Marhaban ya Ramadan! Telah datang bulan penuh berkah, bulan yang ditunggu-tunggu umat muslim. Bulan penuh ampunan, melakukan puasa satu bulan penuh menahan lapar, dahaga juga hawa nafsu. Selain pahala yang didapat, ternyata berpuasa juga baik untuk kesehatan, terutama dalam menjaga imunitas tubuh. Walau di tengah pandemi dan harus beribadah #dirumahaja, daya tahan tubuh tetap harus dijaga. Puasa, bisa menjadi salah satu cara.

Sebagai proteksi diri dari virus, terutama penyebab COVID-19, ketahanan tubuh adalah kunci. Virus hanya bisa menyerang tubuh dengan imunitas yang rendah. Bulan ramadhan mengharuskan kita berpuasa 30 hari lamanya, dalam durasi tersebut tubuh melakukan detoksifikasi secara perlahan. 

Pada hari-hari pertama, menahan lapar dan haus bisa menjadi sangat berat karena kadar gula, tekanan darah dan denyut jantung menurun sehingga tubuh menggunakan cadangan gula yang tersimpan di hati dan otot untuk menghasilkan energi. Karenanya, tak heran jika kita merasakan pusing dan lemas di awal berpuasa.

Memasuki tiga hingga tujuh hari berpuasa, tubuh menggunakan lemak sebagai sumber energi. Aktivitas sel darah putih dan sistem imun juga mulai meningkat. Detoksifikasi secara efisien mulai terjadi di pertengahan puasa hingga akhir periode sehingga bagi mereka yang memiliki penyakit, periode ini menjadi masa penyembuhan yang maksimal. 

Saat berpuasa, tubuh kita bagai dalam kondisi “pengawetan energi”. Maksudnya adalah, karena terbatasnya nutrisi yang masuk, tubuh kemudian mendaur ulang sel-sel imun lama untuk mengubahnya menjadi energi. Ini yang kemudian justru melahirkan sel imun baru yang lebih sehat ketika periode puasa berakhir (30 hari). Sel imun baru ini lebih cepat dan efisien dalam memerangi infeksi virus. Dengan sel imun baru yang lebih kuat, tentu daya tahan tubuh semakin maksimal. 

Baca: Tips Berpuasa untuk Ibu Hamil dan Menyusui

Walau demikian, pola berpuasa yang baik tetap harus dilakukan demi menjaga stamina di antara sahur dan berbuka. Apa yang harus diperhatikan? 

1. Konsumsi makanan yang sehat dan bergizi seimbang. Terutama dalam kondisi pandemi, asupan dengan vitamin D, vitamin C, zat besi, sangat dianjurkan karena membantu memperkuat daya tahan tubuh.

2. Makan tak berlebihan saat sahur dan berbuka. Ingat, puasa bukan perlombaan tahan lapar sehingga Anda lupa esensi makan yang benar. Makan dengan porsi seimbang, tak berlebihan cukup membuat Anda kuat berpuasa satu hari penuh. 

3. Penuhi kebutuhan cairan dalam tubuh. Minum setidaknya 8 gelas air putih dalam sehari. Bisa dibagi menjadi 2 gelas saat sahur, 2 gelas saat imsak, 2 gelas saat berbuka, dan 2 gelas sebelum tidur. Untuk mengatasi ion yang hilang dalam tubuh, minuman isotonik diperbolehkan asal tidak mengurangi jumlah asupan air putih dalam sehari. 

Baca: 3 Aktivitas Olahraga yang Bisa Dilakukan Saat Bulan Puasa

4. Olahraga cukup. Jika Anda terbiasa berolahraga, jangan hetikan saat puasa. Lakukan menjelang berbuka dengan intensitas sedang. Berolahraga secara rutin bisa menjaga stamina saat berpuasa. 

5. Cukup istirahat. Jangan abaikan alarm tubuh saat merasa lelah atau lemas akibat berpuasa. Istirahat sejenak, usahakan tidur yang cukup. 

Jika memerlukan tambahan vitamin, dianjurkan untuk dikonsumsi saat sahur. Namun, apabila kandungan vitamin sudah didapat dari makanan maka tambahan suplemen tidak diperlukan. Konsultasikan pada dokter jika ada riwayat penyakit yang mengharuskan Anda mengonsumsi obat selama berpuasa. 

Jadi, jangan khawatir untuk tetap berpuasa selama pandemi ya. Selamat beribadah!

 

 

 

 

 

 

 



Tanya Skata