Siapa yang menyangka, sepanjang 35 tahun hidup saya akhirnya merasakan momen hari lebaran seorang diri di negeri orang. Pandemi membuat semua rencana berubah dalam sekejap, termasuk merayakan hari besar bersama keluarga. Sulit, namun tetap harus dihadapi. Ternyata, saya justru banyak belajar dari kondisi ini. 

Bermula dari penugasan saya untuk belajar teknologi baru di Kuala Lumpur yang akan digunakan untuk set up divisi baru di kantor. Saya (dan istri) sepakat untuk tidak pindah bersama karena durasi kontrak kerja yang hanya satu tahun, ditambah Kuala Lumpur – Jakarta yang hanya berjarak dua jam penerbangan memudahkan saya untuk bolak balik Jakarta tiap bulan. Anak saya pun baru saja masuk sekolah dasar, kami pikir akan repot jika harus pindah sekolah dan beradaptasi. Keputusan untuk pindah sendirian saja, menjadi mutlak disepakati bersama. 

Minggu awal kepindahan, saya masih tinggal di hotel yang cukup lengkap fasilitasnya. Rasanya seperti liburan saja. Istri saya menyusul di minggu kedua untuk mencari apartemen dan membantu beberes pindahan. Saya menikmati sekali momen berdua dengan istri untuk kepindahan ini. Hanya satu minggu ia di sini, lalu harus kembali ke Jakarta meninggalkan saya yang sendirian (lagi). Awalnya tak terasa masalah, walau sedikit sepi. Namun, ketika pandemi mulai masuk dan semua diharuskan #dirumahaja, di situ saya mulai merasa cemas.

Mengatasi gejala cabin fever yang saya alami di awal MCO, saya rutin berolahraga dan mencari kesibukan dengan memasak. Saking rindu dengan masakan rumah, saya jadi coba-coba resep masakan yang nggak bisa saya beli lewat layan antar makanan. Mengatasi rindu sekaligus menghemat biaya yang cukup banyak. 

Pemberlakuan Jarak Skala Besar dimulai sekitar 4 minggu kepindahan saya di Kuala Lumpur. Movement Control Order (MCO) begitu mereka menyebutnya di sini. Segala kegiatan warga yang melibatkan kerumunan atau banyak orang dilarang dan dikenakan sanksi tegas. Semua pusat perbelanjaan ditutup kecuali toko serba ada yang menjual kebutuhan sehari-hari. Kita boleh pergi ke supermarket, dengan catatan tidak melebihi radius 10 km dari tempat tinggal. Untuk pergi ke supermarket, saya harus melewati check point. Di sana, saya akan ditanya keperluan, paspor, tempat dan bukti tinggal hingga KITAS (Kartu Izin Tinggal Terbatas). Warga di sini cukup disiplin dan patuh, jika terpaksa harus keluar rumah, mereka menggunakan pakaian panjang, topi serta wajib masker. Untungnya, di sini juga ada fasilitas ojek online, alih-alih pergi ke supermarket, saya memilih untuk menggunakan layanan online. 

Menjelang lebaran, tentu rasa semakin cemas. Bayangan akan sendirian menghadapi momen sakral seperti lebaran tak pernah ada dibenak. Untuk meringankan kecemasan, saya mulai cari-cari dan memesan masakan khas lebaran, seperti ketupat, opor, rendang. Setelah menemukan, sayangnya makanan kesukaan saya (lontong medan) tak ada dalam menu. Jadilah, saya kembali masak sendiri dengan tauco kiriman istri dari Jakarta. Nikmat, sudah tentu namun pasti lebih nikmat jika dinikmati bareng sanak keluarga di rumah. Awalnya, terasa sedih sekali. Namun, dengan teknologi video call, saya tetap bisa merasakan sedikit hangatnya kebersamaan bersama keluarga walau tak berjumpa fisik. 

Saat ini, beberapa sektor usaha sudah mulai dibuka. Dimulai sejak 4 mei lalu, status MCO sudah berubah menjadi conditional MCO dimana zona hijau sudah boleh beroperasi seperti semula kecuali untuk seminar, bioskop, salon, barbershop, karaoke, club, pijat dan refleksi (serta sejenisnya). Walau demikian masih ada protocol yang harus dijalankan saat memasuki toko, seperti pengecekan paspor, telepon dan email. Tiap masuk toko, tangan wajib semprot hand sanitizer. Masker pun masih tetap dianjurkan untuk digunakan. Jam buka toko juga masih dibatasi hingga pukul 9 atau 10 malam. Tapi paling tidak, saya sudah bisa berjalan-jalan di luar dengan tenang, karena pemetaan zona penyebaran covid di sini cukup bagus hingga saya bisa pantau daerah mana yang bisa saya kunjungi dan yang tidak. 

Pandemi ini memang membuat semua tidak nyaman, tak terkecuali. Terutama saya yang harus menjalani #dirumahaja sendirian di negeri orang. Namun, jika kita sikapi dengan positif ternyata ada banyak hal juga yang bisa dinikmati. Suatu saat nanti, kita pun jadi punya cerita bahwa pernah ada masa berjarak sehingga berkumpul menjadi hal yang patut kita syukuri. 

 



Tanya Skata