Bulan-bulan terakhir kehamilan seharusnya menjadi masa yang paling menyenangkan karena tidak lama lagi bayi yang selama ini dikandung akan lahir. Sayangnya, pandemi virus corona yang datang di awal tahun ini membuat banyak ibu hamil merasa cemas akan kesehatan janinnya. Liza (27) adalah salah satunya. Apalagi, usia kandungannya sudah masuk bulan ke-8 saat pemerintah mengumumumkan bahwa virus corona sudah masuk Indonesia.

Liza tahu, sekhawatir dan sepanik apapun ia, menjaga diri untuk tetap tenang dan berpikir positif menjadi salah satu kunci sehatnya kehamilan. Karenanya, Liza dan suaminya pun segera melakukan sejumlah penyesuaian untuk melindungi diri dan calon bayinya dari paparan virus corona.

Frekuensi kontrol kandungan yang seharusnya seminggu sekali karena sudah mendekati HPL (hari perkiraan lahir) pun terpaksa ditunda. Dokter hanya menyarankan untuk segera ke rumah sakit apabila sudah merasakan kontraksi. 

Begitu juga dengan pilihan rumah sakit tempat Liza biasa memeriksakan kandungannya. Demi keamanan, Fadhil –suami Liza- berusaha mencari klinik atau rumah sakit yang tidak dijadikan rujukan pasien COVID-19, mengingat mereka tinggal di DKI Jakarta.

“Rencananya, istri akan melahirkan di RSUD yang paling dekat dengan tempat tinggal kami. Selain sudah kenal dokternya, kami pun juga sudah rutin ke sana, tapi menjelang HPL rumah sakit tersebut dijadikan rujukan untuk pasien COVID-19. Istri sudah drop duluan, parno duluan, melihat bus-bus yang digunakan untuk mengantar jemput dokter dari RS ke hotel tempat tenaga medis menginap,” cerita Fadhil.

Akhirnya, Fadhil pun mencari bidan praktek swasta untuk kontrol kandungan istrinya sekaligus untuk membantu persalinan. Meskipun BPJS yang biasa digunakan di RSUD tidak dapat digunakan untuk periksa di bidan, namun demi keamanan, Fadhil pun rela merogoh kocek pribadi.

Sayangnya, plan B tersebut tidak berjalan lancar. Bidan memberitahu bahwa jika nanti ternyata Liza atau janinnya mengalami kondisi darurat, maka ia terpaksa harus merujuk Liza ke RS rujukan. Tak ingin mengambil risiko, akhirnya Liza dan Fadhil pun sepakat mencari rumah sakit yang memang memiliki fasilitas untuk menangani kondisi darurat persalinan. 

Baca: Serba-serbi Sectio Caesarian

Ternyata, dua hari setelah HPL, Liza tak kunjung merasakan kontraksi. Berniat memeriksakan kandungan ke rumah sakit kecil di daerah Jagakarsa, Liza malah diminta rawat inap dan diinduksi. Dua kali induksi, bukaan belum juga bertambah sementara gerakan janin melemah, Liza pun diminta untuk operasi caesar. Syukurlah, operasi berjalan lancar. Bayi mereka memang sempat dirawat di NICU karena gangguan pernapasan, namun kini sudah sehat dan diperbolehkan pulang.

Adakah nasehat yang dokter sampaikan terkait COVID-19?

“Sama seperti saat istri hamil: kalau tidak ada sesuatu yang sangat mendesak, hindari berkunjung ke rumah sakit. Jadi, kemarin bayi sempet agak kuning. Tapi mengingat risikonya, kami jemur di rumah saja rutin. Alhamdulillah sekarang perkembangannya baik. Bayi sehat, istri juga sehat,” jelas Fadhil.

Jadi, bagi Anda yang kini sedang mengandung dan mempersiapkan diri untuk persalinan, cemas adalah hal yang wajar. Namun, segera atasi rasa cemas dan khawatir dengan membuat rencana persalinan darurat dengan mempertimbangkan faktor keamanan dan keselamatan ibu dan janin. Jangan lupa, keterlibatan suami dalam merencanakan persalinan seperti yang dilakukan Fadhil dan Lisa tidak hanya mampu membuat ibu hamil merasa tenang, namun juga dapat menghindari risiko penularan COVID-19 pada ibu dan bayi.

 



Tanya Skata