Dalam kehidupan perkawinan, seks oral menjadi salah satu variasi yang bisa dilakukan oleh suami istri dalam berhubungan seks. Seks oral juga menjadi cara sebagian pasangan untuk menghindari kehamilan maupun sebagai foreplay atau pemanasan.

Namun, di tengah wabah virus corona yang menular melalui cairan liur, melakukan seks oral bisa membuat Anda dan pasangan khawatir. Masalahnya, seks oral melibatkan kontak antara cairan liur dengan alat kelamin. Wajar jika terbersit pertanyaan, apakah virus corona dapat menular lewat penis dan vagina, mengingat masih banyaknya hal yang belum diketahui tentang virus corona.

Menurut dr. Rino Bonti Tri HS, Sp.OG dalam bincang "Amankah Berhubungan Seks Saat Pandemi" dalam Instagram Live Skata, sejauh ini belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa virus corona dapat menular melalui mukosa (selaput lendir) penis atau vagina. Meskipun virus ada di cairan liur kita, dalam bentuk nafas, batuk, bersin, namun saat ini belum ada bukti bahwa virus corona bisa masuk dan berkembang lewat mukosa penis dan vagina. Jika sampai terjadi penularan, kemungkinan besar hal tersebut terjadi lewat saluran pernafasan.

“Meskipun belum terbukti virus dapat menginfeksi mukosa penis atau vagina, tapi selama berhubungan seks kan kita kontak erat dengan pasangan, bernafas dekat sekali dengan pasangan. Ya, tertularnya lewat udara nafas kita yang masuk ke saluran nafas pasangan (atau sebaliknya),” jelas dr. Bonti. Saat seks oral, tangan  juga dapat menyentuh air liur tersebut lalu menyentuh wajah (mulut, hidung, mata) sehingga terinfeksi virus. Selain itu, virus ini pernah ditemukan dalam anus, sehingga seks oral–anal mungkin saja mengakibatkan penularan.

Perlu diingat juga bahwa virus corona merupakan jenis baru dan selalu bermutasi. Karena itu, akan selalu ada perkembangan baru. Bisa saja suatu hari nanti menular melalui hubungan seks, tapi untuk saat ini penularan umumnya terjadi melalui mukosa mulut, hidung, dan mata.

Dokter Bonti juga menggarisbawahi bahwa baik foreplay, seks oral, maupun penetrasi, yang perlu diperhatikan adalah status pasangan. Jika sama-sama yakin sehat maka tidak menjadi masalah. 

Baca: Amankah Berhubungan Seks Selama Pandemi?

Bagaimana dengan pasangan yang sudah kembali bekerja di luar rumah?

Untuk memastikan pasangan tidak terinfeksi virus corona, dapat dengan melakukan tes swab PCR SARS-CoV-2. Lakukan 1-2 minggu sekali jika mampu. Jika tidak, lakukan skrining tes rapid (antibodi) SARS-CoV-2 seminggu sekali meskipun hasilnya tidak seakurat tes swab. Tes ini penting dilakukan khususnya jika pasangan berbagi ruangan saat bekerja, melepas masker ketika makan bersama, serta menggunakan kendaraan umum dari dan ke tempat kerja atau terlibat kerumunan tanpa protokol kesehatan. 

Namun, jika Anda dan pasangan yakin sudah menerapkan protokol kesehatan di tempat kerja dengan disiplin seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, physical distancing, bekerja di ruangan sendiri, pulang pergi dengan kendaraan pribadi, sepulang kerja disiplin membersihkan diri, maka diharapkan tidak terjadi penularan sehingga aman untuk melakukan hubungan seks.

Jika salah satu pasangan bekerja di luar kota, maka perlu dipastikan dengan tes swab untuk mengetahui telah terjadi penularan atau tidak. Jika tidak melakukan tes swab, isolasi mandiri selama 2 minggu merupakan salah satu langkah yang dapat dilakukan. 

Bagaimana jika saya sudah sembuh dari Covid-19? Kapan boleh kembali berhubungan?

Seorang pasien dinyatakan sembuh dari Covid-19 jika hasil tes swab dua kali berturut-turut dinyatakan negatif. Meskipun sebenarnya sudah aman, Anda bisa berinisiatif menunggu 1-2 minggu sampai pasangan sehat sempurna.

 



Tanya Skata