Dua bulan lalu, mungkin Anda merasa sudah cukup puas dengan kemampuan Anda menggunakan media sosial dan bekerja menggunakan laptop. Namun, kebijakan untuk memindahkan kegiatan belajar mengajar dari sekolah ke rumah membuat Anda mendadak merasa gaptek alias gagap teknologi. Guru-guru pun bisa jadi merasa demikian. 

Dalam kondisi ini, Anda diharuskan untuk bisa beradaptasi, apalagi jika anak masih membutuhkan bantuan Anda untuk menggunakan sejumlah aplikasi baru selama belajar di rumah atau SFH (study from home). Mau tidak mau, belajar menggunakan aplikasi tersebut harus dilakukan. Toh, lama kelamaan Anda akan mahir menggunakannya, begitu pula dengan anak. Apa saja aplikasi tersebut? Berikut daftarnya!

Google Drive

Google Drive adalah tempat menyimpan data secara online. Jika Anda mempunyai akun Google, otomatis Anda memiliki jatah penyimpanan memori sebesar 15 GB di Google Drive. Selain membuat ponsel tidak penuh dengan memori (dan tidak “lemot”), Google Drive membuat penggunanya bisa mengakses data dimana saja, baik laptop atau ponsel serta terhubung ke banyak aplikasi lain seperti WhatsApp, Gmail, dan Instagram. Tidak perlu takut data hilang karena virus, tidak perlu takut lupa klik save saat menulis karena tulisan tersimpan otomatis. Kekurangannya, Google Drive hanya bisa diakses jika terhubung dengan internet.

Baca: Anti Stres Dampingi Anak Belajar, Ini Kuncinya

Google Docs 

Anda mungkin sudah familiar dengan Microsoft Word saat kuliah dahulu. Kini, dokumen tersebut dapat dibuat secara real-time, dimana anak bisa menulis dan mengeditnya secara langsung dengan teman-temannya saat mengerjakan tugas kelompok, tanpa harus bertemu langsung. Aplikasi ini disebut Google Docs atau Google Dokumen, yang kompatibel dengan Microsoft Word di laptop Anda. Selain menggunakan Google Docs, anak juga dapat membuat tugas menggunakan Google Spreadsheet yang kompatibel dengan Microsoft Excel dan Google Slides untuk presentasi menggunakan Power Point. Anak mendapat tugas untuk membuat survey? Gunakan Google Form. Semua serba mudah.

Google Classroom

Google Classroom ibarat kelas namun berbentuk virtual. Setiap guru bisa memiliki sebuah kelas dengan berbagai folder mata pelajaran yang berisi materi, tugas, serta ruang interaksi untuk tanya jawab guru dan siswa. Siswa akan mengunggah tugas melalui Google Classroom, dimana guru akan memberi nilai sekaligus komentar jika ada. Selesai diberi nilai, tugas akan dikembalikan ke siswa. Google Classroom ditujukan untuk siswa SMA ke atas.

Zoom

Aplikasi rapat online ini mendadak sangat populer setelah virus corona mewabah. Aplikasi ini digunakan untuk melakukan pertemuan tatap muka online (termasuk kegiatan belajar mengajar), yang bisa dihadiri maksimal 100 orang. Zoom menjadi aplikasi yang paling umum digunakan karena pengaplikasiannya yang mudah dan Anda bisa melihat semua orang dalam satu layar. Sayangnya, durasi satu kali video conference ini maskimal 40 menit untuk paket gratis. Namun, Anda bisa tetap mengulang login untuk memulai kembali. Anda bisa mengunduhnya di smartphone maupun laptop. 

Quizziz

Quizziz adalah web tools untuk membuat kuis interaktif. Guru dapat membuat serangkaian soal pilihan ganda dan kemudian membagikan kode kepada siswa untuk login dan mengerjakan soal tersebut. Untuk setiap soal, siswa mendapat waktu menjawab sesuai yang diatur oleh guru. Untuk setiap jawaban benar, muncul jumlah perolehan poin. Untuk jawaban salah, quiz akan menunjukkan jawaban yang benar. Jika sekolah anak belum menggunakan Quizziz, Anda bisa mencoba dulu di sini. Pilih satu game yang Anda suka, lalu ajak anak untuk bersama mengerjakannya. Atau, buat sendiri kuis untuk anak Anda!

Seesaw

Dulu, rapor menjadi satu-satunya indikator pencapaian siswa. Kini, banyak sekolah mulai meminta siswa membuat karya baik dalam bentuk tulisan, gambar, foto, video, atau lagu yang kelak dapat digunakan sebagai portfolio mereka. Seesaw merupakan aplikasi portfolio digital dimana siswa bisa mengumpulkan karya-karyanya sesuai tema yang diberikan guru. Bagi guru, Seesaw memudahkan mereka untuk mengetahui potensi siswa dan memberikan masukan secara langsung agar siswa lebih bersemangat.  Aplikasi ini cocok digunakan siswa SD.

Baca: 5 Cara Bagi Tugas Dampingi Anak Belajar dengan Suami

Edmodo

Edmodo mirip dengan Google Classroom namun fiturnya lebih lengkap, bahkan orang tua bisa melihat tugas apa saja yang harus dikerjakan anak. Selain memungkinkan siswa mengakses materi, tugas, sekaligus berinteraksi dengan guru, siswa juga bisa mengerjakan ujian online. Interaksi dalam Edmodo pun lebih luas, bahkan bisa dikatakan mirip dengan media sosial. Siswa, guru, orang tua siswa, bahkan pihak sekolah pun bisa saling memberi komentar, begitu juga dengan sesama pengguna lain. Edmodo ditujukan untuk siswa usia TK hingga kelas 12. 

LMS (Learning Management System)

Sebenarnya, Edmodo dan Google Classroom adalah LMS. Namun, yang dimaksud LMS di poin ini adalah website pembelajaran jarak jauh yang dimiliki oleh sekolah anak Anda. Untuk mengakses LMS, tiap siswa memiliki username dan password. Selain digunakan untuk mengakses materi pelajaran, LMS juga digunakan untuk mengerjakan soal ujian dengan sejumlah persyaratan agar siswa mengerjakan secara jujur. 

Masih banyak aplikasi dan situs pembelajaran online yang bisa digunakan selama SFH, khususnya yang berisi materi pembelajaran yang membantu anak memahami pelajaran lewat sejumlah video seperti Zenius, Ruangguru, dan Sekolah.mu. Jangan lupa, pemerintah juga menyediakan video pembelajaran yang ditayangkan di TVRI. Intinya, SFH tidak menghalangi anak Anda untuk belajar, tentunya dengan dukungan dan pendampingan Anda. Jadi, pastikan Anda menguasai (atau setidaknya mengetahui cara dasar penggunaan) aplikasi belajar tersebut.

 

 



Tanya Skata