Anda tentu sudah paham di luar kepala makna dari bulan Ramadan dan ibadah yang menyertainya. Sayangnya, saat harus menjelaskan ke anak tentang puasa, sedekah, dan ibadah di bulan Ramadan belum tentu anak mengerti, apalagi turut melakukannya. Padahal, salah satu tujuan menjelaskan pada anak adalah agar mereka bisa dan mau berpuasa, solat, dan sedekah. Jika bingung harus bagaimana lagi menjelaskannya, yuk gunakan bahasa yang mudah dipahami agar anak lebih semangat mengejar ibadah di bulan penuh berkah. 

Pertanyaan 1: “Yah, kenapa sih kita harus berlapar-lapar dan menahan haus waktu puasa?” 

Alih-alih mengatakan sudah kewajiban umat Islam untuk berpuasa, Anda bisa menjawab seperti ini: “Kakak ingat pengemis yang kemarin? Dia kalau lapar belum tentu langsung makan lho, soalnya nggak selalu punya uang. Dan, hampir setiap hari mereka menahan haus dan lapar. Nah, berpuasa mengajarkan kita untuk ikut merasakan enggak enaknya menahan lapar dan haus, agar kita bisa bersyukur atas apa yang sudah kita punya. Nggak cuma bersyukur punya mainan banyak, tapi juga bisa ngerasain kalau makan dan minum setiap hari itu juga rezeki. Kalau udah tahu rasanya, kita pasti lebih mudah berbagi kalau melihat ada yang kelaparan.”

Pertanyaan 2: “Kok orang bilang kalau marah saat puasa batal, Bu? Emang iya?”

Anda bisa tergoda untuk mengiyakan pertanyaan ini, mengingat orang tua biasanya kewalahan ketika anak sedang marah di bulan puasa. Sebaiknya, jelaskan bahwa marah tidak membatalkan puasa, tetapi mengurangi pahala puasa. Berikan penjelasan seperti, “Setiap orang itu punya yang namanya nafsu, seperti marah, sedih terus menerus, termasuk juga rasa senang berbuat baik. Nah, puasa itu belajar menahan nafsu, khususnya nafsu amarah yang membuat kita ingin melakukan hal buruk. Kalau marah, Kakak pasti inginnya teriak, merusak, atau menyakiti, kan? Boleh nggak berbuat seperti itu? Allah nggak pengen kita berbuat buruk saat puasa, karena itu pahalanya dikurangi kalau marah. Jadi, kalau udah kerasa mau marah, ingat pahalanya jadi berkurang. Sayang, kan sudah susah payah menahan lapar dan haus harus berkurang pahala karena marah?”

Pertanyaan 3: “Syaitan kan diikat ya saat bulan Ramadhan, tapi kok aku masih suka kesel ya?” 

Anda bisa menjawab, “Syaitan itu bentuknya ada dua, dari golongan jin dan manusia. Saat bulan Ramadan, Allah mengikat para jin agar kita bisa beribadah secara maksimal. Lalu kenapa kita masih suka emosi dan malas? Karena kita berperang sama nafsu yang datang dari diri sendiri. Lebih berat tentunya. Inilah kenapa Allah memberikan pahala yang berlipat di bulan penuh ampunan, karena kita berusaha memerangi keburukan diri dengan menahan segala hawa nafsu. Ibarat latihan perang, jika sudah selesai 30 hari berpuasa, bulan berikutnya kita bisa lebih “canggih” berperang dengan syaitan.” 

Baca: Begini Cara Menjawab Pertanyaan Sulit dari Anak

Pertanyaan 4: “Sedekah itu apa, sih? Kalau kasih mainan ke adik sama nggak kaya sedekah?”

Jawabannya bisa seperti ini, “Berbagi dengan mereka yang tidak seberuntung kita adalah arti dari sedekah. Kakak punya mainan banyak, bisa pilih baju bagus tiap hari, sekolah diantar jemput. Di luar sana, banyak teman-teman yang enggak seberuntung Kakak. Di bulan puasa, pahala sedekah berlipat ganda lho. Yuk, coba cari mainan dan baju yang masih bagus namun jarang terpakai, kita berikan pada mereka yang membutuhkan!”

Pertanyaan 5: “Bunda, kenapa salat tarawih cuma ada pas Ramadan? Kita harus melakukannya nggak sih?”

Meskipun sekolah memberi checklist solat tarawih, Anda harus menjelaskan bahwa tarawih hukumnya sunah (dianjurkan), jika tidak dikerjakan tidak berdosa. Beri penjelasan tambahan seperti, “Tahu nggak kak, Rasulullah bilang kalau salat tarawih itu bisa menghapus dosa yang dulu-dulu lho. Terus, kalau tarawihnya berjamaah, kita pahalanya seperti pahala solat semalaman. Banyak ya! Kakak mau nggak dapet pahala banyak biar bisa masuk surga? Nanti malam kita tarawih bareng yuk, mumpung Ayah bisa jadi imam.”

Baca: Ibadah Maksimal (Walau) #DiRumahAja

Mungkin, masih banyak lagi pertanyaan anak tentang puasa. Selain menggunakan bahasa perumpamaan ataupun bahasa yang mudah dipahami, mau tidak mau Anda juga harus belajar lagi tentang agama agar dapat memberikan penjelasan yang benar pada anak. Perlu diingat juga, penjelasan di atas adalah usaha untuk membangun fondasi beragama anak, bukan sekadar mampu melakukan ibadah ritual. Diharapkan, makin besar usia anak, ia dapat memiliki motivasi internal untuk beribadah tanpa harus dibujuk lagi. Jadi, manfaatkan momen Ramadan #dirumahaja sebaik-baiknya ya!

 



Tanya Skata