“Saya baru saja melahirkan. Momen yang sudah saya tunggu setelah 10 tahun saya mendamba momongan. Sedihnya, hari perkiraan lahir jatuh disaat pandemi. Suami tak boleh menemani saat persalinan dan tak ada keluarga yang boleh berkunjung ketika bayi saya lahir. Berat, rasanya kesedihan menjelang dan segera setelah persalinan. Ditambah lagi, saya harus tetap di rumah tanpa bantuan karena mencegah penyebaran virus, tak pun bisa mendapat kunjungan orang tua. Rasanya seperti terkungkung sendirian. Marah, emosi, sedih, semua campur jadi satu namun tetap harus bisa dilewati, demi bayi saya,” -Atika, 38 tahun. 

Kehamilan dan melahirkan adalah momen yang paling membahagiakan untuk para Ibu. Mengecup bayi saat dekapan pertama mungkin menjadi bau yang selamanya akan dirindukan. Bangun malam untuk menyusui, mengganti popok, menikmati tangisan akan terasa lebih mudah saat melakukannya dengan yang tersayang. Sayangnya, tak semua Ibu bisa menikmati proses pasca melahirkan ini. Tak terkecuali Atika. Momen yang seharusnya menjadi menyenangkan, menjadi momen yang dihindari bahkan dibenci. Tak bisa disalahkan, hanya bisa diobati. 

Baca: Post Partum Psikosis, Depresi yang Berbahaya untuk Ibu Baru

Sulitnya melewati depresi pasca melahirkan, kini diperparah dengan tekanan kondisi yang mengharuskan para ibu baru untuk tetap #dirumahaja. Tanpa ada me time atau bantuan keluarga yang tinggal terpisah. Dengan pandemi yang belum juga usai, ibu yang masih kewalahan sendirian, lalu harus tetap di rumah sementara pasangan sudah harus kembali bekerja karena aturan adaptasi baru. Lalu, bagaimana ibu baru melewati depresi pasca melahirkan sambil tetap harus berada #dirumahaja? Psikiater dr. Irmia Kusumadewi SpKJ(K) menuturkan caranya. 

Baca: Bersiap dengan Adaptasi Kebiasaan Baru (New Normal)

1. Ingat, Anda tidak sendiri 

Ya, baik merasakan depresi pasca melahirkan maupun kesendirian dalam pandemi, Anda tidak sendirian. Hampir semua ibu pernah mengalami depresi dan seluruh dunia sedang merasakan kesendirian dalam pandemi. Jadi, tak perlu khawatir. Berusaha untuk tetap tenang. Jika Anda memiliki waktu saat bayi sedang tidur, coba baca buku atau scrolling cerita ibu yang bisa menenangkan dan menyemangati hati. Ajak pasangan untuk turut serta mendampingi, agar Anda tetap merasa terlindungi. 

2. Batasi akses ke sosial media

Dalam kondisi seperti ini, media sosial bisa menjadi teman tapi juga bisa memperparah situasi. Batasi sosial media, dengan mengikuti akun positif dan inspirasional. Hindari akun yang membawa pengaruh negatif, terutama mereka dengan banyak komentar yang membandingkan para ibu. 

3. Nikmati waktu saat bersama bayi

Walau sulit untuk mengatur emosi, tapi ingat hanya Anda yang dimiliki sang bayi saat ini. Kesehatan Anda penting untuk kehidupannya. Sesulit apapun, coba untuk fokus melakukan apa yang bisa Anda kerjakan, dan tinggalkan segala pikiran negatif. Caranya, sibukkan diri mengurus bayi. Saat ia tidur, ikut istirahat, ketika bangun habiskan waktu dengannya. Kerjakan satu hal di satu waktu. Jangan pikirkan hal lain saat Anda sedang bersama bayi. Nikmati tangisannya, senyumnya, karena waktu tak bisa mengembalikan itu semua. Merasa tak kompeten saat merawat? Tak apa. Tidak ada ibu yang sempurna dan tidak ada buku panduan untuk itu. Tidak apa melakukan kesalahan, selama tak menyakiti secara verbal dan fisik. 

4. Konsultasikan pada ahli saat tak sanggup menghadapi sendiri 

Ketika pasangan tak lagi mampu memahami dan menangani kesedihan dan kecemasan Anda, jangan ragu untuk konsultasikan pada ahlinya. Jika Anda sudah mengalami kesulitan fokus, tak mampu mengurus bayi, gangguan tidur, gangguan makan hingga produksi ASI terganggu maka saatnya Anda menemui psikiater. Untuk Anda yang berada di wilayah Jabodetabek bisa menghubungi call center Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di 1500135 untuk meminta konsultasi psikiater via online. Jika diperlukan konsultasi lanjutan dan konsumsi obat, segera temui langsung tenaga ahli dengan tetap menerapkan kaidah physical dictancing. 

 



Tanya Skata