Hanya karena dunia kini telah berubah akibat pandemi, kebutuhan anak remaja Anda tak seharusnya menjadi berbeda. Remaja masih butuh dianggap mampu, butuh bersosialisasi dengan teman, butuh tantangan, dan tetap butuh dunia yang memberikan masa depan untuknya. Sayangnya, pembatasan sosial saat ini menuntut remaja untuk mampu menahan diri untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Dan, tidak semua bisa menjalaninya dengan mudah. Orang tua dituntut untuk peka terhadap munculnya sejumlah masalah yang dialami remaja saat pandemi, yaitu: 

1. Memburuknya masalah yang ada

Menurut Alzena Masykouri, M.Psi, Psikolog, sejauh ini masalah remaja yang muncul merupakan bentuk yang lebih intens dari masalah yang sudah ada sebelumnya. Jadi, pandemi tidak menimbulkan masalah baru, namun lebih ke memperburuk masalah yang ada. Hal ini bisa jadi anak dan orang tua selama ini cenderung menghindari penyelesaian masalah dengan mengalihkan perhatian ke aktivitas luar rumah. Ketika interaksi orang tua –anak meningkat, problem pun kembali mengemuka.

2. Harus menghadapi rasa kecewa

Remaja bisa saja kecewa akibat kehilangan sesuatu yang mereka senangi seperti kegiatan sekolah, hang out saat weekend, menonton konser, atau wisuda yang terpaksa dibatalkan. Apalagi, jika mereka terlibat dalam persiapan event-event tersebut. Namun, bisa jadi bagi remaja introvert, #dirumahaja membuat mereka lebih bahagia karena tidak harus berusaha tampak nyaman di tengah hiruk pikuk pergaulan maupun berusaha berkomunikasi dengan teman yang tak sejalan dengannya. 

Baca: Menjaga Kesehatan Mental Remaja Saat Pandemi

3. Harus mengikuti perubahan aturan ujian 

Bagi mereka yang sudah belajar dan mempersiapkan diri, pembatalan ujian sehingga 100% siswa lulus membuat mereka merasakan ketidakadilan. Mereka yang berada di kelas 12 pun harus bersabar mengikuti jadwal ujian SBMPTN yang diundur-undur, juga perubahan sistem ujian dari dua kesempatan menjadi hanya sekali saja. Ini belum termasuk lulusan SD dan SMP, yang juga harus menghadapi PPDB (Pendaftaran Calon Peserta Didik Baru) dengan sistem baru.

4. Terbatasnya aktivitas fisik

Bermain basket saat jam istirahat, ekskul sepakbola sore hari, atau bahkan hanya berjalan sambil mengobrol di lorong-lorong sekolah merupakan hal yang bersifat rekreatif bagi remaja. Ketika dihadapkan pada aktivitas #dirumahaja, tentu rasa bosan muncul. Gadget pun menjadi pelarian masalah jika orang tua tidak memiliki kesepakatan tentang penggunaannya. Kamar menjadi tempat ternyaman bagi remaja, yang membuat Anda mungkin “gemas” karena ia jadi abai dengan tugas rumah tangga atau kehilangan kehangatan komunikasi keluarga.

5. Pertemanan online tidak dapat menggantikan tatap muka

Remaja dengan media sosial memang tak terpisahkan. Namun, komunikasi online ini memiliki keterbatasan yang “menyebalkan” bagi mereka. Respon tertunda, kalimat yang dimaknai berbeda, bisa memicu munculnya masalah dengan teman atau pacar. Video call bisa menjadi penolong, walau tak bisa 100% menggantikan serunya berkumpul bersama. Akhirnya, keterbatasan ini membuat remaja tetap terdorong untuk bertemu teman apalagi PSBB sudah dilonggarkan. Ketika Anda disiplin untuk #dirumahaja, perselisihan bisa terjadi.

Baca: Cara Merespon Konflik dengan Remaja, Anda yang Mana?

Bagaimana cara orang tua membantu mengatasi masalah remaja?

Menurut Alzena, pada usia ini remaja seharusnya sudah tidak lagi egosentris. Mereka sudah bisa melihat masalah apa yang terjadi di sekitarnya. Karena itu, Anda bisa mengarahkan remaja agar merasa bermanfaat bagi orang lain. 

“Diskusikan situasi dan kondisi yang terjadi saat ini di sekitar remaja, kemudian dengarkan apa pendapat mereka. Minta mereka mengemukakan saran-saran yang bisa dilakukan baik sendiri maupun bersama teman-teman, beri dukungan jika memang hal tersebut positif,” jelas Alzena.

Dengan berkontribusi terhadap penyelesaian masalah yang ada, remaja dapat berlatih simpati dan merasa lebih berarti. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



Tanya Skata