Sebelum pandemi COVID-19, Ramadan sering disebut bulan penuh berkah karena secara materi memberikan keuntungan. Kini, tidak semua orang dapat melihat berkah dalam Ramadan jika hanya kacamata finansial yang dilihat. Padahal, dengan kondisi mental yang rentan terguncang, Ramadan menawarkan berkah berupa kesempatan untuk melatih kesabaran dan daya juang, instrospeksi diri, menyadari besarnya arti berbagi, dan belajar ikhlas atas semua yang ada di luar kuasa manusia. 

Mungkin, tidak semua orang dapat serta merta merasakan manfaat Ramadan untuk ketenangan batin dalam menghadapi pandemi. Namun, beberapa pengalaman klien Russel Siler Jones, Th.D, seorang konselor psikoterapi dan spiritualitas, dalam situs Psychology Today menunjukkan bahwa mereka yang tidak religius menjadi kembali dekat dengan agama yang mereka pelajari saat kecil karena pandemi ini. Ritual ibadah yang biasa mereka ragukan manfaatnya mendadak menyentuh emosi mereka dengan cara yang tidak disangka-sangka. Ada yang mendadak tergetar hatinya saat mengucapkan doa harian (yang tidak pernah terjadi sebelumnya), ada pula yang mendadak mampu berempati pada beratnya penderitaan orang-orang sholeh yang hidup di zaman nabi.  

Ramadan memberikan kesempatan untuk reconnection, terhubung kembali dengan Yang Diatas, yang mungkin selama ini prioritasnya terkesampingkan oleh rutinitas harian dan urusan mencari nafkah. Jika di penghujung bulan Ramadan ini Anda masih belum memaksimalkan kesempatan tersebut karena urusan pekerjaan dan rumah tangga yang tak ada habisnya, mungkin ada hal-hal sederhana yang Ada bisa lakukan tanpa harus bersusah payah keluar rumah (karena memang tidak dianjurkan).

Pertama, follow akun Instagram, Twitter, atau Facebook yang memiliki konten dakwah. Kini, bahasa penyampaian konten bermuatan Islami telah banyak yang disesuaikan dengan karakter pembacanya sehingga lebih mudah dipahami. Foto indah pun melengkapi ilmu yang disampaikan, berikut infografis agar post lebih mudah dimengerti serta mudah dibagikan pada orang lain.

Kedua, ikuti grup WhatsApp kajian agama. Cara ini cocok bagi Anda yang belum bisa disiplin memilih konten dakwah daripada konten yang jadi minat Anda. Grup WhatsApp akan memberikan kajian ilmu secara berkala. Anda tinggal registrasi lewat nomer telepon yang terdaftar. Sebagian dari grup mengadakan kuis di akhir minggu untuk memastikan Anda memahami materi. 

Ketiga, tonton kajian online para ustadz yang banyak terdapat di YouTube. Tidak ada lagi alasan capek, macet, lembur, untuk datang ke kajian. Ilmu bisa didapat hanya dengan scroll dan klik. Jika tidak ingin terlewat, Anda bisa subscribe channel kajian tersebut. Bagi para ibu, mendengarkan kajian juga bisa dilakukan sambil melakukan tugas domestik seperti menyeterika, memasak, atau membersihkan rumah. Meski mungkin tidak 100% fokus, namun setidaknya ada beberapa hal yang bisa menjadi tambahan ilmu daripada tidak sama sekali.

Keempat, ikuti kajian via Zoom jika Anda ingin mengajukan pertanyaan secara langsung. Meskipun belum tentu terpilih sebagai penanya, namun setidaknya Anda telah mencoba. Bertanya langsung juga dapat dilakukan saat kuliah WhatsApp ataupun Instagram Live bersama uztadz/ustadzah dengan topik yang telah ditentukan.

Kelima, nyalakan televisi saat ada jadwal kajian atau konten pengetahuan Islami. Walaupun orang saat ini lebih banyak mengakses gadget, namun televisi lebih memiliki sedikit distraksi karena kita tidak bisa serta merta mengecek WhatsApp maupun notifikasi media sosial lain kala mendengar kajian. Televisi berlangganan pun memiliki sejumlah channel Islami dan siarang langsung dari Mekah.

Keenam, dengarkan radio dakwah. Anda masih memiliki mobilitas tinggi? Mendengarkan radio dakwah bisa menjadi solusi menenangkan diri dengan lantunan ayat suci dan ilmu tanpa henti saat Anda berada di mobil atau kendaraan umum. Yang pasti, hemat kuota.

Semua hal di atas adalah ikhtiar untuk mendekatkan diri pada Tuhan agar mendapatkan ketenangan batin di tengah usaha melawan musuh yang tidak terlihat, baik itu hawa nafsu maupun virus. Mereka yang sembuh dari COVID-19 pun mengatakan bahwa optimisme dan doa yang tak putus menjadi amunisi layaknya obat (baca kisahnya di sini). Jadikan Ramadan ini sebagai kekuatan sekaligus harapan, agar Anda lebih yakin lagi bahwa Tuhan Mahabaik dengan segala ujian ini, dan Anda pun bisa menjadi pribadi yang lebih baik. 

 

 

 

 

 



Tanya Skata