Ramadan yang datang di masa pandemi COVID-19 menyisakan banyak pertanyaan terkait boleh tidaknya sebagian kalangan masyarakat berpuasa. PDP (Pasien Dalam Perawatan) dan ODP (Orang Dalam Pemantauan) yang berusia di atas 60 tahun atau lansia merupakan golongan yang kondisi kesehatannya dapat dikatakan kurang prima. Mengingat tidak semuanya merasakan keluhan kesehatan yang signifikan, ada yang tetap menjalankan puasa karena merasa kuat menahan lapar atau karena ingin mendapatkan nilai spiritual lebih. Tepatkah keputusan tersebut? Berikut penjelasannya.

1. Jika berstatus ODP, bolehkah berpuasa?

Pasien ODP biasanya juga memiliki gejala walaupun lebih ringan, seperti demam, batuk, lemas dan disarankan karantina mandiri baik di rumah maupun rumah sakit. Oleh karena itu, tidak disarankan untuk ODP untuk berpuasa terutama selama masa isolasi mandiri (minimal 14 hari). Namun , ODP dengan gejala ringan, tanpa penyakit kronis penyerta dan status nutrisi yang baik dapat berpuasa dengan pengawasan dan jika kondisi memburuk harus membatalkan puasa. Sebelum berpuasa hendaknya berkonsultasi dulu dengan dokter. 

2. Jika mengalami gejala ringan COVID-19, apakah sebaiknya tetap berpuasa? 

Lansia yang sedang mengalami sakit seperti batuk, pilek dan demam disarankan untuk tidak berpuasa, apalagi jika sudah terkonfirmasi menderita COVID-19. Lansia yang sakit biasanya membutuhkan asupan cairan, nutrisi yang cukup dan kadang membutuhkan obat-obatan yang rutin diminum. Namun, jika lansia tetap berkeyakinan untuk menjalankan puasa, hendaknya diskusi dahulu dengan dokter dan harus dengan pengawasan ketat oleh anggota keluarga. Jika selama puasa gejala penyakit memburuk, misalnya demam tidak turun, ada sesak napas, semakin lemas, hendaknya puasa dibatalkan. Hal ini juga berlaku untuk lansia yang menderita penyakit kronis lain, seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung dan paru. Jika penyakitnya belum terkontrol juga tidak disarankan untuk berpuasa.

Baca: 10 Cara Lindungi Orang Tua Anda dari Virus Corona

3. Jika berstatus PDP, seberapa besar risikonya jika berpuasa?

Lansia dengan status PDP tidak direkomendasikan untuk berpuasa karena memerlukan asupan nutrisi, cairan yang baik dan mengkonsumsi obat-obatan rutin untuk penyakitnya. Hal ini dikarenakan lansia memiliki risiko 2-3 kali mengalami perburukan penyakit dibanding orang dewasa.  

4. Apakah PDP bisa berpuasa tapi tidak full? Misal ingin tetap puasa tapi 7 hari saja, daripada 14 hari tidak sama sekali. 

Hendaknya lansia berstatus PDP tidak berpuasa hingga dinyatakan sembuh oleh dokter dan diizinkan kembali untuk berpuasa setelah melihat kondisinya. Jika lansia tidak memiliki penyakit penyerta dan gejala penyakit ringan, kemungkinan puasa diperbolehkan dengan  pengawasan ketat oleh keluarga dan dokter. Lansia PDP dengan penyakit kronis lain (hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dll), status nutrisi yang kurang, memiliki ketergantungan berat (bergantung dengan orang lain untuk melakukan sebagian besar aktivitas sehari-hari), tidak disarankan untuk berpuasa hingga dokter mengizinkan karena berpotensi terhadap memburuknya penyakit.

5. Jika tetap berpuasa, adakah menu yang disarankan untuk dikonsumsi?

Menu berpuasa yang disarankan selama pandemi adalah makanan dengan gizi lengkap dan seimbang dan hidrasi yang cukup. Disarankan mengonsumsi makanan yang segar setiap hari, lebih banyak mengkonsumsi sayuran dan buah dan sumber makanan lain yang mengandung vitamin, mineral dan serat yang tinggi, hindari makanan berpengawet, dan minum banyak air (minimal 8-10 gelas per hari, jika tidak ada pembatasan cairan oleh dokter dan lansia aktif ) saat sahur dan berbuka. Lansia dengan kondisi medis khusus, seperti hipertensi, jantung, diabetes, dll  harus berkonsultasi dahulu dengan dokter mengenai asupan nutrisi dan cairan yang diperbolehkan  selama berpuasa. Hindari rokok, lakukan aktivitas fisik ringan setelah  berbuka untuk melancarkan sirkulasi darah dan meregangkan otot, dan tidur yang cukup (7-8 jam per hari).

6. Dalam kondisi pandemi, siapa yang harus berhati-hati jika ingin berpuasa? Misal lansia, ibu hamil, ibu menyusui? 

Belum ada penelitian yang membuktikan berpuasa akan meningkatkan risiko terkena infeksi COVID-19. Oleh karena itu, populasi khusus seperti lansia, ibu hamil, ibu menyusui dalam kondisi sehat, yakni sedang tidak menderita penyakit akut saat ini, status gizi yang baik, tidak memiliki penyakit  penyerta/penyakit kronis atau memiliki penyakit penyerta namun terkontrol baik (setelah berkonsultasi dengan dokter), maka  diperbolehkan untuk berpuasa selama masa pandemi.

#Tips SKATA:

Terkadang, orang tua bersikeras melakukan puasa karena tidak merasa sakit. Anda bisa menggunakan penjelasan di atas agar orang tua mematuhi saran dari  dokter demi kesehatan secara jangka panjang. Beri pengertian bahwa puasa dapat diganti pada lain hari saat kondisi orang tua sudah prima, atau setidaknya menunggu hingga masa karantina usai. Jika orang tua menggunakan alasan keutamaan ibadah, Anda bisa menawarkan opsi ibadah yang lain yang dapat dilakukan selama bulan Ramadan.

 

Artikel ini merupakan hasil kerjasama SKATA dengan PERGEMI (Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia), yaitu suatu perhimpunan yang mewadahi para dokter dan dokter spesialis yang memiliki minat dan concern terhadap permasalahan lansia. 

 



Tanya Skata