Bosan. Mungkin kata ini mewakili apa yang dirasakan banyak remaja saat sekolah wabah virus corona membuat mereka tidak dapat ke luar rumah. Dunia remaja yang erat dengan pertemanan menjadikan karantina sebagai hal yang sangat berat, yang bisa membuat remaja menjadi uring-uringan. Jika Anda kurang peka dengan kondisi ini, konflik dengan remaja bisa terjadi. Apalagi jika kondisi ekonomi keluarga terpengaruh pandemi. 

Bersyukurlah bagi Anda yang sudah mengajarkan Ananda berwirausaha sejak kecil baik melalui soft skill yang ditanamkan dalam keluarga, mengajari anak menjual barang ke teman, atau memberi beberapa tugas saat Anda menjalankan usaha. Ketika keuangan keluarga sedang krisis, remaja usia SMP atau SMA sudah bisa dilibatkan untuk turut aktif berperan untuk memperbaiki keadaan. Anda tidak perlu membebani dengan target tertentu. Melihatnya mau ikut serta membantu keluarga saja sudah merupakan bentuk dukungan moral sekaligus melatih ketangguhannya menghadapi masalah. Jika ada pemasukan, setidaknya bisa membuat ia tidak perlu lagi meminta uang saku.

Lalu, apa saja yang bisa dijual oleh anak usia remaja dalam kondisi pembatasan sosial seperti ini?

1. Dessert buatan sendiri

Bermodal video tutorial membuat kue dan makanan penutup, Anda bisa mengajak remaja untuk mencoba resep yang kira-kira disukai oleh teman-temannya. Beberapa yang sempat populer adalah pie susu Teflon, dessert box dengan cream cheese, atau puding susu Milo/Oreo. Semuanya mudah dibuat, namun perlu konsistensi agar rasanya memiliki nilai jual. Anda bisa membimbing remaja menghitung harga, memilih nama serta kemasan. Perhatikan pula berapa lama dessert bisa bertahan agar dapat memilih metode pengiriman dan jangkauan lokasi pembeli.

2. Reseller camilan

Kebiasaan membeli kudapan di minimarket terpaksa harus dikurangi, padahal #dirumahaja membuat hasrat untuk ngemil meningkat. Inilah mengapa makanan ringan tetap banyak dicari. Jika Anda memiliki teman yang gemar membuat camilan, tawarkan untuk memasarkan (atau malah mengemas) produknya bersama remaja. Untuk pangsa pasar usia sekolah, pastikan kemasannya kecil sehingga harganya terjangkau.

3. Jasa hampers atau kado

Remaja biasanya menganggap ulang tahun sebagai hal yang patut dirayakan. Adanya pembatasan sosial membuat kebiasaan ini menjadi selebrasi yang layak dipertahankan meskipun tanpa acara makan-makan. Ya, mengirim kado bisa menjadi solusi, layaknya demam hampers atau parcel kala lebaran lalu. Remaja putri yang biasanya gemar dengan hias menghias bisa Anda tawarkan untuk mencoba mengemas kado dengan cantik. Cari inspirasi di Pinterest atau Instagram, gunakan bahan sesuai selera dan kemampuan pemesan, jangan lupa foto produk jadi dengan cantik agar semakin banyak yang tertarik.

Baca: 5 Prinsip Wajib dalam Mengatur Keuangan Keluarga

4. Minuman dan makanan kesehatan

Gaya hidup sehat memang sudah menjadi tren beberapa tahun lalu, namun wabah virus corona membuat makin banyak orang peduli dengan imunitas mereka. Untuk remaja, kesadaran hidup sehat ini mungkin masih dipengaruhi oleh orang tua mereka. Karena itu, pilihan “sehat” yang masih disukai remaja bisa seputar olahan buah seperti jus buah segar maupun salad sayuran. Membuatnya pun tidak sulit. Jika ada produk makanan minuman kesehatan siap jual, tawarkan remaja untuk mencoba menjadi reseller.

5. Masker custom

Masker sudah menjadi kebutuhan harian bagi mereka yang harus keluar rumah. Bagi remaja, masker juga menjadi fashion item layaknya pakaian. Jika remaja memiliki sentuhan seni yang bagus atau hobi mendesain, tantang ia untuk menjual masker hasil karyanya sendiri. Gunakan cat akrilik atau cat kain, lihat tutorialnya di WikiHow atau Google.

Baca: Agar Potensi Remaja Jadi Prestasi

6. Sanitizer

Sekarang,  siapa yang tidak memiliki sanitizer? Baik #dirumahaja maupun saat bepergian, sanitizer menjadi barang wajib. Karena itu, berjualan sanitizer bisa menjadi pilihan, baik menjual kembali produk yang sudah ada atau membeli sanitizer beberapa liter kemudian dikemas sendiri. Untuk produk seperti ini, pastikan sanitizer yang dibeli memenuhi standar kesehatan.

7. Membantu usaha keluarga

Anda sudah memiliki usaha? Cara termudah mengajaknya belajar bisnis adalah dengan memberinya ruang untuk terlibat, baik itu pada tahap produksi ataupun pemasaran. Cara paling mudah adalah mempromosikannya melalui status media sosial atau grup WhatsApp. 

Saat Ananda berhasil menjual produk tersebut, tanyakan apa yang ia rasakan. Motivasi remaja untuk merasa bangga akan jerih payahnya dan beri apresiasi. Bisa jadi niat awal hanya menghilangkan bosan atau mencari uang saku, namun bukan tak mungkin jika berwirausaha menjadi hal yang dinikmatinya dan ditekuninya. Siapa tahu, berawal dari pandemi, akhirnya remaja memiliki bisnis sendiri.

 

 

 

 



Tanya Skata