber grooming (pendekatan untuk memperdaya), ancaman distribusi video pribadi, hacking (peretasan), konten illegal, dan pencemaran nama baik juga merupakan bentuk KGBO. Remaja sangat mungkin pernah mengalami hal-hal tersebut di media sosial.

Penelitian oleh Janis Wolak, dkk yang dimuat di laman Psychology Today menunjukkan bahwa chatroom atau ruang dimana pengguna media sosial bisa berkomunikasi langsung merupakan tempat yang paling rentan bagi remaja untuk kekerasan seksual online. Permintaan berbau seks sering ditemui via chat, termasuk obrolan cabul. Tidak semua remaja menerima pesan seks semacam ini. Remaja yang terlalu lama menghabiskan waktu chatting di media sosial dan mereka yang kurang cakap bersosialisasi (misal malu atau kesepian) lebih rentan mengalami kekerasan seksual online.    

Dapatkah orang tua melindungi remaja dari kekerasan seksual online?

Anda tidak dapat mengawasi mereka selama 24 jam. Membangun rasa saling percaya dengan anak pun tidak dapat terjadi dalam satu waktu. Sambil terus berupaya menjalin komunikasi yang terbuka, Anda dapat memperkenalkan seks pada remaja melalui delapan cara ini. Selain itu, beri pemahaman pada remaja tentang “wajah asli” media sosial agar indahnya dunia maya tidak membuat remaja terlena. 

Kemudian, dalam kasus kekerasan seks online oleh orang yang tidak dikenal, pengaturan privasi di dunia maya menjadi hal yang sangat penting. Pastikan remaja memahami dengan baik pengaturan privasi (privacy setting) di setiap akun media sosial mereka, termasuk akun Google. Sebagai orang tua, Anda pun harus paham akan hal ini sehingga bisa membantu memastikan remaja aman berselancar di dunia maya.

 

 



Tanya Skata