Hampir enam bulan sejak kemunculannya, virus corona baru penyebab Covid-19 tetap tergolong virus misterius. Para ilmuwan di seluruh dunia berpacu dengan waktu untuk meneliti lebih lanjut, berusaha menemukan cara mengalahkan virus corona dan mencari tahu karakternya. Sementara itu, masyarakat awam yang nampaknya sudah makin teredukasi tetap saja “kecolongan” oleh adanya berita hoax yang tampak meyakinkan, khusunya yang bersifat medis. 

Agar Anda tidak termakan hoax, berikut daftar berita berikut klarifikasinya seperti yang tercantum dalam situs resmi pemerintah www.covid19.go.id.

1. Covid-19 tidak disebabkan oleh virus, melainkan bakteri.

Pesan yang beredar lewat WhatsApp ini menyatakan bahwa pemerintah Italia menemukan lewat autopsi bahwa Covid-19 ternyata merupakan bakteri. Bakteri ini menyebabkan pembuluh darah melebar dan membeku. Dengan penemuan ini, obatnya pun langsung diketahui dan diberikan pada 1.400 pasien sehingga mereka sembuh. Informasi ini menuduh WHO dan Cina bersekongkol membuat anjuran bahwa jenazah pasien Covid-19 harus segera dikubur untuk menutupi fakta tersebut, sehingga negara-negara lain membeli ventilator produksi Cina.

Faktanya, Kementerian Kesehatan Italia melalui situs resminya menjelaskan bahwa Covid-19 disebabkan oleh virus corona baru, yang merupakan keluarga besar virus penyebab MERS dan SARS. Selain itu, WHO pun tidak melarang autopsi jenazah pasien Covid-19. Bahkan, WHO dan CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di AS) merilis panduan autopsi yang aman.

Baca klarifikasi selengkapnya di sini.

2. Sarung tangan petugas rapid test massal mampu menularkan Covid-19.

Berita hoax yang beredar di Semarang melalui WhatsApp ini sempat meresahkan masyarakat. Dalam pesan tersebut, masyarakat diminta berhati-hati jika dihentikan petugas di jalan untuk melakukan rapid test massal. Alasannya, petugas yang mengambil darah tidak mengganti sarung tangan sehingga pasien yang non reaktif Covid-19 pun bisa tertular.

Menanggapi berita ini, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakim, menegaskan bahwa petugas rapid atau swab test Kota Semarang selalu mengganti sarung tangan setiap kali berganti pasien. Selain itu, setiap pasien yang diperiksa oleh tim penjaringan lapangan saat tes massal juga wajib menjalankan protokol kesehatan seperti mencuci tangan sebelum dan sesudah tes sehingga terhindar dari infeksi virus corona.

Baca klarifikasi selengkapnya di sini.

3. Virus corona adalah buatan manusia.

Berita hoax yang diunggah oleh akun Karim Zaidan di Facebook ini mengutip pendapat seorang profesor peraih Nobel 2018 Fisiologi di Jepang, Dr. Tasuku Honjo, yang menyatakan bahwa virus corona merupakan buatan laboratorium. Alasannya, jika virus corona memang alami, virus tersebut hanya akan berdampak pada negara yang memiliki suhu yang sama dengan daerah asal virus. Padahal, diketahui bahwa virus corona menyebar di seluruh dunia terlepas dari iklim yang ada di negara tersebut. 

Faktanya, Dr. Tasuku Honjo menyanggah kebenaran berita tersebut. Ia memang pernah menyatakan bahwa virus corona kemungkinan besar berasal dari Cina, namun bukan berarti dibuat oleh Cina. Baca klarifikasi selengkapnya di sini.

4. Vietnam tidak memiliki angka kematian Covid-19 karena lemon dan teh hangat.

Hingga kini, Vietnam memang belum memiliki korban meninggal. Sayangnya, hal tersebut digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan informasi menyesatkan (misleading content) bahwa kebiasaan minum teh hangat yang diberi perasan lemon sebelum tidur malam lah kuncinya.

Faktanya, Vietnam berhasil menangani pandemi dengan baik karena kebijakan pemerintahnya. Mengenai khasiat lemon dan teh, Dr. dr. Inggrid Tania, M.Si menjelaskan bahwa keduanya memang memiliki kandungan antioksidan sehingga kombinasi keduanya dapat meregulasi sistem imun dan menangkal radikal bebas pada proses peradangan. Namun, belum ada bukti bahwa lemon dan teh hangat mampu mengobati infeksi virus corona. 

Baca klarifikasi selengkapnya di sini.

Ini hanya sebagian kecil dari ratusan hoax yang beredar di dunia maya. Agar Anda tidak terjebak berita yang meresahkan (dan menyebarkannya), baca cara membedakan berita fakta dan hoaks di artikel SKATA berikut ini.

 



Tanya Skata