Tidak semua pasangan menikah cukup beruntung bisa tinggal satu atap. Vera (35) dan suaminya terpaksa menjalani pernikahan jarak jauh setahun belakangan karena alasan pekerjaan. Suaminya yang seorang chef berpindah kerja ke sebuah jaringan hotel di Jawa Timur, meninggalkan Vera dan dua anak perempuan mereka di Yogyakarta. 

Vera yang berwirausaha sebagai reseller sejumlah produk masih mampu mengantar pesanan sekaligus menjalani rutinitas antar jemput sekolah anak sulungnya (9) serta mengasuh si bungsu (5) meskipun tanpa ART. Namun, saat ia dinyatakan hamil, ia sempat merasa kewalahan. Apalagi, suaminya pulang setiap 2-3 minggu sekali.

Saat kandungannya berusia 8 bulan, pandemi virus corona pun dimulai. Sekolah diliburkan, aktivitas ke luar rumah untuk mengantar pesanan pun terpaksa dikurangi, begitu juga dengan jumlah pesanan yang masuk. 

Yang paling berat dirasakannya adalah kondisi keuangan keluarga. Terdampaknya sektor pariwisata membuat bisnis perhotelan terpaksa melakukan strategi penghematan yang berdampak pada pemasukan suaminya. Padahal, ia berencana menjalani operasi caesar mengingat dua persalinan sebelumnya juga caesar. 

Di tengah kondisi tersebut, menjaga kesehatan kandungannya tetap ia usahakan. Meskipun sering merasa kesulitan mendampingi anaknya mengerjakan tugas dari sekolah, ia bersyukur anak sulungnya tersebut cukup mandiri dan mau membantunya membersihkan rumah, bahkan memasak. Suaminya pun belum pulang sejak pembatasan sosial di sejumlah daerah diberlakukan.

Cemas, berat badan janin rendah

Tanpa disadari, perubahan kondisi finansial dan dukungan suami yang hanya bisa diperoleh secara virtual membuat Vera stres. Segala rutinitas hariannya dan anaknya yang harus ia jalani sendiri ternyata mempengaruhi kondisi janinnya. Berat badan janinnya sempat berada di bawah standar dan sulit naik. Ini membuat ia terpaksa kontrol ke dokter kandungan seminggu sekali. Padahal, ia sudah mengantisipasi dengan membeli stok vitamin kehamilan cukup banyak agar tidak perlu datang ke rumah sakit kecuali ada kondisi darurat.

Untuk menghindari penularan virus corona di rumah sakit, Vera tidak mengajak serta anak-anaknya saat periksa. Ia menitipkan anak-anak kepada tetangga. Saat di rumah sakit pun, ia disiplin menerapkan physical distancing dengan menjaga jarak aman dengan pasien lain di ruang tunggu, memakai masker, membawa minum sendiri, dan membawa hand sanitizer. Selain itu, Vera sudah memilih rumah sakit yang dekat dari rumahnya agar lebih aman jika terjadi kondisi darurat. 

Lalu, bagaimana cara menghalau rasa cemas tersebut?

Count your blessings. Aku hitung nikmat Allah yang masih bisa dirasakan tiap hari. Jaga sholat, ngobrol positif sama teman-teman komunitas di grup Whatsapp biar nggak stress,” jawab Vera.

Bagi ibu hamil yang menjalani pernikahan jarak jauh, cerita Vera di atas mungkin bisa memantik semangat untuk terus bersyukur dan berpikir positif selama pandemi. Menjaga kesehatan sebaik mungkin diiringi komunikasi rutin dengan suami dan lingkungan pertemanan dapat meringankan beban yang seolah harus ditanggung sendiri.

 

Seperti diceritakan oleh Vera kepada SKATA.