Memasuki bulan Ramadan, pemerintah melarang masyarakat untuk mudik hingga pandemi virus corona dinyatakan usai. Alasannya, aktivitas mudik berpotensi menyebabkan meluasnya penyebaran virus corona. 

Seperti yang telah diketahui sebelumnya, tidak semua orang yang terinfeksi mengalami gejala seperti batuk dan sesak napas. Hal ini disebut dengan asimptomatik. Pemerintah menyebut mereka dengan OTG atau orang tanpa gejala. Meskipun tak bergejala, OTG masih bisa menularkan virus pada orang lain. Yang ditakutkan adalah, ketika mereka yang berusia produktif dan nampak sehat secara tidak sengaja menularkan virus corona kepada orang tua mereka yang sudah lansia saat mudik. Lansia lebih rentan tertular virus corona, apalagi jika memiliki penyakit bawaan seperti jantung dan diabetes.

Sayangnya, dengan risiko seperti di atas, masih banyak masyarakat yang memutuskan untuk mudik, terlepas dari tingkat pendidikan dan status ekonomi. 

Survey online yang dilakukan oleh Balitbanghub (Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan) menunjukkan bahwa 3,65% responden telah melakukan mudik, 33,50% belum mudik, dan 62,90% tidak akan melakukan mudik. Dari 33,50% yang belum mudik, 31,26% diantaranya memutuskan untuk tetap mudik. Alasannya adalah keluarga, dimana responden ingin berkunjung ke rumah orang tua dan saudara. Mereka yang memang berasal dari daerah atau memiliki rumah di daerah juga menjadi alasan penguat untuk tetap mudik.

Kebijakan work from home ternyata juga turut mempengaruhi keputusan untuk mudik. Selain itu, ketakutan mereka akan tertular virus di tempat kerja maupun sekolah membuat tinggal di kota asal seolah menjadi perlindungan terbaik.

Meskipun alasan untuk mudik seperti yang disebut di atas terdengar manusiawi, namun Anda perlu memikirkan besarnya risiko yang muncul jika Anda tetap mudik. Berikut ini adalah alasan mengapa #tidakmudik adalah keputusan terbaik yang bisa Anda ambil untuk sekarang ini:

1. Kesehatan orang tua

Rasa rindu pada orang tua (apalagi jika mereka hanya tinggal sendiri) memang menjadi godaan terbesar untuk mudik. Jika Anda sehat, mungkin tidak menjadi masalah. Namun jika yang terjadi sebaliknya, Anda patut waspada. Data Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 menunjukkan bahwa laki-laki usia produktif (18-65) tahun merupakan yang paling banyak terinfeksi virus corona. Artinya, Anda maupun pasangan bisa menjadi carrier atau pembawa virus pada orang tua di kampung atau kota asal. 

Berkaca dari kasus di Italia dimana mayoritas pasien meninggal adalah lansia, Anda patut berhati-hati. Fungsi organ tubuh lansia sudah banyak mengalami penurunan, sistem imun pun tidak setangguh dulu lagi. Ini belum termasuk penyakit bawaan yang rata-rata dimiliki oleh lansia masa kini, yang membuat kerja organ tubuh jika harus melawan virus corona amat berat. 

Ada baiknya Anda memikirkan kemungkinan terburuk jika orang tua terinfeksi virus corona. Lebih baik menunda pertemuan beberapa bulan demi kesehatan mereka bertahun ke depan.

Baca: Ini Cara Isolasi Diri, Langkah Proteksi 14 Hari

2. Keharusan isolasi diri 14 hari

Sebelum larangan mudik diberlakukan, pemerintah mengimbau mereka yang mudik (khususnya dari zona merah) untuk melakukan isolasi diri selama 14 hari setibanya di daerah asal.  Artinya, Anda dan keluarga Anda harus tetap berada di rumah serta melakukan physical distancing dengan keluarga yang berbagi rumah dengan Anda. Meski nampak sederhana, namun saat menjalaninya bisa saja Anda lengah sehingga terbuka ruang penularan (jika ternyata Anda carrier). 

Anda beruntung jika diperbolehkan isolasi diri di rumah orang tua atau keluarga lain. Di sejumlah kota maupun desa, pemudik diharuskan isolasi diri di ruang isolasi desa yang memanfaatkan bangunan seperti balai desa, PAUD, maupun ruang pertemuan. Nikmatnya bercengkerama dengan keluarga terpaksa buyar, digantikan dengan menjalankan Ramadan di balai desa. 

3. Sanksi sosial dari lingkungan sekitar

Diskriminasi hingga kini masih sering dijumpai terhadap pemudik di sejumlah daerah. Mengingat pemudik dari kota besar seperti Jakarta berstatus ODP, sebagian masyarakat bisa bereaksi berlebihan terhadap keberadaan ODP di kampung mereka. Jangan sampai hubungan orang tua Anda dengan tetangga “memanas” karena Anda nekad mudik. 

Baca: Bijak Berkata, Cegah Stigma Corona

4. Fasilitas kesehatan di daerah

Berbicara tentang kemungkinan terburuk, jika dalam perjalanan ternyata Anda berinteraksi dengan OTG dan imunitas Anda lemah, bukan tidak mungkin Anda yang harus mendapat perawatan saat sampai di kampung. Apakah tujuan mudik Anda memiliki fasilitas kesehatan sebaik tempat Anda tinggal sekarang? Jika tidak, pertimbangkan kembali untuk tetap mudik.

5. Keuangan

Mudik tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, apalagi jika Anda telah berkeluarga. Meskipun anjuran physical distancing mungkin akan membuat Ramadan dan Idul Fitri kali ini lebih hemat, namun biaya transportasi dan pengeluaran harian selama di kampung halaman juga harus dipertimbangkan. Jangan dipaksakan mudik jika tempat kerja atau usaha Anda juga terkena imbas corona. Atur ulang prioritas keuangan Anda untuk mengantisipasi ketidakpastian kondisi ekonomi selama pandemi.

Setelah mempertimbangkan sejumlah hal di atas, semoga siapapun yang sudah memutuskan untuk #tidakmudik tetap bertahan pada keputusannya, dan mereka yang bimbang akan mantap memutuskan untuk #tidakmudik, demi keselamatan seluruh anggota keluarga.



Tanya Skata