Baru-baru ini, IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) memberikan data anak dengan Covid-19 yang cukup mencengangkan. Hingga 18 Mei 2020, kasus anak PDP (Pasien Dalam Pengawasan) sebanyak 3.324 kasus, 129 anak berstatus PDP meninggal dunia, 584 kasus anak terkonfirmasi positif Covid-19 dan 14 kematian anak dari kasus positif Covid-19. Sungguh jumlah yang cukup besar untuk membuat kita lebih waspada. Bagaimana kita bisa mengantisipasi penularan ini pada buah hati kita? Berikut wawancara dengan dr. Amelia Martira, Sp.An, SH, MH, Wakil Ketua Tim Operasional Covid-19 RSUD Depok. 

Seberapa parah tingkat penularan virus Covid-19 terhadap anak? 

Selama ini kita hanya mengandalkan informasi dari tempat penularan awal virus baru, di Wuhan. Namun sejalannya virus berkembang dan mutasi ke berbagai negara, angka penularan pada anak mulai muncul. Hingga laporan anak meninggal pun terjadi di beberapa negara, dan tingkat fatalitasnya cukup tinggi. Jadi, kita perlu lebih waspada dalam mengawasi penyebarannya pada anak. 

Bagaimana perbedaan gejala anak dengan lansia, bukankah anak lebih memiliki daya tahan tubuh?

Gejalanya sama diawali dengan batuk dan demam tidak jauh berbeda dengan dewasa walau terkadang lebih ringan. 

Apa saja gejala Covid-19 pada anak? 

Pada umumnya gejalanya sama seperti influenza, adanya pilek, batuk, nyeri tenggorokan, sesak nafas, diare, sakit perut, adanya kemerahan atau ruam pada kulit. Lalu pastikan juga apakah anak pernah melakukan kontak dengan PDP atau habis melakukan perjalanan ke daerah transmisi lokal, zona merah atau dia justru berada di zona dan daerah tersebut. 

Jika gejala pada anak sudah ada atau baru bermunculan, kapan waktu yang tepat untuk membawanya ke rumah sakit? 

Umumnya prosedur kesehatan, jika ada demam yang tidak turun selama tiga hari berturut-turut, kita akan bawa ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan. Hanya dalam waktu pandemi, kita harus lebih waspada terutama anak-anak. Karena jika muncul demam, waspada pertama adalah virus Covid-19 bukan demam berdarah atau flu biasa. Jadi sebaiknya, saat anak mulai demam segera dibawa ke fasilitas kesehatan atau rumah sakit untuk dapat dipastikan apakah anak positif atau tidak. Lalu memutuskan tindakan selanjutnya sesuai anjuran. Apakah langsung rawat inap atau bisa rawat jalan melakukan isolasi mandiri. 

Apa tolok ukur pasien bisa melakukan isolasi mandiri? 

Isolasi mandiri biasanya akan dilakukan jika pasien bisa merawat dirinya di rumah, dengan gejala ringan dan diperkirakan virus akan sembuh sendirinya seiring daya tahan tubuh yang baik. 

Apa saja yang harus dipersiapkan, jika memutuskan untuk isolasi mandiri pada anak? 

Jika pasien dianjurkan untuk isolasi mandiri, artinya dia harus mampu menjaga dirinya. Bisa minum obat sendiri, makan dan minum yang cukup dan baik tanpa ada pengawasan dari petugas rumah sakit. Namun, kita harus memastikan rumah bisa memfasilitasi isolasi dengan menempatkan pasien di ruangan yang terpisah dari anggota keluarga dengan syarat:

 Ruangan memiliki aliran udara yang baik

 Terkena cahaya matahari 

 Menyediakan alat makan terpisah dari anggota keluarga lain

 Selalu membersihkan kamar mandi tiap habis pakai oleh pasien 

Bagaimana dengan kesiapan rumah sakit? Apakah rumah sakit rujukan dan non rujukan memiliki mekanisme yang sama? 

Ya, karena kondisi pandemi membuat semua rumah sakit (baik rujukan dan non rujukan) harus siap sedia menerima pasien baik suspect maupun pasien dengan gejala lain dengan melakukan:

 Screening awal (membuat pernyataan apakah pengunjung pernah ada kontak atau sempat bepergian ke negara/daerah dengan transmisi lokal)

 Pengecekan suhu

 Menyiapkan prosedur standar seperti semua pengunjung harus cuci tangan, menggunakan masker, lalu akan dilakukan physical distancing.

Untuk mendapatkan pelayanan yang aman, pastikan bahwa rumah sakit yang akan dikunjungi memiliki protokol lengkap untuk Covid-19. 

 

 

 



Tanya Skata