Dalam dua bulan ini, sudah berapa kali Anda merasa lebih sensitif, mudah marah, atau kecewa karena anak atau pasangan seperti tidak bisa diajak bekerja sama? Hati kecil Anda mungkin merasa lelah karena terus-terusan marah, namun pikiran Anda membenarkan bahwa luapan emosi tersebut wajar karena ada penyebabnya. Ditambah padatnya aktivitas selama #dirumahaja, membuat hal tersebut seolah menjadi sebuah siklus yang Anda tidak dapat keluar darinya.

Jika ini yang terjadi, mungkin sekarang saatnya untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri tentang emosi apa yang Anda rasakan. Apakah itu rasa marah? Sedih? Kesal? 

Kemudian, cari penyebabnya. Apakah karena terlalu banyak hal yang harus dilakukan? Apakah karena anak selalu membuat rumah berantakan? Atau, karena suami tidak membantu seperti ekspektasi Anda? 

Setelah menemukan apa yang Anda rasakan dan apa penyebabnya, Anda bisa melakukan validasi perasaan atau validasi emosi, yaitu mengakui dan menerima perasaan Anda. Misalnya:

• “Aku tadi marah ke anak karena merasa kesal ia tak kunjung paham mengapa angka 59 lebih kecil dari 60.”

• “Aku berbicara ketus pada suami karena kecewa ia selalu sibuk dengan gadgetnya sementara aku kewalahan mengurus anak.”

Dengan melakukan validasi perasaan seperti langkah di atas, Anda telah melakukan sebuah langkah penting untuk menyelesaikan masalah, yaitu memberitahu diri sendiri bahwa apa yang Anda rasakan adalah wajar dan dapat diterima. 

“Validasi perasaan adalah kemampuan yang harus dimiliki saat ini, maupun saat pandemi corona telah usai,” ungkap Karina Negara, B.A., M.Psi, psikolog dari Platform Konseling Online KALM dalam diskusi “Dampak KBM di Rumah terhadap Psikologis Anak & Orang Tua” yang diadakan oleh KASKUS dan SKATA.

Meskipun demikian, Karina mengakui bahwa melakukan validasi perasaan itu itu gampang-gampang susah karena orang Indonesia ataupun orang Asia pada umumnya tidak terbiasa mengakui apa yang dirasakannya. 

“Nangis disuruh stop nangis. Marah? Nggak usah marah-marah. Stres? Gitu aja stres. Perasaannya ditepis semua, dan itu nggak sehat,” tambahnya.

Agar lebih mudah melakukannya, Anda bisa memulai dengan berlatih melakukan validasi perasaan diri sendiri terlebih dahulu, baru kemudian validasi perasaan anak, pasangan, dan semua orang di rumah. Untuk validasi perasaan sendiri, gunakan kalimat pernyataan seperti contoh di atas. Sementara itu, Anda bisa menggunakan pertanyaan untuk validasi perasaan orang lain, seperti anak.

Misal, saat Anda melarang anak pergi ke rumah temannya namun ia berkeras untuk berangkat karena di luar sana “nggak ada apa-apa”. Dalam kondisi ini, penjelasan tentang bahaya virus corona selama satu jam pun tak akan membuat Ananda tenang dan patuh. Alih-alih, validasi perasaannya dengan kalimat, “Kakak kesel ya nggak bisa ketemu temen-temen?” 

Kalaupun ia ternyata tidak merasa kesal, ia bisa mengoreksi dengan menceritakan apa yang ia rasakan. Dengan mengakui dan diterima saja, anak sudah merasa didukung. Namun, jika Anda kelepasan marah pada anak, validasi perasaan Anda. Akui bahwa Anda panik menahan anak untuk tidak pergi sehingga yang keluar adalah amarah. Setelah itu, datangi anak dan minta maaf. Jelaskan bahwa Anda marah karena takut anak tertular virus corona jika tetap pergi ke rumah teman. Dengan demikian, anak pun menangkap pesan Anda, bukan sekadar cara Anda menyampaikannya.

Untuk validasi perasaan anak, Karina menyarankan untuk memahami perkembangan usia anak agar Anda tahu apa yang harus dikatakan. Anak usia 6 tahun ke bawah membutuhkan penjelasan konkrit. Kata “bahaya” harus digambarkan dengan contoh, jika perlu dengan gambar. Sementara itu, remaja sudah lebih paham hanya dengan penjelasan verbal.

Setelah validasi perasaan, lalu apa?

Dengan melakukan validasi perasaan, Anda menjadi tahu apa penyebab munculnya emosi negatif pada diri Anda dan anggota keluarga lain. Langkah berikutnya adalah mencari cara agar penyebabnya teratasi. Jika masalah tidak dapat diselesaikan secara cepat, setidaknya Anda bisa mengantisipasi agar respon negatif tidak Anda lakukan lagi ketika masalah yang sama muncul.

Jadi, validasi perasaan adalah langkah awal Anda menyelesaikan masalah. Mengingat anjuran #dirumahaja bisa jadi berlangsung lebih lama dari yang Anda harapkan, maka menguasai kemampuan untuk validasi perasaan sebaiknya menjadi prioritas. Demi suasana rumah yang lebih nyaman dan hangat.

 



Tanya Skata