Enam bulan sejak awal ditemukannya kasus penularan virus corona baru atau SARS-CoV-2, obat maupun vaksin yang dapat menghambat perkembangan virus ini belum ditemukan. Ilmuwan di seluruh dunia berpacu dengan waktu mencari cara untuk mengalahkan virus penyebab Covid-19, sementara kasus positif terus bertambah. Anda tentu sempat mendengar sejumlah cara penyembuhan yang sempat diberitakan oleh media, mulai dari obat malaria bernama chloroquine hingga obat anti radang bernama dexamethasone. Ini belum termasuk bahan alami dan tradisional yang menurut penelitian dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh seperti virus corona, seperti jambu biji.

Bagaimana cara kerja obat-obatan tersebut?

Dalam situs bbc.co.uk diberitakan bahwa lebih  dari 150 obat telah diuji coba di seluruh dunia, dimana sebagian besar bukanlah obat baru. Pada dasarnya, keseluruhan obat tersebut secara garis besar dapat digolongkan menjadi 3 jenis, yaitu:

1. Obat antivirus, yang bekerja dengan cara mempengaruhi perkembangan virus corona di dalam tubuh

2. Obat yang membuat sistem imun lebih tenang, mengingat serang virus dapat membuat sistem imun bereaksi berlebihan dan menyebabkan gangguan kesehatan yang lebih buruk

3. Antibodi, baik yang dibuat di laboratorium maupun yang berasal dari darah pasien positif Covid-19 yang sudah sembuh, bekerja dengan cara melawan virus corona

Perkembangan terbaru menunjukkan ada beberapa obat yang banyak digunakan untuk menyembuhkan pasien positif Covid-19. Inilah beberapa di antaranya.

1. Dexamethasone

Obat murah meriah yang berfungsi menekan peradangan, reaksi alergi, dan penyakit autoimun ini ternyata dapat mengurangi risiko kematian hingga 30% pada pasien positif Covid-19 yang telah menggunakan ventilator dan menurunkan risiko kematian sebanyak 20% pada mereka yang menggunakan bantuan oksigen. Mengapa dexamethasone hanya bekerja pada pasien dengan kondisi di atas? 

Ketika virus corona masuk ke dalam tubuh, muncul peradangan sebagai tanda bahwa tubuh sedang melakukan perlawanan. Pada paru-paru, peradangan ini menyebabkan penumpukan cairan pada paru-paru yang membuat pasien sesak nafas. Pada pasien Covid-19, kondisi ini bisa memicu komplikasi dan gagal nafas. Di sinilah dexamethasone berperan, yaitu menekan peradangan yang berefek pada paru-paru. Karena itu, jika Anda mengalami gejala ringan Covid-19, dexamethasone tidak akan memberi efek apapun. 

2. Remdesivir

Obat jenis antivirus ini awalnya ditujukan untuk pasien Ebola. Namun, uji coba yang dilakukan AS di berbagai negara menunjukkan adanya pengurangan durasi munculnya gejala dari 15 hari ke 11 hari setelah pemberian remdesivir, dengan demikian mencegah pasien dirawat di ICU. Remdesivir bekerja dengan cara menyerang enzim yang dibutuhkan virus untuk menggandakan diri. Meskipun demikian, belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa penggunaan obat ini mampu mengurangi risiko kematian pada Covid-19. 

3. Terapi plasma darah

Setiap orang yang sembuh dari Covid-19 memiliki antibodi di dalam darah untuk melawan virus ketika virus tersebut menyerang lagi. Inilah yang membuat para ilmuwan melirik plasma darah penyintas Covid-19 sebagai sarana pengobatan. Plasma darah ini kemudian dimurnikan agar didapatkan antibodi murni (immunoglobulin G) yang bermanfaat bagi pasien Covid-19 yang sudah parah maupun sebagai vaksin. Saat ini, terapi plasma darah masih dalam tahap uji klinis di berbagai negara, termasuk Indonesia.

4. Obat malaria

Chloroquine dan hydroxychloroquine masuk ke dalam uji klinis pengobatan Covid-19 oleh WHO di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Obat malaria ini bekerja dengan cara menekan reaksi sistem imun berlebih, namun belakangan ini juga diketahui bersifat antiviral yaitu dengan cara menghambat masuknya virus corona ke dalam sel tubuh. 

Obat-obatan di atas hanyalah pertolongan sementara hingga obat paling efektif ditemukan: vaksin. Berbeda dengan obat yang sudah tersedia dan tinggal uji klinis, pembuatan vaksin harus dimulai dari nol. Inilah yang membuat vaksin membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga dinyatakan efektif, termasuk uji klinis bertahap. Hingga vaksin ditemukan, disiplin melakukan protokol kesehatan, physical distancing, menjaga kesehatan adalah pencegahan terbaik. 

 

 



Tanya Skata